Begitu juga di Final Piala Eropa 2012, Spanyol bertemu Italia lewat sebuah pertandingan yang “menarik”. Spanyol dengan gaya sepakbola tiki-takanya kembali menang dengan skor telak 4-0. Mereka membuktikan bahwa kala itu (di dunia ini) sudah tidak ada ruang lagi untuk bermain dengan gaya-gaya defensif.
Tapi harus diingat bahwa apapun didunia ini tidak ada yang kekal dan abadi ,sebuah kejayaan juga memiliki masa dan eranya masing-masing. Kekalahan Spanyol 0-3 dari Brazil di final Piala Konfederasi 2013 menjadi pertanda bahwa siklus kejayaan Spanyol sudah menurun, Berikutnya ditambah lagi dengan kekalahan mengejutkan 0-1 dari negara sekelas Georgia (peringkat ke 118 Dunia) yang terjadi hanya enam hari sebelum ajang pesta Piala Dunia mini atau Piala Eropa ini berlansung, tentu akhirnya banyak menimbulkan pertanyaan seperti apa kualitas tim dan gaya permainan yang akan ditampilkan Spanyol pada Euro 2016 lalu itu.
Salah satu bukti dari ketidak berdayaan pemain-pemain Spanyol saat memainkan pola yang sudah menjadi mashab mereka itu adalah terlihat ketika saat mereka melawan Italia kemarin di Euro 2016 lalu. Tentu awalnya banyak yang menyangka mereka (Spanyol) akan mengeluarkan gayanya seperti yang sudah-sudah dan akan mengurung Italia dengan umpan-umpan pendeknya, namun diluar dugaan hal sebaliknya terjadi Italia yang memainkan sistem blokade rantai dan mengandalkan serangan balik. Itu membuat Spanyol kewalahan dan kocar kacir meladeni permainan Italia tersebut.
Italia tampil dengan strategi yang mematikan hasil dari racikan Antonio Conte yang terbukti mampu mengekspos kelemahan Spanyol. Mereka seperti kebingungan melihat gelombang serangan Italia. Bahkan sampai seorang Andres Iniesta pemain dengan segudang pengalaman itu nyaris tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Kekalahan Spanyol 0-2 dari Italia itu bukan hanya sekadar menjadi kekalahan biasa, tapi sudah menjadi kekalahan sebuah gaya/pola bermain. Harus diakui bahwa siklus tiki taka sudah tamat permainan defensif mulai merangsek kembali mengambil peran di percaturan sepakbola dunia. Piala Eropa 2016 menjadi bukti.
Dengan kekalahan itu dapat dikatakan bahwa takdir sudah mengharuskan Spanyol pulang lebih awal dari seharusnya, Spanyol harus rela mahkota juara Eropa yang berhasil mereka raih secara berturut-turut (2008 & 2012) dicopot dengan mudahnya. Seperti yang dikatakan Gerard Pique“Semuanya dimulai dan diakhiri saat melawan Italia. Kami bukan lagi yang terbaik. 2008-2016”. dan menambahkan "Kami harus menjalani evaluasi besar-besaran, terutama dalam hal gaya bermain,”serta “Kami tak lagi memiliki level seperti yang kami punya beberapa tahun lalu. Kami terlalu bertumpu pada nama besar dan masa lalu kami. Kini, kami bukan lagi yang terbaik.”akhirnya memang harus diakui bahwa takdir pun sudah menentukan batas waktu bagi sang mitos sebuah titik dimana mereka harus berhenti ……….. Adiós, matador.
Salam Olah Raga.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H