JURNAL ILMIAH
TEOLOGI MISI KONTEKSTUAL BERDASARKAN 1 KORINTUS
Nama: Hermanus Adok
MK: TEOLOGI MISI KONTEKSTUAL
NIM: S2.IV-18022
Â
Abstrak:
Paulus merupakan misionaris tersukses dan terbesar dalam sejarah Kekristenan, pelayanan penginjilannya meliputi wilayah yang luas, sehingga Paulus bertemu dengan berbagai kelompok masyarakat multikultural abad pertama. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian metode penginjilan rasul Paulus dalam perspektif 1 Korintus 9:19-23 terhadap masyarakat multikultural abad pertama dan implikasinya terhadap penginjilan masa kini.
Melalui penelitian ini penulis berusaha menjawab permasalahan penelitian dengan mencari sumber-sumber literatur yang berkorelasi dan relevan dengan masalah penelitian. Pendekatan tematis dan eksegesis digunakan untuk mendeskripsikan landasan teologis-historis metode penginjilan Rasul Paulus dalam perspektif 1 Korintus 9:19-2, selanjutnya mendeskripsikan implikasinya terhadap penginjilan masa kini di Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa metode penginjilan kontekstual "menjadi sama seperti" yang digunakan Paulus pada masyarakat multikultural abad pertama sangat relevan untuk diterapkan dalam penginjilan pada masa kini.
Hal ini perlu dilakukan dalam rangka menjalankan Amanat Agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:18-20, agar semua suku bangsa (etnis) mendengar Injil keselamatan dan menjadi murid Tuhan Yesus Kristus.
Â
Kata Kunci: Teologi Misi Kontekstual Dalam 1 Korintus
Â
PENDAHULUAN
Misi merupakan pesan Allah kepada umat-Nya, khususnya orang-orang percaya dan yang terpanggil dalam pekerjaan-Nya yang mulia, yaitu mengabarkan Kabar Baik (Injil). Karena itu, gereja harus berperan serta dalam panggilan tersebut. Yang dimaksud gereja disini adalah orang-orang percaya (ekklesia), dan termasuk juga gereja sebagai suatu lembaga. Rasul Paulus adalah salah satu tokoh Kekristenan yang paling berpengaruh dalam periode penting sejarah Kekristenan (Seesengood 2009). Paulus adalah pionir penginjilan sekaligus misionaris yang pertama dan yang paling berhasil dalam sejarah Kekristenan sebagaimana tercatat dalam narasi kitab Kisah Para Rasul. Pengaruh besar Paulus dalam penginjilan tentu tidak terlepas dari faktor perubahan radikal yang dialami oleh Paulus. Paulus sebelumnya adalah tokoh penting yang mengintimidasi dan menganiaya orang Kristen mula-mula agar Kekristenan saat itu tidak berkembang.
Paulus mendapatkan surat kuasa dari Imam Besar di Yerusalem untuk dibawa dan diberikan kepada majelis-majelis agama Yahudi di Damsyik sebagai dasar legalitas menangkap dan membawa orang-orang Kristen di Damsyik ke Yerusalem untuk diadili dan dihukum. Namun dalam perjalanan menuju Damsyik Paulus mengalami perjumpaan secara supranatural dengan Yesus Kristus yang membuat Paulus bertobat seketika itu juga. Korintus dikenal sebagai kota maksiat yang penuh dengan penyembahan berhala dan perbuatan mesum. Namun di tengah keadaan itu, rasul Paulus dapat melakukan pendekatan sehingga di daerah ini boleh berdiri jemaat Kristus. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah secara kontekstualisasi.
