Mohon tunggu...
Roni Bani
Roni Bani Mohon Tunggu... Guru - Guru SD

SD Inpres Nekmese Amarasi Selatan Kab Kupang NTT. Suka membaca dan menulis seturut kenikmatan rasa. Menulis puisi sebisanya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Gratis Tentu Cuma-Cuma Tanpa Harga, Bukan?

25 Februari 2024   19:19 Diperbarui: 25 Februari 2024   19:28 133
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Semakin orang dikasih gratis semakin mentalnya jatuh, semakin gak ada harga diri." (Rocky Gerung)

Presiden Republik Indonesia ke-8 belum ditentukan lewat pengumuman Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat. Hingar-bingar berita tentang Presiden hasil Quick Count menampilkan janji politik prioritas yakni Makan Siang dan Susu Gratis. Sangat disayangkan. Presidennya baru hasil Quick Count belum resmi, namun tagihan janji politik pun dimulai.

Menariknya, mereka yang berdiri di balik janji politik Makan Siang dan Susu Gratis muncul ke publik dengan pernyataan superman bahwa pilot projectnya sudah mulai dijalankan di Sukabumi (baca di sini). Program ini terasa berat namun akan berdampak luas pada perputaran ekonomi di tingkat usaha mikro dan UMKM dan perbaikan gizi. Pilot project ini akan menyasar 3.500 murid sekolah. Sayangnya, tidak dijelaskan untuk berapa lama percontohan ini berlangsung. 

Sementara itu mungkin saja Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sangat bernafsu mewujudkan makan siang gratis. Makan siang gratis diluncurkan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Linus Lusi. Peluncuran program makan siang gratis dengan mengambil lokasi pada SMA Negeri 1 Amarasi Barat Kabupaten Kupang (baca di sini). 

Dalam suatu percakapan melalui aplikasi WhatsApp seorang guru pada SMA Negeri  1 Amarasi Barat Kabupaten Kupang, justru merasa risih dengan istilah makan siang gratis yang dikebut Dinas P & K Provinsi NTT. Mengapa? Makanan yang tersedia, justru orang tua murid yang menyediakan. Pejabatnya datang dari kota untuk berpidato menyanjung-nyanjung program makan gratis; yang sebetulnya makan bersama karena mereka membawanya dari rumah masing-masing. Tidak ada gratisnya. 

Tidak ada seorang pun pejabat level tengah ke bawah dari Dinas P & K Provinsi yang berkunjung sebelumnya untuk memberikan santunan agar ada persiapan makan bersama yang katanya gratis itu.  Apakah program ini berlanjut sesudah diluncurkan? Siapa yang menjamin ?

Gratis...

Kata ini sudah naik kelas sejak masa kampanye pasangan calon presiden/calon wakil presiden. Bila kata ini disematkan para program apapun, maka akan mendapatkan perhatian dari pendengarnya atau penontonnya. Program yang ujungnya gratis pun akan diseriusi sehingga orang akan "berdesak-desakan" untuk menjadi bagian yang terdaftar. 

Gratis...

Tentulah bukan cuma-cuma dari produsennya. Produsen manakah yang akan memberi secara gratis alias cuma-cuma? Kiranya ada produsen yang dapat memberikan secara gratis ~ cuma-cuma relatif tidak secara reguler, namun insidentil. Bila itu terjadi, dipastikan menjadi suatu keterkejutan pada komunitas penerimanya. Kira-kira para penerima akan berkata, "Tumben, sering-sering kali, ya!"

Pada program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Bantuan Sosial (Bansos), Program Keluarga Haraapan (PKH) dan lain-lain program yang menyasar masyarakat kelas bawah yang katanya di bawah garis kemiskinan, program itu terlihat baik dari sisi ekonomi. Sungguh disayangkan bila dilihat dari sisi karakter anak bangsa; karakter pejuang menjadi lembek; pekerja keras menjadi pengulur tangan. 

Program Indonesia Pintar pada semua jenjang hingga perguruan tinggi. Justru program ini yang kiranya terlihat sukses. Penerimanya merasa sungguh-sungguh digratiskan bahkan berlebih untuk kebutuhan pembiayaan pendukung pendidikan. Mereka yang menerima PIP dan KIP Mahasiswa justru mengejar masa studi agar tepat waktu sehingga mendapatkan keuntungan dari program ini. Di sini ada daya juang yang dipertaruhkan. Maka, PIP dan KIP Mahasiswa telah membangun jiwa dan daya  siswa dan mahasiswa untuk giat dalam belajar dengan mempertimbangkan penggratisan oleh negara. Ia menikmati gratis namun sesungguhnya negara membayar harga dan nilai.

Sekadar membayangkan makan siang dan minum susu gratis ala Prabowo-Gibran tentu tidak perlu skeptis karena di dalamnya ada para pakar. Mereka  mewacanakan institusi baru yang khusus menangani program unggulan ini. Wao... bukankah hal ini akan makan waktu? Institusi atau kementerian baru akan memakan waktu pembentukannya, pengangkatan pejabat di tingkat pusat hingga daerah bahkan sampai di desa/kelurahan? Suatu jenjang dan rentang kendali yang sangat panjang, sementara program ini prioritas (baca di sini).

Gratis tentu cuma-cuma tanpa harga, bukan? Tidak! Gratis pun ada harga yang harus dibayar. Tidak disebutkan sesuatu yang gratis dalam hal materil tanpa harga yang harus dibayar? 

Gratis, mungkin pada udara yang dihirup? Tetapi, udara segar untuk kehidupan pun kini mulai terancam dengan polusi. Tidakkkah udara sedang mahal ketika polusi terjadi? Maka, udara yang gratis pun sudah mahal.

Kini, makan siang dan minum susu gratis bukan saja wacana, tapi telah dimulai percontohannya sebagaimana pemberitaan media-media daring.  Dikabarkan akan mengerahkan tiga puluh dua ribu desa untuk mendukung program ini. Desa-desa yang dikerahkan tentulah berharap agar "kantong" desa terisi, tidak gratis. 

Kantong desa terisi dengan menerima dampak dari program makan siang dan minum susu gratis. Hal yang demikian sudah ada dalam kalkulasi tim kerja yang sedang bersiap-siap melakukan "tendangan bola pertama" pada program makan siang dan minum susu gratis ini.

Kita sungguh berharap agar program ini  tidak mubazir. Menggratiskan itu tidak selalu ada jaminan kualitas pelayanan, dan kualitas material yang diterima.

Satu-satunya susu gratis tanpa imbalan yakni Air Susu Ibu (ASI). Maka, tidak baikkah mengkampanyekan untuk menyusui sampai batas maksimal sesuai ketentuan menyusui anak? Mengapa bukan ASI yang dikampanyekan, bukankah zaman telah menggeser praktik menyusui dari ibu-ibu kepada bayi yang semestinya masih menyusui?

Mohon maaf untuk artikel iseng ini.

Umi Nii Baki-Koro'oto, 25 Februari 2024

Heronimus Bani 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun