- Latar Belakang Masalah
Saya seorang guru di salah satu Sekolah Negeri, di pinggiran perkotaan, persisnya di belakang komplek pabrik yang terkenal di Jawa Timur.
Alhamdulillah dari tahun 2005 sampai dengan saat ini masih di beri kepercayaan untuk membimbing dan mendampingi siswa kelas 6. Selama pengabdian ini telah mengajarkanku segudang pengalaman baik itu suka maupun duka, dan setiap peristiwa saya lewati dengan bahagia, karena profesi ini adalah pilihan hidup saya, banyak ilmu yang saya dapatkan, banyak teman yang saya temui, membuat saya banyak belajar bagaimana menyikapi setiap persoalan yang saya hadapi terkait dengan profesi saya. Setiap waktu yang saya hadapi dan lewati, dengan menemui berbagai karakter dari peserta didik yang beragam. Hal ini membuat saya bisa mengembangkan wawasan keilmuan terkait bagaimana menghadapi beragam karakter tersebut.
Setiap masalah pendidikan yang saya hadapi selalu berbeda, karena karakter peserta didik yang karakternya beragam antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. tetapi ada satu peristiwa yang sangat menarik bagi saya, seolah-olah menjadi bagian dalam hidupnya.
- Masalah yang saya hadapi, adalah siswa yang Berkebutuhan Khusus
Namanya Anando, semenjak dia pertama kali masuk ke kelas 4 Â di lembaga kami, karena dia siswa pindahan dari kota lain. Dan sekolah kami terdaftar sebagai sekolah inklusif jadi sekolah kami harus bisa menerima dan melayani siswa yang berkebutuhan khusus.
Sejak Anando kelas 4, sering saya perhatikan bagaimana tingkah polahnya, yang kadang marah, menyerang, tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia suka menyerang tiba-tiba ke teman atau bahkan penjaga sekolah. Karena Anando bukan siswa kelas 6, jadi saya hanya bisa melihat dari atas (kebetulan kelas 6 ada di lantai 2). Saya lihat guru kelas 4 dan lanjut di tahun berikutnya kelas 5, memperlakukan Anando seperti anak yang kemasukan jin atau syetan, bahkan ada niatan merukyah Anando. Saya hanya bisa memberi saran ke guru kelas 4 dan 5, bagaimana sebaiknya menghadapi Anando yang berkebutuhan khusus. selebihnya mereka yang tahu kondisi sebenarnya. Yang saya tahu, Anando anak yang baik, dan dia suka main ke kelas saya, ketika waktu istirahat tiba.
Saya pelajari kondisi yang dialami Anando, tapi secara kasat mata saja, karena saya juga di sibukkan oleh kegiatan di kelas.
Tibalah Anando di kelas 6, sebelum ajaran baru tiba, aku pelajari satu persatu, terutama yang istimewa, salah satunya Anando. yang saya tahu Anando mengalami tuna laras yang di tandai dengan perilakunya yang sering bertentangan dengan norma-norma yang terdapat di dalam masyarakat atau lingkungan tempat ia berada. Para ahli hukum menyebutnya dengan Juvenile delinquency. Â Dalam Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1991 di sebutkan bahwa tunalaras adalah gangguan atau hambatan atau kelainan tingkah laku sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. sementara masyarakat lebih mengenal dengan istilah anak nakal.
- Dampak yang diakibatkan dari anak yang mengalami tuna laras.
Dampak yang terjadi, baik dampak akademik, sosial, dan hambatannya. Dampak akademik yang diakibatkan dari kelainan perilaku juga penyesuaian sosial yang sulit, mengakibatkan:
- Pencapaian hasil belajar Anando jauh di bawah rata-rata.
- Sering berurusan dengan Guru atau bahkan berhadapan dengan kepala sekolah.
- Orang tua yang sering di panggil oleh pihak sekolah.
- Atau bahkan timbul masalah antar orang tua siswa.
Dari rentetan peristiwa, yang menurut saya sangat memilukan sekali, ketika dia kesulitan mengendalikan emosi akibat perilaku teman sekolah yang berlebihan terhadap dia, akhirnya dia akan marah, menendang, dan memukul, bahkan berteriak-teriak. Rasa kasihan dan peduli dalam jiwaku berontak, aku seorang pendidik, aku seorang ibu, dan aku seorang wanita dewasa, seharusnya bisa mengatasi ini. Pertama kali yang saya lakukan adalah:
- mengetahui latar belakang orang tuanya, keluarganya, bahkan lingkungan tempat dia tinggal.
