Mohon tunggu...
IDRIS APANDI
IDRIS APANDI Mohon Tunggu... Penulis - Widyaprada Ahli Madya BBPMP Jawa Barat. Penulis 1070 lebih artikel dan 55 buku, trainer menulis, dan mengisi berbagai seminar/ workshop menulis, pendidikan, dan peningkatan mutu guru, baik di daerah maupun nasional.

Penulis 1070 lebih artikel dan 55 buku, trainer menulis, dan mengisi berbagai seminar/ workshop menulis, pendidikan, dan peningkatan mutu guru, baik di daerah maupun nasional.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Nasihat Terbaik Itu Bernama Kematian

17 Juni 2018   09:06 Diperbarui: 17 Juni 2018   09:13 796
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

NASIHAT TERBAIK ITU BERNAMA KEMATIAN

Oleh:

IDRIS APANDI

(Praktisi Pendidikan)

Sabtu, 16 Juni 2018, hari kedua idulfitri, masih dalam suasana hari kebahagiaan menyambut kemenangan. Acara silaturahim pun masih berlangsung. Saya sendiri rencananya mau silaturahim kepada beberapa orang teman yang sudah lama tidak bertemu. Tetapi niat tersebut diurungkan, karena sekitar pukul sembilan pagi saya ditelepon oleh adik saya yang menyampaikan kabar duka bahwa salah seorang tetangga di kampung halaman meninggal beberapa saat yang lalu.

Rencana silaturahim saya batalkan karena bertakziyah lebih penting. Silaturahim bisa dilakukan kapan pun, sedangkan takziyah harus saat itu juga. Sesampainya di rumah duka, saya disambut oleh keluarganya yang sedang berduka. Setelah bertanya tentang perihal kematiannya, lalu saya pun mengambil majmu syarif yang tergeletak dekat jenazah almarhum, lalu berdoa dan membaca surat yasin.

Pada saya sampai di rumah duka, jenazah sudah terbungkus kain kafan, dan keranda jenazah sudah disiapkan di luar rumah. Setelah saya selesai membaca doa, keranda jenazah pun dibawa masuk untuk membawa jenazah ke masjid. Sesampainya di masjid, keranda jenazah pun di letakkan di bagian depan. Sehubungan saat itu waktu duhur, maka para pengantar jenazah dan jamaah lainnya melaksanakan salat duhur berjamaah sebelum melaksanakan salat jenazah. Saya kebetulan didaulat menjadi imam.

Setelah selesai salat duhur berjamaah, dilanjutkan dengan salat jenazah. Sebelumnya ada perwakilan keluarga yang menyampaikan istibra, yaitu semacam pidato permohonan maaf atas dosa-dosa almarhum, minta dibebaskan dari segala kesalahan, dan jika ada urusan utang piutang, bisa diselesaikan melalui ahli waris.

Setelah istabra, dilanjutkan salat jenazah. Saya pun didaulat mengimami salat jenazah. Perkiraan saya yang menyolati lebih dari 40 orang, karena  jumlah jamaah cukup banyak, baik jamaah laki-laki maupun jamaah perempuan, karena dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda, "Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, dan dishalatkan oleh lebih dari empat puluh orang, yang mana mereka tidak menyekutukan Allah, niscaya Allah akan mengabulkan do'a mereka untuknya." (HR Shahih Muslim : 948).

Setelah setelah salat jenazah, saya pun maju sedikit ke dekat keranda jenazah dan meminta kesaksian dari jamaah bahwa almarhum adalah orang Islam, beriman, suka melakukan amal kebaikan, setidaknya dalam pandangan jamaah. Hal ini bertujuan supaya kesaksian tersebut bertujuan untuk membesarkan hati keluarga almarhum yang sedang berduka dan sebagai bentuk salam pelepasan kepada jenazah

Setelah selesai salat jenazah, keranda berisi jenazah almarhum pun dibawa keluar masjid menuju ke liang lahat yang telah disiapkan. Jarak dari masjid ke lokasi sekitar 250 meter. Saya pun ikut mengantar jenazah. Posisi saya berada di belakang orang-orang yang membawa keranda jenazah. Sambil berjalan saya merenung, walau orang punya beberapa mobil bagus, kendaraan terakhirnya adalah keranda jenazah. Mobil-mobilnya tidak ikut mengantar, hanya amal baik atau sedekah yang nantinya menemaninya di alam kubur

Sesampainya di kuburan, saya pun ikut turun ke liang lahat bersama dua orang lainnya. Total di liang lahat ada tiga orang. Tangan kami pun menengadah ke atas dan siap menerima jenazah almarhum sambil mengucap doa bissmillahi 'alaa millaati rasuulillah. Sambil memasukkan jenazah ke liang lahat, saya merenung, seseorang boleh punya banyak pakaian, bahkan yang bagus dan mahal, tapi yang dibawa ke liang kubur hanya tiga lembar kain kafan.