Panggilan Paulus untuk melakukan penginjilan tidak hanya terbatas kepada orang-orang Yahudi tetapi juga kepada orang-orang non-Yahudi (Stowers 2010). Panggilan inilah yang kemudian memotivasi Paulus untuk melakukan tiga kali perjalanan penginjilan lintas wilayah. Rute perjalanan penginjilan Paulus mencakup wilayah yang sangat luas secara geografis dan hal ini berimplikasi terhadap beragamnya kultur masyarakat yang ditemui Paulus diberbagai daerah yang dilalui dapat menjangkau dan menyampaikan Injil secara efektif terhadap masyarakat yang multicultural, Paulus menggunakan metode pendekatan yang dituliskannya dalam 1 Korintus 9:19-23 (Purdaryanto 2020). Berdasarkan fakta-fakta sejarah dalam kitab Kisah Para Rasul dan surat-suratnya, metode penginjilan terhadap masyarakat multikultural yang dilakukan Paulus di abad pertama sangat efektif karena banyak orang yang menjadi percaya, juga banyak gereja lokal berdiri di kota-kota yang dijangkau melalui penginjilan Paulus (Pervo and III 1999). Metode penginjilan Paulus ini tentu penting untuk dikaji dan dipahami agar dapat diterapkan dalam kontek penginjilan di pada masa kini.
METODE
Metode penelitian yang pakai oleh penulis dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (literatur study). Untuk menemukan strategi misi Paulus dalam 1 Kor. 9:19-23, maka penulis menggunakan metode Hermeneutik Alkitab. Menurut Bakhtiar dan Ria, studi pustaka adalah mencari data dan informasi yang berkaitan dengan topik, membaca teori-teori dari buku-buku, jurnal ilmiah, dan literatur lain yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.[1] Studi pustaka ialah mencari data-data dan informasi yang berkaitan dengan topik, dari buku-buku, jurnal ilmiah dan juga referensi serta artikel yang berhubungan dengan topik. Karena teks Alkitab yang dipakai maka menggunakan metode hermeneutik Alkitab.Â
Â
Menurut Sutanto metode hermeneutik Alkitab ialah sebuah upaya dalam menjelaskan, menerjemahkan, menganalisa serta menginterprestasi teks-teks yang terdapat pada Alkitab sehingga memudahkan para pembaca untuk memahami teks tersebut.[2] Nainggolan berpendapat hermeneutik yang baik harus disertai dengan eksegesis yang benar sebab tanpa eksegesis yang baik maka hermeneutik akan menjadi subjektif.[3] Dapat disimpulkan metode hermeneutik Alkitab adalah menjelaskan, menerjemahkan menganalisa teks-teks yang akan dibahas dan disertai eksegesis yang benar dengan cara mempertanyakan bahasa, gaya tulisan, sintaksis, konteks sejarah, geografis, penulis dan bentuk sastra yang terdapat dalam teks atau nats Alkitab yang akan digali.
Â
Â
Â
PEMBAHASAN
Â
Pengertian Teologi Misi Kontekstual.
Â
Memahami istilah teologi misi adalah bagian mendasar untu masuklebih dalam lagi mengenai tentang esensi teologi misi. Isteilah teologi misi tidak saja menjadi Batasan misi itu bekerja, tetapi juga menjadi penazaman akan esensi, karakter, dan kekuatan nilai-nilai teologi misi.
Â
- Teologi
Â
Kata teologi dalam Bahasa Yunani yaitu teologia, istilah teologia berasal dari gabungan dua kata "theo (-Allah)" dan logos (-logia-logika)". (kata-kata, catatan, ucapan, dan wacana). Jadi arti dassar teologi adalah catatan atau wacana tentang para dewa atau Allah. Dengan demikian teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama. Teologi Kristen adalah keyakinan bahwa Allah bertindak atau berfirman, secara khusus dalam nama Tuhan Yesus yang mengenapi perjanjian dengan umat Israel[4]. Henry C. Thiessen Mengatakan dengan demikian secara sempit teologi dapat didefenisikan sebagai ajaran tentang Tuhan. Namun dalam artiannya yang lebih luas dan lebih umum istilah teologi kemudian berati seluruh ajaran Kristen, dan bukan sekedar ajaran Tuhan saja, tetapi juga semua ajaran yang mengenai hubungan yang di pilihara oleh Tuhan dengan alam semesta ini[5]. Hal ini berati ilmu teologi secara kritis meninjau praktis dan misi gereja dalam terang kebenaran firman Allah[6].
Â
Â
- Misi
Â
Misi missio dalam bahasa latin apostello dalam bahasa Yunani berarti mengutus seseorang atau suatu benda untuk pergi kata mengutus dalam PL ditemukan sebanyak 700 kali dan di PB 131 kali bahkan tercatat di dalam 4 injil dan kisah para rasul kata mengutus sebanyak 116. Istilah misi berasal dari kata dasar mission pemberitaan biasa disebut misionaris atau misionary dari kata Injil euvaggellion(utusan Injil dan kata sifat misionaris atau misioner) atau wujud sikap pekabaran Injil Allah adalah pengutus agung disebut misioner Matius 28 ayat 19 sampai 20. David bosch mengatakan bahwa Iman percaya pada hakekatnya berisi misioner kepercayaan. Hendrik kraemer mengatakan bahwa misi berarti terpanggil untuk tugas perintisan baru.
Â
Teologi Misi
Â
Brunner berpendapat tentang teologi misi yaitu bahwa gereja ada karena misi seperti halnya api ada karena pembakaran.[7] Gereja ada karena jemaat yang bermisi. Identitas jemaat adalah jemaat yang mengginginkan dan memuji-muji Dia (Mzm. 107:32), di atas batu karang Yesus akan mendirikan jemaat-Nya dan alam maut tidak akan menguasainya (Matius 16:18) Jemaat adalah tempat demokrasi pengangkatan pemimpin (Kis. 6:5; 6:9; 15:12).[8]Â
Â
Salah Satu aspek misi yang paling mendasar dari teologi misi ialah teologi wajib merealisasikan Alkitab dengan teori dan praktik misi[9]. Alkitab lah yang menentukan misi karena Alkitab adalah buku misi Alkitab adalah sumber dan arah teologi misi percaya artinya Alkitab lah yang menentukan arti dasar maksud, tujuan, motif, berita, metode, dan strategi Iman percaya ahli kitab mengajarkan bahwa misi adalah prakarsa dan milik Allah bukan gereja tujuan misi tidak terletak pada tujuan gereja tetapi pada kehendak dan kemuliaan Allah pusat dan berita misi ialah Tuhan Yesus sedangkan objek misi adalah bangsa-bangsa yang diciptakan oleh Allah.
Â
Dengan demikian teologi misi berarti berbicara tentang Allah karena segala sesuatu dimulai dari Allah kejadian 1:1, misi dimulai dari inisiatif Allah sebab segala sesuatu berasal dari Allah Teologi misi berkaitan dengan tiga wilayah studi sebagai berikut pertama teks yaitu studi mengenai dasar-dasar Alkitab mengenai misi kedua komunikasi yaitu studi mempelajari mengenai pandangan teologi misi yang dipegang oleh komunitas orang percaya ketiga konteks yaitu studi mengenai wilayah aplikasi misi dalam konteks tempat dan waktu yang khusus[10]
Â
Â
MENGENAL KOTA KORINTUSÂ
Â
Pelayanan dan kunjungan rasul Paulus ke kota Korintus dikisahkan dalam Kisah Para Rasul 18:1-7. Perjalanan ke kota ini dilakukan setelah kunjungannya ke Atena, Yunani (Kis. 18:1). Perjalanannya ke kota ini termasuk bagian dari perjalanan penginjilan kedua rasul Paulus, yang diperkirakan pada tahun 49 52. Di Korintus, Paulus bertemu pasangan suami istri, yaitu Akwila dan Priskila, yang berasal dari Pontus (nama Priskila merupakan bentuk akrab dari Priska). Suami istri ini juga baru datang dari Italia. Mereka terpaksa keluar dari Italia karena ada perintah dari kaisar Kladius, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma (Kis. 18:2), yang diperkirakan tahun 49. Korintus adalah ibukota Akhaya, yang menjadi pusat perdagangan yang ramai dengan segala kemungkinannya. Kota Korintus merupakan kota Yunani kuno yang terletak di genting tanah yang bernama sama, yang berada di ujung barat Isthmus, di antara Yunani pusat dan Peloponesus, yang menguasai jalur perdagangan antara Yunani utara dan Peloponesus, dan melintasi Isthmus.
