Pembuat teori konspirasi mencocokkan skenario dengan cara yang cacat logika. Biasanya ini adalah hal kecil tersembunyi sehingga terlewat dari pengamatan kritis masyarakat. Kecelakaan pengeboran Lapindo Brantas di Porong yang mengakibatkan semburan lumpur dicari cari peristiwa tanggal itu untuk dicocok cocokan. Gempa di Jogja yang jaraknya cukup jauh dijadikan alasan untuk ngeles. Karena tanggalnya cocok, maka dibuat teori konspirasi bencana alam untuk kasus Lapindo ini. DPR yang sudah kongkalikong menyetujui teori gempa ini, mengakibatkan kerugian bencana menjadi tanggung jawab negara. Implikasinya uang rakyat dipakai mengatasi kecelakaan kerja Lapindo.
Masyarakat termakan teori konspirasi akan berubah tidak percaya kepada pemerintah. Inilah yang diharapkan oleh penggagas teori konspirasi. Social media adalah medan tempur tersendiri mengikuti terjadinya teror Sarinah. Berbagai teori konsprirasi untuk menjelekkan pemerintah dimasukkan di sini. Sekalian juga untuk menutupi keterlibatan golongan. Beberapa orang yang tidak waspada akan menggunakan potongan teori konspirasi ini untuk analisanya. Mereka2 ini akan termakan umpan yang diberikan oleh kelompok teroris. Teori konspirasi semakin berlipat konyolnya dengan analisa baru berdasarkan data yang disupply teroris.
Terlihat dari munculnya beberapa teori konspirasi ini merupakan industri yang terorganisir. Para pembuatnya bisa bekerja berdasarkan order. Anggota tim akan ditugaskan mencari data yang bisa dicocok cocokkan untuk mendukung teori konspirasi. Kualitas teori konspirasi bisa dinilai seberapa meyakinkan teorinya. Ini artinya harus bagus menyembunyikan bagian bagian yang dibengkokkan. Pembuat teori konspriasi harus berpengetahuan luas, sehingga bisa membuat teori konspirasi kelas kambing yang mudah dipatahkan. Kadang kadang teori konspirasi yang dihasilkan berkualitas rendahan, asal memenuhi pesanan.
Jaman media digital sekarang ini tidaklah mengherankan teori konspirasi disebarkan melalui internet. Masyarakat akan mudah membaca publikasinya. Dengan mudahnya menyebar lewat internet, berarti juga mudah sampai ke tangan pembaca kritis. Counter attack dari pembaca yang mengerti bisa mematahkan teorinya. Bantahan ini bisa menjadi bumerang bagi pihak yang merilisnya. Alih alih mendapat keuntungan dengan serangan ini, organisasi ini mendapat stigma negatif dengan kredibilitasnya.
Ke depan nya, teori konspirasi ini masih akan menjadi pilihan menarik untuk menyerang. Mudah membuat, mudah publish nya. Masing masing pihak harus pintar pintar untuk mengelolanya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H