Lalu apa yang mau dibanggakan? Sebentar lagi jenazah akan tertutup padung (kayu atau bambu untuk menutup lubang tempat jenazah), lalu tertutup oleh tanah, suasana pun gelap gulita, sunyi dan sepi. Keluarga, kerabat, dan sahabat yang mengantar pun akan meninggalkan setelah upacara penguburan selesai. Sang jenazah beberapa saat kemudian akan kedatangan dua orang tamu, yaitu malaikat munkar dan nakir yang akan nakon atau bertanya kepada ahli kubur, "siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? Siapa imammu? dan dimana kiblatmu?" kalau bisa menjawab pertanyaan tersebut, maka ahli kubur akan  mendapat nikmat kubur, tapi kalau tidak dapat menjawabnya, maka akan mendapatkan azab kubur. Nauzubillaah.

Jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut tentunya tidak dapat dihapal saat seseorang masih hidup, tapi tergantung amalnya saat hidup di dunia. Jika waktu di dunia taat beribadah, rajin salat, banyak membawa salawat, banyak membaca Alquran, tentunya dia akan dapat menjawab dengan tepat, tetapi jika ketika hidup di dunia jauh dari Tuhan, malas atau jarang beribadah, bagaimana mau menjawab pertanyaan malaikat munkar dan nakir?

Oleh karena itu, sedari kecil, seorang manusia memang harus dididik untuk rajin beribadah baik ibadah mahdah, yaitu ibadah yang langsung kepada Allah (hablumminallah) maupun ibadah ghair mahdah, yaitu ibadah kepada Allah melalui amal kebaikan kepada sesama manusia (hablumminannaas). Tujuan utama dari ibadah tersebut sebenarnya bukan untuk mendapatkan pahala semata, tetapi untuk mendapatkan rida Allah. Selain beribadah dengan ikhlas, umat Islam pun diajarkan untuk senantiasa berdoa agar meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Malam pertama di alam kubur adalah malam yang sangat menakutkan, karena ahli kubur dalam kesendirian harus mempertanggungjawabkan amal perbuatannya waktu hidup di dunia. Oleh karenanya, setelah jenazah dikuburkan, dibacakan talkin  yang merupakan doa pengantar dan "bekal" bagi jenazah dalam menghadapi pertanyaan malaikat munkar dan nakir dan tentunya nasihat bagi yang masih hidup.

Ya Allah.... hati saya meleleh. Saya hari ini ikut mengurusi jenazah. Suatu saat, jenazah saya akan akan diurus. Apa bekal yang sudah disiapkan untuk kehidupan akhirat yang kekal dan abadi? Harta, pangkat, jabatan, popularitas sama sekali tidak akan dibawa mati. Yang akan dibawa mati hanya ilmu yang manfaat, sedekah jariyah, dan doa anak saleh.

Keluarga yang sangat mencintai kita pun hanya mengantaran ke liang lahat,  dan setelah itu pulang meninggalkan jenazah.

Saya terpaku memandangi tanah kuburan yang masih basah sembari memperhatikan satu persatu orang yang meninggalkan kuburan hingga kuburan sepi. Dan saya pun melangkahkan kaki meninggalkan sembari berdoa semoga almarhum diterima iman islamnya, diampuni dosa-dosanya, dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.

Bagi saya, kematian adalah sebenar-benarnya nasihat, karena setiap yang hidup pasti akan mati. Ketika nyawa telah meninggalkan tubuh, maka segala urusan dunia selesai, pintu taubat sudah tertutup, dan berganti menuju kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Ada kalanya seorang manusia lupa dan lalai terhadap tugasnya di dunia, yaitu beribadah kepada-Nya.

Ada kalanya seorang manusia banyak menggunakan waktu hidupnya untuk hal-hal yang sia-sia, menganggap bahwa hidup di dunia masih lama, padahal kematian adalah kapan saja dan dimana saja. Sebuah pepatah mengatakan bahwa hidup di dunia pada dasarnya adalah pengembaraan menuju kehidupan yang kekal dan abadi, yaitu akhirat. Ya Allah, semoga kematian saudara kami menjadi nasihat terbaik bagi kami. Aamiin yra...

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun