Kami memarkirkan kendaraan di depan rumah warga. Turun dari mobil kemudian menyebrang jalan masuk ke sebuah lorong yang menanjak. Nafasku hampir putus.
Sebuah bangunan tiga lantai masih belum rampung. Bahkan warna cat dinding pun belum merata.
Laila, seorang Q Grader; penilai kopi berjalan terlebih dulu mendekati pintu berwarna putih bergagang karat, saya berhenti sejenak memandang bangunan itu.
"Yuk masuk!" suaranya memecah keheningan ku.
Sama sekali tidak ada nuansa kalau tempat yang saya datangi ini merupakan sebuah kedai kopi yang fancy seperti tren anak muda kekinian saat ini.
Bagaikan masuk ke sebuah kasino dengan membawa sekoper uang untuk dihabiskan di tempat tersebut. Tertulis kecil di pintu masuk nama "Beskabean Coffee Roastery".
Itulah pertama kali saya menikmati secangkir Arabika Semendo yang diseduh oleh Hendra Susanto.
Tren Bisnis Kopi dan Perkembangannya
Minum kopi sudah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup. Jumlah kedai kopi di Palembang terus tumbuh menjadi bisnis yang menggiurkan seperti cendawan di musim hujan. Dalam satu bulan bisa tumbuh 3 hingga 5 kedai kopi dengan berbagai konsep yang diusung.
Dari 6 dari 10 orang pemilik kedai kopi yang saya tanyakan, hampir rata-rata mereka memiliki pangsa pasar tersendiri.
Mulai dari penikmat yang menggunakan alat seduh hingga kopi kekinian yang menggunakan susu. Dan, mayoritas memang anak-anak muda yang menyerap pasar kopi ini. Sehingga sangat wajar kalau kedai kopi mulai menjamur di tengah tantangan bangkit kembali dari pandemi.
Meraup Cuan Petik Merah Bisnis Kopi
Aroma biji kopi tercium jelas di kedai ini tak pernah berhenti. Pembelinya bukan hanya ke konsumen melainkan ke kedai kopi lainnya.
Di Palembang, hanya hitungan jari jumlah kopi roastery; tempat yang mengolah kopi mulai dari biji kopi mentah hingga menjadi kopi siap untuk dipasarkan kembali.
Mendengar kisah titik balik hidup Hendra mengawali usaha kopi bermodal 880 ribu membuat saya berdecak kagum.
Kami mengobrol mengenai kelezatan kopi arabika Semendo yang digunakan oleh sebagian kedai kopi Palembang. Harga jual pun bervariasi mulai dari 80 ribu hingga 4 juta rupiah per ukuran.
Semendo merupakan kawasan dataran tinggi yang berada di Sumatera Selatan. Terletak di daerah pegunungan Bukit Barisan dan merupakan salah satu daerah penghasil kopi Arabika yang telah diakui indeks geografisnya (single origin).
Karakter kopi Semendo memang unik memiliki karakter karamel, coklat dan gula merah. Bagi penikmat pertama kali akan merasa kurang enak, tapi racikan dari Beskabean ini bisa membuat rasa asam menjadi enak sehingga bisa dengan mudah diterima oleh konsumen.
Proses roasting kopi masih dipegang oleh Hendra, karena saat diserahkan ke orang lain, rasanya akan berbeda. Perlu memperhatikan suhu, waktu kadar air dan sebagainya.
Sejalan dengan keinginannya agar kualitas yang diberikan ke pelanggan adalah yang terbaik. Tentunya saya makin dibuat penasaran mengikuti kisahnya.
Memandang Sejuta Dolar dari Atas Rooftop
Pengunjung yang datang ke kedai kopi ini bukan hanya sekadar menikmati kopi saja, melainkan sambil mempelajari kopi. Saya pun mendapatkan pengalaman mengenai bisnis kopi dari perspektif baru.
Lantai satu digunakan untuk menggoreng kopi serta berbagi dengan bar. Sementara lantai dua digunakan untuk laboratorium kopi tempat Hendra mengasah sensori dan menghasilkan citarasa kopi.
Dan, lantai paling atas disulap menjadi tempat kekinian berupa rooftop yang menjadi tempat berkumpul anak muda menikmati kopi Arabika Semendo sambil memandang ikon kota Palembang, Jembatan Ampera. Seperti yang saya bilang kalau datang ke Beskabean seperti datang ke kasino untuk melihat pemandangan sejuta dolar.
Siapa yang tidak tertarik untuk datang ke tempat menarik, dengan harga kopi yang terjangkau. Mulai dari 10 ribu hingga 21 ribu sudah bisa menikmati kopi lokal enak?
Berkembang dan Turut Sejahterakan Petani Lokal
Potensi ekonomi biji kopi Arabika Semendo luar biasa. Inilah yang ditangkap oleh Hendra saat mengajak investor masuk untuk mendukung usaha petani. Bukan hanya di hulu tapi juga dari hilir.
Saat budaya ngopi telah menjadi gaya hidup saat ini dengan dilihat menjamurnya kedai kopi. Hendra menawarkan kemitraan bagi investor yang mana saling berkaitan. Terdiri dari petani, rumah roastery dan investor untuk memasarkan produk.
Hingga kini Beskabean sendiri sudah melebarkan sayap bermitra dengan beberapa kedai kopi lain dan membuat nama baru yaitu Tebing Senja yang berkonsep rooftop. Semua penggunaan biji kopi dipasok oleh Beskabean.
Sayangnya, awal pandemi usaha kedainya sempat mengalami penurunan omzet hingga 30%. Penurunan ini membuat pelaku bisnis mulai berpikir untuk mencari cara agar bisnisnya bisa bertahan.
Di Beskabean, saya melihat bagaimana proses penyortiran green bean pilihan; biji kopi yang siap digoreng sampai ke kemasan. Menggoreng biji kopi membutuhkan waktu yang tidak sebentar sekitar 45 - 55 menit. Semua proses harus ditunggu untuk memastikan kualitas.
Saya menyadari bahwa Hendra telah mengemas kopi Semendo agar terlihat menarik di mata konsumen. Ia pun mulai memberanikan diri untuk masuk ke marketplace dan memasarkan produk secara digital saat awal pandemi 2020 kemarin.
Dalam pemasarannya, ternyata tiga bulan pertama dia melakukan promosi secara online. Kini dalam satu bulan dia bisa menjual 1 ton hingga 1,5 ton, yang ditunjukkan oleh Hendra lewat bukti omset yang diperoleh dari marketplace.
Angka fantastik! Saat semua bisnis tiarap tetapi bisnis kopi milik Hendra malah kian tumbuh pesat.
Faktor Pertumbuhan Kedai Kopi
Kebiasaan nongkrong sambil ngopi mendorong pertumbuhan bisnis kedai kopi saat ini di Indonesia.
Setidaknya ada 4 faktor yang mendorong pertumbuhan bisnis kedai kopi. Dari hasil pengamatan, termasuk Hendra Susanto yang membeberkan langkah berhasilnya.
Kedua, dominasi populasi pengunjung kedai kopi saat ini adalah dari kelompok generasi Y dan Z yang akhirnya menciptakan gaya hidup baru dalam mengonsumsi kopi. Para anak muda yang addict terhadap kafein rasanya kurang pas saat bekerja atau nongkrong tanpa ada secangkir kopi.
Ketiga, kehadiran media sosial yang semakin memudahkan bisnis kedai kopi melakukan aktivitas marketing dan promosi sehingga mendatangkan trafik tinggi.
Terakhir, hadirnya teknologi online seperti platform untuk memesan kopi secara online akhirnya memudahkan proses penjualan para pemilik kedai tanpa perlu tatap temu. Semua dilakukan oleh jasa pengiriman.
Pesanan Melonjak Butuh Bantuan Pengiriman
Pandemi membuat transformasi digital sektor industri dan UMKM semakin cepat. Sama seperti aktivitas masyarakat yang mulai berjalan, kedai kopi kini juga mulai perlahan bangkit.
