Nada Demokrasi itu
Nada demokrasi itu menggema,
mendayu-dayu dari ruang-ruang para akademisi
meraung-raung pada hamparan cakrawala
mengaum di antara celah bukit dan gunung
menjerit manakala melintasi selat dan tanjung
Politikus gaek berteriak di pentas berakhlak mulia
kaum elit turut meneriakkan yel-yel kedahsyatan moral
memproklamasikan kemegahan dan kekukuhan hukum
menyisakan legacy keharuman semu dalam nada sumbang
terbahak di singgasana kemuliaan ketika lawan tumbang
Kaum limited duduk terpekur di kolong kemaksiatan nilai
membawa tangan bertadahmohonkan kepedulian rahmat
menelisik ujaran janji pada bibir bergincu kemewahan semu
di sana ada bunyi dan getaran berlain-lainan dengan wujudnya
padahal kaum limited terus meradang pada etika kaum elit
Nada demokrasi itu bergema,
tampillah kaum muda pesorak warnanya
membentang aksara ukuran besar, siapa menggubris?
menghadapkan corong beraliran kritik, mana menoleh?
pulanglah kamu ke dalam bilik berbayarmu, menyesallah!
akh...
Nada demokrasi itu
akan terus menggema dan mengalun
relung hati berakhlak mulia memuat varian kecerdasan
benak mengukir moral sambil meniti etika kemuliaan
hendak membawa bangsa menuju kemaslahatan
Siapakah yang akan mewujudkan visi bangsa ini?
Politisi?
Birokrat?
Teknokrat?
Konglomerat?
Pengusaha?
Profesional?
Akademisi?
Mahasiswa?
Pelajar?
Nitizen?
Kaum tani-nelayan?
Kaum buruh-pedagang kaki lima?
Mari berefleksi... .
Heronimus Bani
Umi Nii Baki-Koro'oto, 27 Maret 2024
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H