Â
Karena letaknya yang strategis, Korintus menjadi saingan bagi pusat-pusat kota lainnya di Yunani, seperti Athena, Thebes, dan Sparta bahkan sejak lama penduduk Korintus saling bermusuhan dengan penduduk Athena. Pada awalnya, Yunani berada di bawah kekuasaan Makedonia. Orang-orang Yunani kehilangan kemerdekaannya pada tahun 338 SM. Melihat wilayah Korintus yang strategis ini sehingga kota ini dijuluki sebagai Pasar Negara Yunani. Paulus mendengar kabar buruk mengenai jemaat di Korintus, yang mungkin dari Timotius. Ia segera ke Korintus.
Â
Kunjungan ini sangat menyakitkan setiap orang Paulus. Paulus harus bertindak tega ia Kembali ke Efesus lalu menulis surat yang penuh keprihatinan untuk mereka Â
(2Kor. 2:4). Titus membawa surat itu ke Korintus. Paulus memutuskan untuk segera bertemu lagi dengan Titus. Ia ingin tahu segera keadaan jemaat Korintus. Paulus dan Titus bertemu. Titus mengabarkan bahwa jemaat Korintus menyambut surat yang penuh keprihatinan seperti yang diharapkan Paulus[11]
Â
Â
Strategi atau pendekaran Pelayanan Misi kontekstual Rasul Paulus Berdasarkan I Korintus 9:19-23.
Â
Pendekatan misi yang dilakukan oleh Paulus adalah secara kontekstualisasi, yaitu menyesuaikan diri dengan adat setempat. Lima kali di dalam nats ini (1Kor. 19:19-23) Dalam ayat 19:19-23, terdapat strategi atau pendekatan Paulus untuk mencapai tujuannya. Supayan dapat memenangkan sebanyak mungkin orang yang ada di kota korintus dan sekitarny, Paulus menjadi seperti orang Yahudi bagi orang Yahudi, menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat bagi mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, menjadi seperti orang yang hidup tidak dibawah hukum Taurat bagi mereka yang hidup tidak di bawah hukum Taurat, dan menjadi seperti orang yang lemah bagi mereka yang lemah. Kata "menjadi" pada ayat 20-22. (1Kor. 19:19-23) menegaskan bahwa ia menjadi seperti suku atau golongan yang ingin dimenangkannya. Ia tidak menjadi sama dengan mereka, tetapi menjadi seperti mereka. Terhadap orang Yahudi ia berlaku seperti orang Yahudi, terhadap orang Yunani ia berlaku seperti orang Yunani, dan terhadap orang lemah ia berlaku seperti orang lemah. Rasul Paulus selalu menyesuaikan diri dengan konteksnya supaya pelayanannya tetap relevan dan dapat memenangkan dan menyelamatkan banyak jiwa.