Di area belakang dekat mesin penggiling, Hendra memiliki orang yang dipercaya bertugas mengemas pesanan kopi. Walau suhu di ruangan cukup panas, raut wajah orang yang senang bekerja bisa tergambar.
Beskabean dapat bertahan pada masa sulit di awal pandemi. Mereka tetap bisa buka kedai dari pagi hari, di saat kedai kopi lain baru buka di sore hari. Kunci dari bisnis ini adalah bagaimana beradaptasi dengan situasi.
Meski kini Beskabean sudah memasarkan produk lewat online, penjualan Beskabean masih didominasi sekitar 65% penjualan offline, sisanya 35% secara online.
Hal ini sangat wajar karena tingkat pemahaman masyarakat untuk menikmati kopi sudah meningkat. Orang-orang mulai menyetok kopi untuk dinikmati di rumah. Tanpa repot datang ke kedai, tinggal membeli sendiri lewat marketplace. Dan dikirim langsung oleh kurir pada hari itu juga, khususnya wilayah Palembang.
Dukungan Logistik Aman dan Handal
Perkembangan ekonomi digital belakangan ini ternyata membawa dampak positif terhadap sektor logistik. Kita merasakan bahwa perpindahan barang dari produsen ke konsumen membutuhkan peran logistik yang efisien sekaligus tepat waktu.
Salah satu layanan logistik yang dipercaya oleh Beskabean untuk mengantarkan paket kopi adalah JNE yang menjangkau hingga pelosok Nusantara.
Dalam dunia bisnis, selain mengedepankan sumber daya manusia juga perlu didukung teknologi guna menjaring pengembangan pengiriman ke para konsumen.
Hendra mengakui kemudahan yang diberikan oleh JNE sangat mendukung UMKM agar meningkatkan jual-beli online. Paling dirasakan adalah jaringan layanan pengiriman ekspres sehingga dapat memangkas waktu pengiriman sampai konsumen.
Dukungan lain untuk UMKM dari JNE di antaranya digital payment, potongan ongkir, cashback, dan beberapa program lainnya.
Saya pun bertanya, apakah selama ini Hendra memiliki keluhan selama menggunakan JNE, "Tidak pernah ada keluhan," jawab Hendra yang hampir merata paketan selalu pengiriman melalui jasa JNE.
Sejalan dengan visi Kadin 2022 adalah fokus membantu UMKM bertransformasi ke basis digital. Selain cepat pengiriman, terjamin keamanan paket adalah keharusan. Pembeli tetap dapat menikmati gaya hidup masa kini dengan ngopi.
Kehadiran JNE di tengah masyarakat, makin membantu semua jenis bisnis terutama bagi UMKM. Sebab, bagi pelaku UMKM tentu sangat membutuhkan pelayanan secara maksimal dalam pengiriman paket barang.
Pelupuk Fajar Harapan
Selain mensejahterakan para petani lokal, Beskabean sendiri juga berkembang pesat. Saat ini Beskabean juga telah membuka 5 cabang yang tersebar di Palembang. Bahkan, produknya pun telah dikirimkan ke Singapura, Malaysia dan Australia.
Kini Beskabean tidak hanya memiliki koleksi kopi Arabika Semendo. Masih banyak pilihan biji kopi lokal lainnya hingga Geisha Panama yang merupakan biji kopi impor. Penikmat kopi yang datang ke Beskabean memang menjadi beragam. Mereka mendapatkan kebahagiaan dari secangkir kopi sesuai dengan tagline JNE yaitu connecting happiness.
Masa pandemi seperti sekarang ini Hendra pun berharap JNE dapat terus menyambungkan kebahagiaan ke semua pihak, khususnya di wilayah Palembang.
Pandemi tidak boleh membuat kita menyerah dengan keadaan, melainkan menjadi pemicu untuk lebih bersemangat mengembangkan usaha yang kita miliki memanfaatkan teknologi tepat sasaran.
Kalau kalian datang ke Beskabean Coffee Roastery, cicipilah es kopi Triple Creamy dengan rasa keju. Terbaik!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI