Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Buku
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Penulis Buku | Digital Creator | Member of Lingkar Kajian Kota Pekalongan -Kadang seperti anak kecil-

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menuju Indonesia BarBar

2 Januari 2020   19:13 Diperbarui: 2 Januari 2020   19:10 438
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pada esai saya yang dulu membahas Arteria Dahlan, saya menyinggung masalah anger management atau kontrol emosi yang tidak dikuasai oleh AD. Sebenarnya bukan hanya Arteria yang kesulitan mengontrol emosi, banyak orang di seluruh dunia juga mengalami hal yang sama. 

Namun pada esai kali ini saya akan membahas kontrol emosi dalam masyarakat Indonesia, dan, bagaimana bisa ketidak-mampuan dalam mengontrol emosi itu justru menjadi identitas bangsa Indonesia.

Goleman (1997) mendefinisikan anger management sebagai kemampuan untuk mengatur perasaan, menenagkan diri, melepaskan diri dari kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan dengan tujuan untuk keseimbangan emosi. 

Secara umum, anger management adalah suatu tindakan untuk mengatur pikiran, perasaan, nafsu, amarah,  dengan cara yang tepat dan positif serta dapat diterima secara sosial, sehingga dapat mencegah sesuatu yang buruk, atau sesuatu yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Setidaknya ada dua aspek yang mempengaruhi emosi, yaitu keluarga dan lingkungan sosial.

Tentu sudah bukan hal yang tabu lagi, banyak orangtua yang memarahi anaknya karena hal yang sepele. Para orangtua gampang sekali marah karena kenakalan anaknya, bahkan banyak di antara orangtua yang melakukan kekerasan secara fisik kepada anak mereka karena hal yang sepele. 

Masalah kenakalan anak, sebagai orangtua seharusnya jangan memberikan reaksi yang berlebihan seperti memukul atau menendang, karena sejatinya, kenakalan anak berbeda dengan kenakalan orang dewasa. 

Anak kecil belum paham apakah yang mereka lakukan tepat atau tidak, benar atau salah. Peringatan yang pas kepada anak haruslah berupa lisan, tetapi jangan sampai membentak karena anak-anak alam bawah sadarnya masih kuat dan hal itu akan berdampak jangka panjang dalam kehidupan mereka. 

Para orangtua yang merasa anaknya "nakal" harus bisa menciptakan sebuah diskusi, obrolan santai, sehingga anak bukan hanya diberikan peringatan tetapi juga problem sloving. 

Hal seperti diskusi yang dibiasakan sejak dini akan berpengaruh terhadap mental serta daya berpikir anak pada masa yang akan datang. Jangan sampai karena hal yang sepele, anak mengalami trauma pada memori mereka karena mendapatkan kekerasan verbal atau non verbal.

Aspek lingkungan sosial juga sering kita temui, misalnya dalam hal bertetangga. Pada aspek kali ini saya akan memberi contoh dari Ibu saya sendiri yang tidak bisa mengontrol emosi karena perbuatan yang dilakukan oleh tetangga saya. Ceritanya waktu Ibu saya sehabis pulang dari pasar guna kebutuhan bisnis kuliner, setibanya di depan rumah, Ibu saya langsung emosi mendapati lumpur saluran irigasi yang berada tepat di depan gerbang rumah saya. 

Sontak saja, Ibu saya langsung memarahi tetangga saya yang biasa membersihkan saluran irigasi dan memindahkan lumpur irigasi yang ada di depan rumahnya ke depan rumah saya. 

Ibu saya langsung melabrak tetangga saya dan terjadi adu mulut. Anak dari tetangga saya yang merasa tidak enak dengan perbuatan Ibunya, seketika langsung membersihkan lumpur irigasi yang dilempar ke depan rumah saya. Sebenarnya hal sepele seperti itu bisa dibicarakan secara baik-baik tanpa perlu emosi, namun karena kurangnya kontrol emosi dari Ibu saya, akhirnya terjadi keributan dan berakhir dengan umpatan dari Ibu saya ke tetangga saya.

Pada contoh yang kedua bisa kita lihat betapa faktor "marah" menjadi salah satu faktor yang menyumbang dalam kontrol emosi. "Marah" sendiri memiliki dua tipe, yaitu anger in dan anger out. Anger in mengarah ke dalam yang bisa mengakibatkan depresi, sedangkan anger out mengarah ke luar yang bisa mengakibatkan permusuhan.

Dalam dunia psikologi sendiri ada banyak terapi anger management, salah satunya adalah berpikir dahulu sebelum berbicara. Nah, masalah "berpikir dahulu sebelum berbicara" ini merupakan hal yang penting dalam menyikapi berbagai fenomena yang terjadi di media sosial. Tentu kita sering menemukan akun-akun di media sosial yang langsung marah atau menghujat hanya karena melihat judul berita tanpa membaca isi dari berita itu. Netizen Indonesia banyak yang kurang dalam kontrol emosi, sehingga sering sekali terjadi perdebatan di media sosial. 

Bahkan, ketidak-inginan untuk mencari tahu lebih dalam lagi menjadi penyumbang terbanyak dalam penyebaran konten hoax. Terlebih, dalam musim politik yang sebenarnya sudah usai tapi masih saja 'dieksiskan' oleh kedua kubu yang menjadi rival.

Secara tidak sadar, kurangnya kontrol emosi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia menjadikan sikap bar-bar sebagai identitas baru bagi bangsa Indonesia. politik, sepak bola, pemerintahan, musik, rasanya semua aspek kehidupan masyarakat di Indonesia tidak lepas dari percekcokan. Dan yang lebih parah, persoalan itu juga merambat ke masalah SARA. 

Semua elemen masyarakat, dari sipil biasa, artis, akademisi, politikus, pejabat, tokoh agama, semuanya terlibat dalam pergulatan kontrol emosi yang menjadi identitas baru bagi bangsa Indonesia.

Tingkat literasi Indonesia sendiri berada di peringkat buncit, ditambah lagi dengan kemalasan masyarakat Indonesia untuk mencari tahu lebih dalam lagi sehingga bisa terhindar dari konten bermuatan provokasi dan hoax.

Dalam mengusung revolusi mental ala Jokowi, seharusnya pemerintah bisa lebih jeli dalam melihat sikap yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia, terutama dalam hal anger management. 

Rasanya revolusi mental akan menjadi gagasan hoax jika pemerintah mengabaikan disiplin ilmu utama dalam gagasan itu, yaitu tentang mental yang pasti berkaitan secara langsung dengan psikologi.

Untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas di Indonesia, hal pertama yang harus diubah adalah pola pikir masyarakat Indonesia. Dengan dibangunnya pola pikir yang baik, lambat laun akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan untuk perkara ini seharusnya pemerintah tidak pelit dalam menggelontorkan anggaran demi terciptanya iklim bermasyarakat yang lebih baik lagi. 

Kualitas sumber daya manusia sangat berkaitan dengan pembangunan pola pikir, yang tentunya dunia psikologis haruslah berperan aktif dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. 

Semua orang, tidak memandang apa latar belakang mereka, juga harus bisa memberikan edukasi kepada siapapun yang dirasa lemah dalam kontrol emosi. Membangun sebuah bangsa yang beradab, berkualitas, tidak cukup jika yang melakukan hanya satu atau dua orang.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun