Oleh : Hidayatullah*
Hari ini, Senin (11/04/2022) adalah hari dimana aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) bakal menggelar unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta. Aksi ini sudah diumumkan jauh sebelumnya oleh para mahasiswa baik melalui media sosial maupun berita-berita pada media massa online, cetak maupun elektronik. Â Diperkirakan sekitar ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia akan ikut berunjuk rasa. Aksi BEM SI ini tidak hanya dilakukan di ibu kota Jakarta tetapi digelar diseluruh wilayah Indonesia.
Aksi unjuk rasa atau demonstrasi dari BEM SI telah menyiapkan sejumlah tuntutan aspirasi kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). BEM SI juga menegaskan bahwa aksi unjuk rasa yang akan dilakukan bukan untuk menuntut Jokowi mundur dari kursi Presiden. Aksi ini sebagai momentum penyampaian aspirasi kehendak rakyat Indonesia dengan enam rumusan tuntutan yang akan disampaikan, seperti dikutip dari berita Kompas.com (10/04/2022), berikut ini :
Pertama, meminta Presiden untuk bersikap tegas menolak dan memberikan pernyataan sikap terhadap penundaan Pemilu 2024 atau masa jabatan 3 periode. Menurut BEM SI wacana itu sangat jelas mengkhianati konstitusi negara.
Kedua, menuntut dan mendesak Jokowi menunda dan mengkaji ulang Undang-Undang Ibu Kota Negara (UU IKN), termasuk pasal-pasal bermasalah dan dampak yang ditimbulkan dari aspek lingkungan, hukum, sosial, ekologi, politik, ekonomi dan kebencanaan.
Ketiga, mendesak dan menuntut Jokowi menstabilkan harga dan menjaga ketersediaan bahan pokok di pasaran.
Keempat, mendesak dan menuntut Jokowi mengusut tuntas para mafia minyak goreng dan mengevaluasi kinerja menteri terkait.
Kelima, mendesak dan menuntut Jokowi menyelesaikan konflik agraria di Indonesia.
Keenam, menuntut dan mendesak Jokowi-Maruf Amin berkomitmen penuh menuntaskan janji-janji kampanye pada sisa masa jabatan.
Gelaran aksi demonstrasi kali ini dikenal dengan istilah "Gerakan 114" yang mendapat apresiasi luas dari khalayak publik (rakyat Indonesia) dimana mahasiswa menemukan momentum gerakannya kembali sebagai agen of sosial control. Mahasiswa menegasikan posisi moral force-nya sebagai oposisi kontrol atas berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap situasi kesulitan ekonomi yang dirasakan rakyat secara keseluruhan.
Tak dapat dipungkiri harga kebutuhan pokok sudah begitu mahal dengan kenaikan yang hampir semua merata, ditandai dengan awal mula kelangkaan minyak goreng, lalu kenaikan harga BBM jenis pertamax yang akan menyusul kemudian jenis pertalite. Sementara BBM jenis premium sudah hilang dari pasaran dan pasokan pertamina disetiap pom bensin.