Akhirnya ayah membelikannya es krim sebagai penutup acara di taman bermain. Lalu mereka pulang dan istirahat di ruang duduk. Anak itu tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.
Dia bertanya ragu-ragu, “Ayah, apakah…”
Ayahnya menatapnya lalu tersenyum, “Ya, apa?”
“Apakah.. Apakah nilai matematikaku bagus?”
Ayahnya tersenyum lagi, “Tidak, nak. Nilai matematikamu tidak sebagus nilaimu yang lain. Dan gurumu menulisnya dengan tinta merah.”
“Lalu kenapa ayah mengajakku ke taman bermain?” wajah gelisahnya berubah bingung.
“Apa yang kamu rasakan selama di taman bermain tadi? Senang?” ayah balik bertanya tanpa menanggalkan senyum di wajahnya.
Anak itu menggeleng, “Tidak sesenang biasanya. Aku bingung dan gelisah selama di sana, Yah. Aku tidak tahu apa maksud ayah mengajakku ke sana sementara…” Dilihatnya wajah ayahnya yang masih tersenyum lalu dilanjutkannya ucapannya, “Sementara aku yakin nilai matematikaku tidak bagus.”
“Pergi ke taman bermain itu memang hukuman untukmu,” ujar ayah.
“Karena nilai matematikaku tidak bagus?”
“Bukan. Tapi karena kamu tidak mengatakan sejak awal pada ayah bahwa kamu punya kesulitan dalam matematika. Sekaligus sebagai permintaan ma’af karena seharusnya ayah lebih memperhatikan belajarmu, tidak langsung puas mendengar kamu berkata bahwa kamu sudah bisa.”