Mohon tunggu...
Ika Septi
Ika Septi Mohon Tunggu... Lainnya - Lainnya

Penyuka musik, buku, kuliner, dan film.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[RTC] Celeguk!

7 November 2017   15:58 Diperbarui: 7 November 2017   16:18 461
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dan pagi ini sosok yang ia tunggu melintas dihadapannya kembali, memberi senyuman adiktif yang sama manisnya dengan senyum hari kemarin dengan tambahan lirikan genit seakan ingin dicubit. Zo tahu inilah saatnya untuk mulai menancapkan panah-panah asmaranya. Ia tak butuh pertolongan Cupid, Aphrodite, Kama atau Freyr sekalipun, karena para pesaingnya telah mati kutu semua. Peluang Zo untuk mendapatkan Gris terbuka lebar tanpa harus berseru "Open Sesame" seperti di kisah 1001 malamnya Ali Baba.

Semakin Zo dekat dengan Gris, semakin ia tahu bahwa Gris adalah pribadi yang menyenangkan. Rasa sukanya semakin membuncah di dada. Hari-harinya dipenuhi aroma bunga dari buket kembang tujuh rupa. Zo merasa senang karena dapat selalu berdekatan dengan Gris, meskipun hanya duduk diam tak bicara. Gris adalah matahari sekaligus bulan yang kini menerangi setiap langkahnya. Gris adalah obat dietnya karena ia selalu merasa kenyang bila berada disampingnya. Gris adalah dunianya.

Namun semua keindahan rasa yang ia alami saat ini berubah menjadi semacam halusinasi karena untuk kedua kalinya ia harus kehilangan semuanya. Kasih tak sampai membuatnya merana. Merana karena ditinggal pergi pujaan hati yang lebih memilih untuk berkasih-kasihan dengan ayahnya yang telah kembali lagi ke tempat ini setelah ditinggal pergi Ema secara tiba-tiba. Ternyata kharisma sang ayah telah membuat Gris menambatkan jangkarnya dengan segera. Sedangkan Zo tidak memiliki keberanian lebih untuk berkonfrontasi dengan ayahnya bahkan untuk sebentuk cinta sejati yang selama ini ia perjuangkan dengan darah, keringat dan air mata.

Dan yang lebih merana lagi adalah belum usai rasa sakit hatinya, ada sebuah tuduhan tak mendasar dilemparkan kepadanya oleh sebuah suara yang terdengar bagai kilat petir sambar gledek di siang hari bolong.  Suara yang sangat ia kenal, suara sang Maha Tinggi.

"Zooooo, kamu menghamili Gris ya?"

Celeguk!

Zo menelan ludah.

"Zoo...roooo! Awas kamu ya!" Suara itu kembali menampar telinganya nyaring, hujan lokal mirip aliran air terjun Niagara mulai membasahi tubuh kerempengnya.

Zo tak bisa memberitahu sang Maha Tinggi siapa sebenarnya yang telah berbuat, ia hanya bisa lari terbirit-birit sambil menjerit.

"Meeeoooonggg."

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun