“Sadis.”
“Lho, daripada nanti jadi gimana-gimana. Kamu kan tahu Jed gimana. Dia tuh kadang pakai perasaan banget.”
“Bukannya sama dengan kamu?” Nada suara menuduh terdengar dari mulut Shia.
“Sekarang bukan saatnya ngebahas aku,” Nara menjawab dengan ketus. Shia tersenyum.
“Kenapa kamu gak biarin aja, Ra? Jed itu kan sudah besar. Dia pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalau kamu terus ngatur hidup dia, kapan dia bakal tumbuh dewasa.”
“Kalau urusannya dengan cewek, gaklah Shi, aku harus mengintervensi. Cewek itu racun. Kalau kamu sudah masuk ke dalam pusaran kisah percintaan, bakal susah buat mewaraskan pikiran kamu seperti semula,” Nara berbicara dengan berapi-api, ibarat komandan kompi yang sedang memberi pembekalan kepada prajuritnya.
“Cieh, yang pernah punya sejarah dikecewain cewek.” Shia tertawa sambil memasukkan satu sendok bubur kacang hijau yang menurutnya terasa aneh itu ke dalam mulutnya.
Nara terdiam.
***
Udara siang itu terasa sangat panas, sepanas hati Nara ketika melihat adiknya dan Rein tengah bercakap-cakap di bawah pohon pinang yang berdiri tegar di depan areal kantin. Nara tidak mengerti mengapa adiknya itu masih saja berhubungan dengan gadis yang semestinya ia jauhi.
“Ngapain si Jed masih ngobrol sama dia sih?” Nada suara Nara terdengar gusar.