Mohon tunggu...
Mohammad Herdianto
Mohammad Herdianto Mohon Tunggu... Administrasi - Bukan jurnalis, hanya suka menulis

PNS (Pegawai Nyekel Sapu)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Haruskah Anak Menjadi Korban?

14 Mei 2018   13:05 Diperbarui: 14 Mei 2018   14:39 1852
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi anak. Sumber: popsugar.com

Baik dan buruk perkembangan pemikiran seorang anak adalah tergantung dari bagaimana cara orang tua memberikan pendidikan sejak dini kepada anaknya. Merupakan hal yang sangat wajar, ketika anak  yang masih berusia bawah lima tahun ( balita ) sering atau banyak bertanya kepada orang tua, menanyakan hal apa yang baru saja sedang dilihatnya.

Hanya bisa terdiam, dan tak berani ikut bicara, Melihat seorang anak bertanya, "Ayah, tadi ada bom di surabaya, adek lihat di tv , tapi kok nggak ada superheronya ya yah?" tanya salah seorang anak teman saya, kepada ayahnya.

Dengan raut muka yang terlihat sedikit kebingungan untuk menjawab, ayahnyapun menjawab, "Iya dek, itu baru latihan pembuatan film superhero, superheronya masih di rumahnya, belum datang."

Hal itu salah satu bukti, bahwa anak akan menanyakan hal yang mereka lihat, entah apa yang mereka lihat secara langsung maupun yang mereka lihat dari media.

Anak-anak belum mengerti apa itu terorsisme, yang mereka tau hanyalah ketika ada bom maka disitu akan ada superhero yang datang.

Dan yang menjadi pertanyaannya adalah, haruskah anak-anak tau apa itu terorisme? Bagaiamana perkembangan mental mereka ke depannya, jika tau bahwa negara saat ini sedang gencar-gencarnya aksi terorisme di beberapa tempat dan beberapa korbannya pun juga anak-anak.

Lalu bagaimana nasib dari salah satu anak dari anggota kepolisian yang baru saja lahir bertepatan saat sang ayah gugur dalam tugasnya ketika terjadi kerusuhan para napi teroris di mako brimob kemarin: bagaimana sikap mereka saat dewasa nanti - -ketika mereka tau bahwa sang ayah adalah korban dari bentuk terorisme?

Terlebih lagi, menurut informasi dari beberapa berita yang beredar,  aksi terorisme yang terjadi di beberapa gereja di surabaya kemarin pelakunya adalah satu anggota keluarga. Hal ini lebih mengherankan lagi, kenapa anak yang tak berdosa justru dilibatkan di dalam bentuk aksi terorisme?

Dan yang terkahir , hal membuat hati saya semakin tak karuan adalah saat melihat vidio singkat aksi terorisme dipoltabes surabaya, dimana dalam vidio tersebut menayangkan penyelamatan seorang anak dari dalam mobil , tepat disamping lokasi peledakan bom yang dilakukan oleh si teroris.

Mungkin memang sudah banyak pembahasan antara anak dan terorisme,  namun hal yang sangat mengganjal pikiran saya adalah , kenapa? dimana saat ada aksi terorisme pasti di situ ada anak-anak didalamnya.

Entah sebagai korban aksi terorisme, atau anak dari korban atau pelaku aksi terorisme, termasuk pula mereka yang tau dari sebuah media pemberitaan, bahkan yang lebih parahnya lagi adalah anak yang justru dijadikan pelaku dari aksi terorisme itu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun