Mohon tunggu...
Ibrahim Quraisy
Ibrahim Quraisy Mohon Tunggu... Programmer - Website Developer

Seorang Food Blogger di Foodform-Indonesia yang mencintai makanan lokal Twitter: @bimbaim

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Prahara di Sidney - Salah bercinta

9 Desember 2012   11:44 Diperbarui: 24 Juni 2015   19:57 704
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
13550533631994849734

[caption id="attachment_220543" align="aligncenter" width="600" caption="Sidney"][/caption]

Entah sejak kapan aku melihatnya, pertemuan itu membuatku terpesona. Entah lah, Apakah ini di namakan cinta pada pandangan pertama. Saat itu musim dingin di Sidney, aku kembali dari perpustakaan, tak sengaja terhentak ketika melihat gadis secantik dia, walaupun tidak terlalu tinggi, namun dengan balutan jilbab di kepalanya, dia terlihat anggun, kacamata yang di kenakannya terlihat serasi di wajahnya, apalagi ditambah dengan garis senyuman menghias bbirnya yang hanya beberapa wanita yang beruntung bisa memilikinya.

Sejak pertemuan itu aku selalu terbayang akan sosok bidadari yang sejak tahun 2008 aku melanjutkan S2 di Ausie aku bertekat untuk tidak mempunyai rasa cinta lagi. Yah itulah Aku, Bima Alvin Hanafia, anak bungsu dari keluarga pengusaha otomotif Autonaqi.

Sangat rancu memang nama aku ini, entah sejak kapan orang tua ku memberi nama itu, ketika SD di Makassar orang-orang sering bingung dengan namaku ini, kok ada orang pribumi bernama sok ke bule-bulean. Yah tapi itulah aku, Bima adalah nama pemberian kakek yang di ambil dari salah satu nama legenda pewayangan Jawa, terkadang aku merasa aneh, kok bisa Jawa padahal Kakek aku adalah murni keturunan bangsawan Bugis.

Alvin adalah akronim nama orang tuaku Alif dan Vinanta. Hanafia yang diambil dari nama salah satu Imam fikih islam yang di harapkan menjadi contoh teladan bagiku, tapi setelah beranjak dewasa ayahku memberi tahu nama hanafiah diambil dari salah satu novel kesukaan mama “Titanium”.

Ketika aku tahu, aku pun merengut dan berusaha mencari tahu novel itu, dan sejak itu kesukaan membacaku tumbuh seiring bertambahnya usiaku.

—-o0o—-

Ditahun 2008 aku pun melanjutkan studi di Ausie dengan jurusan teknik informatika di bagian perpustakaan, hingga hari ini dimana aku bertemu dengan sosok anggun di lorong perpustakaan.

Sejak hari itu aku berusaha mengikuti dirinya, kemana pun aku pergi, walaupun aku tahu kedua orang tuaku tidak merestui hubungan aku dengan dirinya. Tapi karena memang sifat ke-Makassaran aku pun berusaha keras menentang perkataan orang tuaku itu.

Aku bukanlah orang sikopat, menurut teman-temanku aku mudah bergaul tapi entah kenapa aku merasa canggung jika hendak berkenalan dengan dirinya. Aku hanya bisa menatap dirinya di balik ke jauhan. Aku takut, darahku mengalir kaku, tapi aku tidak bisa memungkiri aku rindu dan telah Jatuh Hati kepadanya.

Seiring berjalanya waktu, aku pun sudah tidak bisa menahan rasa kerinduanku ini, dan aku tidak bisa berbohong dengan perasaanku ini. Aku adalah anak bungsu dan setiap tingkah laku, perasaan aku selalu curahkan kepada orang tuaku.

Tetapi hanya bentakan dan pukulan dengan perkataan yang aku terima. Sejak aku mengatakan hal ini kepada ibuku, aku dapat kabar kalau Ibu g terima aku menyukai dia dan dia selalu menangis di tiap malam. Sungguh aku pun bingung, apa salahku mencintai Gadis yang aku suka.

—o0o—

Semester tiga beruntung aku bisa bersama dia, waktu itu aku mendaftar kelas kemasyarakatan, subjek wajib di kampus kami, walaupun belakangan ini aku sudah tidak terlalu memikirkan dia, di sebabkan kesibukan aku menyelesaikan tesis.

Tapi hari itu adalah hari lain yang membuat aku bahagia, aku mendapatkan kelompok bareng dengan dia. Aku merasa di surga, aku bahagia. Itu adalah tandanya aku bisa selalu berada di sampingnya.

Dan hari itu pun tiba, untuk pertama kalinya dia menyatakan Hi kepada diriku, dan disaat bersamaan itulah hari ulang tahun dia. Walaupun aku tahu hari bahagia ini aku berusaha untuk mencarikan kado khusus baginya.

Inilah hadiah pertama yang aku berikan kepada perempuan sebuah syal merah muda dengan rajutan beruang kecil dengan senyuman manis di sudut kainya. Aku bahagia dan senang bisa memberikan hadiah itu kepadanya.

Setelah aku memberikan hadiah itu, tanpa disadari dia mencium pipiku sebagai ucapan terima kasih, dan hingga saat ini pipiku belum pernah aku cuci lagi. Tapi di saat bersamaan aku menceritakan kepada ibuku hanya Makian yang aku terima.

“Dasar anak tidak berguna, sudah ibu bilang tinggalkan dia!”

Itulah kata yang sering aku dengar dan terkadang di selingi dengan tangisan, Aku pun terkadang bingung. Apa salahku mencintai dia.

—o0o—

Tapi kalau bukan jodoh mau diapakan lagi, di saat wisuda kami dia memberikan aku undangan pernikahan dia. Bagai disambar petir aku pun meraung sekeras-kerasnya, bertanya kenapa dan kenapa. dia pun ketakutan dan meninggalkan aku dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Aku pun tidak makan sejak itu, sehingga membuat orang tuaku cemas karena aku belum pernah memberi kabar ke Indonesia, sehingga orang tuaku datang langsung ke Ausie untuk menegok keadaanku.

Hati orang tua mana yang tidak sedih melihat keadaan anaknya seperti ini. Aku menceritakan kenapa aku bisa seperti ini.

“Sudah ibu bilang. Ibu tidak suka dengan dia, Kalian tidak akan bersatu”

“Kenapa ma, apakah kita manusia g bisa saling mencintai, itukan kata mama dulu”

“Iya, tetapi..”mama menghela nafas.

“Kamu juga perempuan Bima.”

Aku pun terdiam, memang benar aku Bima Alvin Hanafiah adalah seorang wanita yang telah dihancurkan hatinya oleh banyak pria, dan entah sejak kapan aku menjadi lesbian.

The End

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun