Mereka punya firasat, bahwa mimpi itu merupakan pertanda dari kemarahan Ki Sardodok yang melihat keturunannya menjadi kelompok masyarakat pengecut, tidak bisa berbuat apa-apa ketika utusan dari kecamatan datang memerintahkan agar pedukuhan Klampok dikosongkan.Â
Warga dukuh Klampok memang hanya diam ketika berhadapan dengan utusan dari kecamatan. Mereka diam karena merasa takut. Mereka takut karena mereka menyadari siapa mereka sebenarnya. Mereka adalah keturunan buronan kerajaan. Cerita "Sukab" memiliki relasi dengan situasi dalam negara Indonesia Orde Baru yang selalu memelihara ketakutan-ketakutan (seperti yang dialami warga Klampok). Para keturunan "buronan kerajaan" atau dalam konteks Indonesia Orde Baru keturunan "pengkhianat bangsa", diberi status sebagai warga "tidak bersih lingkungan".Â
Dengan status ini, mereka diminta menyadari apabila termarginalisasi dalam atau oleh apa yang dinamakan pembangunan. Ambruknya Sukab di akhir cerita merupakan simbol kekalahan rakyat dalam mengadakan perlawanan terhadap pembangunan yang terkadang terasa absurd. Cerpen "Sukab" merupakan pasemon terhadap  pembangunan Indonesia Orde Baru, yaitu tragedi Sampang, Madura. Bedanya, kalau warga Klampok melakukan perlawanan di alam mimpi, warga Sampang melawan aparat  dengan parang di dunia nyata. Kedua perlawanan itu berakhir dengan kekalahan: Sukab ambruk, beberapa warga Sampang tewas tertembus peluru.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H