- Mengetahui jenis pekerjaan kedua orang tuanya.
- Mengetahui sedikit banyaknya pola asuh dari kedua orang tuanya.
Satu demi satu penyebab atau pemicu Anando berkelakuan khusus bisa saya ketahui, dan saya pelajari satu per satu. Saya dekati orang yang biasa mengantar dan menjemput Anando, tanpa seperti seolah-olah saya menginterograsi, melainkan bertanya secara halus sebagai bahan agar saya bisa menjawab "apa, bagaimana, siapa, dimana, kapan, dan mengapa".
- Apa latar belakang yang membuat Anando bersikap demikian?
- Bagaimana perlakuan keluarga terhadap keistimewaan Anando?
- Siapa saja yang terlibat dalam pengasuhan Anando?
- Dimana dia dan keluarganya tinggal?
- Mengapa Anando bersikap demikian?
Dari jawaban yang saya dapatkan, saya bisa membuat kesimpulan bahwa : Anando mengalami ketunalarasan dalam perilaku, hal ini di sebabkan oleh pola asuh yang tidak sesuai karena ayah dan ibu sering bertengkar, gangguan emosi dimana ia tidak dapat mengendalikan emosi, dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
- Strategi atau pendekatan yang saya lakukan adalah :
- Â
- Karena lembaga kami terdaftar sebagai sekolah inklusif, maka kami harus bisa menerima siswa yang berkebutuhan khusus, kita harus menerima dengan kelapangan jiwa, menjadikan mereka bagian dari sekolah kami, kami tidak membedakan satu sama lain (walau kenyataannya berbeda), Anando selalu dalam pengawasan kami.
- Memberikan pendidikan dan penjelasan kepada semua peserta didik agar tidak membedakan Anando, justeru Anando adalah anak yang istimewa.
- Memanggil kedua orang tuanya agar apa yang diharapkan bisa terwujud, bisa melaksanakan apa yang memang di harapkan oleh kita dan juga Anando, yaitu lingkungan yang bisa menerima dia apa adanya, tidak memicu kemarahan, bahkan menjadikan Anando sebagai pria dewasa yang di hargai.
- Dalam pembelajaran di kelas, saya tidak mengistimewakan Anando, tetapi saya terus memberikan motivasi dengan sering melemparkan pertanyaan, memberikan pujian ketika jawaban Anando benar, atau memberikan semangat ketika jawaban Anando kurang tepat, juga melibatkan Anando dalam setiap kegiatan di kelas, seperti merapikan buku, menghapus papan tulis, dan membersihkan ruangan kelas.
- Bagaimana Hasilnya?
- Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan dan di luar perkiraan saya, karena waktu lebih cepat dari yang saya targetkan. Saya bersyukur kepada Allah karena kebaikan-Nya, saya diberikan kemudahan dalam menangani masalah ini, kerjasama dari orang tua, dan lingkungan baik sekolah maupun lingkungan dimana Anando tinggal sangat membantu sekali. Dengan pengawasan, pendekatan kasih sayang, Anando sudah mengalami kemajuan, Anando sudah pandai mengendalikan emosinya, sudah mau berinteraksi dengan teman sebayanya, sudah tidak usil, bahkan sekarang Anando bisa menyapa kami guru-gurunya, teman-temannya, bahkan orang-orang di sekitar sekolah seperti Pak Satpam dan Bu Kantin. Hasil akademik nya pun Anando sudah banyak kenaikan, berada di atas rata-rata.
- Pesan yang ingin saya sampaikan.
- Â Untuk semua sahabat pendidik dimanapun berada, Anak adalah karunia Allah SWT, anugerah terbaik, anugerah terindah, dimana Allah menciptakan manusia kelebihan dan sekaligus kekurangannya. Janganlah melihat kekurangan seseorang sebagi aib yang harus di jauhi, melainkan kekurangan itu harus kita lengkapi agar dia merasa sempurna, rangkullah dia agar merasa nyaman, karena dia merasa guru adalah manusia sempurna (semua anak beranggapan bahwa guru itu hebat). Semanagt menjadi orang tua kedua bagi anak-anak generasi emas bangsa.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI