Di tempat saya tinggal misalnya, karena dirasa sudah mengganggu masyarakat yang lain, pemerintah daerah sampai mengeluarkan surat edaran Bupati yang membatasi operasional lapo tuak sampai dengan Pukul 21.00 wib. Hal ini bertujuan agar aktivitas lapo tuak jangan sampai mengganggu jam istirahat dari masyarakat sekitar. Dan apabila ada lapo tuak yang melanggar surat edaran dimaksud, maka pemerintah kecamatan akan melakukan tindakan penutupan usaha.
Terlepas dari sisi positif dan negatif yang ditimbulkan, lapo tuak juga menerapkan prinsip tolong menolong. Karena si pemilik lapo tuak juga memperbolehkan konsumennya untuk kasbon atau utang baik itu minum teh, kopi, tuak maupun rokok.
Bahkan karena banyaknya kasbon atau utang dari konsumen, ada sebagian pemilik lapo tuak menutup usaha lapo tuaknya karena tidak lagi punya cukup uang untuk membeli persediaan rokok, teh, kopi, dan tuak karena utang yang belum terbayar. Dan kita bisa bilang, lapo tuak cukup berjasa kepada bapak-bapak atau pun pemuda yang menikmati sajian minuman dan tambul namun bisa kasbon/utang.
Namun, itulah potret yang menggambarkan bagaimana masyarakat suku batak yang ada di huta (desa/kampung), menjalani aktivitas nya sehari-hari. Lapo tuak bagi mereka adalah ruang untuk berekspresi dari semua beban masalah yang menghimpit.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H