“Aih, pinter juga kamu ya, nggak nyangka, sudah bisa nyambung-nyambungin sama inflasi segala. Sudah cantik, sholehah, pinter lagi. Terus apa lagi solusinya?,” tanyaku pendek saja.
Ia tersipu sebentar lalu pura-pura membetulkan letak jilbabnya yang tak menceng itu. “Kemudian, perlu didorong wirausaha percabean. Berdayakan kelompok tani, kelompok wanita tani dan UMKM. Bikin lah sambel botolan, cabe awetan, cabe kering, cabe bubuk dan lainnya. Kasih insentif juga mereka ini. Memang sih, masyarakat belum familiar cabe olahan tapi setidaknya bisa buat subtitusi. Ada alternative, biar kebutuhan cabe segar sedikit turun dan permintaan lebih stabil. Juga bisa membantu saat harga cabe ambruk, bisa dibuat olahan untuk meningkatkan nilai tambah dan masa simpan lebih lama,” katanya.
“Ehm, kamu pantes jadi kepala dinas pertanian sebenarnya lho, analisismu tajam,” kataku.
“Ah, kamu bisa aja,” katanya, tersipu lagi, letak jilbabnya dibetulkan lagi.
“Iya, beneran,” kataku dengan tujuan menambah dia tersipu. “Eh, kembali ke topik, lalu, apalagi?,” tanyaku.
“Hmmh, ini agak klise. Masyarakat sebenarnya bisa ikut serta dalam mengatasi persoalan ini. Apa itu? Begini, dengan manfaatin pekarangan kita sebagai sumber bahan makanan. Tanami sayuran, nggak perlu luas-luas kok kalau untuk kebutuhan sendiri. Pakai pot atau polybag juga bisa, pakai cara budidaya organik lebih sehat. Cabe itu buahnya warna-warni, bisa buat pemanis halaman juga. Itung-itungan Pak Menteri Pertanian kalau jutaan ibu-ibu di negeri ini mau memanfaatkan pekarangan dan menanami sayuran, salah satunya cabe, kelar persoalan cabe di negeri ini. Kalau ada Anies Baswedan yang sukses dengan gerakan Macan Ternak alias Mama Cantik Anter Anak ,coba untuk mengatasi ini Kementerian Pertanian mencanangkan gerakan ‘Mama Nangis’, kan oke tuh,” katanya.
“Apaan tuh Mama Nangis?, “ tanyaku penasaran.
“Ih belum tahu yaa.. telat deh. Mama Nangis itu Mama Cantik Nanem Cengis,” katanya kemudian terkekeh. (Cengis = cabe rawit).
“Hahaha…,” aku ikut tertawa. “Aku juga punya singkatan buat kamu, kamu itu CABE,” kataku.
“Apatuh CABE,” katanya.
“Cewe Alim Berhati Emas… hehe. Kamu itu udah cantik, alim, mandiri, berhati emas lagi,” kataku melanjutkan.