Â
Hal ini dilakukan Paulus sebagai usaha untuk memahami orang lain di dalam integritas injil dan bukanlah suatu ketidakkonsistenan. Bagi Paulus, di tengah-tengah orang yang memiliki karakteristik khusus seperti orang-orang Yahudi itusangat sulit tetapi karena injil ia lakukan itu supaya injil dapat diberitakan kepada orang-orang yang ada di korintus. Maka ia mengatakan lebih baik menjadi seperti orang-orang yang dilayani. Kata "menjadi seperti" bukanlah memfotocopy. "Seperti", itu sama dengan mirip, tapi tetap saja berbeda[12] Pada ayat 20, dikatakan bagi orang Yahudi Paulus menjadi seperti Yahudi.Â
Â
Hal Ini menunjukkan bahwa Paulus memposisikan diri bukan sebagai orang Yahudi meskipun Paulus adalah keturunan Yahudi. Tetapi sejak menerima Yesus, Paulus adalah ciptaan baru dan menjadi pengikut Kristus dan bebas dari tuntutan hukum Taurat. Meskipun Paulus adalah orang Yahudi sejak dia menjadi pengikuti Kristus dia tidak lagi perlu menjalani kehidupan Yahudinya seperti yang dahulu. Sebelum ia menjadi pengikut Kristus. Sedangkan untuk orang Yunani, Paulus membagi menjadi dua, yaitu orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat atau proselit dan orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.[13]Â
Â
Dan Paulus pun menjadi seperti orang yang dilayani supaya orang-orang Yunani ini percaya pada injil. Bukan hanya orang Yahudi dan Yunani, tetapi juga kepada orang yang lemah pun Paulus melakukan hal yang sama. Orang-orang yang lemah di sini adalah orang-orang belum percaya yang memiliki status sosial yang rendah. Disinilah terlihat dengan jelas bahwa kebebasan Paulus dari keterikatan dengan manusia mengijinkannya untuk melayani sebanyak mungkin orang. Walaupun Paulus telah menyebut dirinya adalah orang yang bebas tetapi dia tetap memiliki keterikatan dengan hukum Kristus (1 Kor 9:21).
Â
Pernyataan ini disampaikan Paulus berdampingan dengan frasa "orang-orang yang hidup tidak dibawah hukum Taurat." Hal ini dinyatakan supaya tidak ada kesalahpahaman dari jemaat di Korintus tentang "Paulus menjadi seperti mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat." Isu hidup tanpa moral dapat menterjemahkan kata anomoi yang dipakai oleh Paulus, padahal maksudnya tidaklah demikian. Oleh karena itu hidupnya ada di bawah hukum Kristus.
Â
Rasul Paulus merincikan beberapa contoh, di mana ia menjadikan diri hamba dari semua orang. Dan Ia menyesuaikan diri dengan semua jenis orang, sebagai berikut:
Â
Tidak Menjadi Ekslusif dan Menutup Diri (1 Kor 9:19-20)
Â
Dalam ayat 19, yang berbunyi sebagai berikut: "aku menjadikan diriku hamba bagi semua orang." Meskipun Paulus menjadikan dirinya seorang hamba dalam ayat 19, sebenarnya Paulus sedang menyesuaikan atau menyamakan dirinya dengan orang-orang yang sedang ia layani. Hilyer mengatakan bahwa Paulus melakukan sikap tersebut sebagai kerendahan hati yang sederhana sebagai seorang rasul[14]. Baxter mengatakan bahwa hal itu "merealisasikan dirinya sendiri". Tomatala mengatakan bahwa Inkarnasi kenotis Paulus menjadi dirinya seorang hamba.[15]Â
Â
Ketika Paulus melakukan dirinya sebagai seorang hamba. Hal itu menunjukkan perubahan sikapnya dalam melayani. Karena Paulus ingin memisahkan jurang pemisah antara orang-orang kaya dengan hamba yang ada dalam jemaat Korintus (1 Kor 4:6-21)[16] Karena di jemaat Korintus ada pengelompokkan yang terjadi oleh karena itu Paulus ingin hal itu tidak terjadi lagi. Dalam ayat 20, bagi orang Yahudi dan orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat. Paulus menjadi seperti orang Yahudi, supaya Paulus dapat memenangkan orang Yahudi tersebut.
Â
Dalam pelayanan Paulus jelas sekali bahwa Paulus orang terbuka dan tidak eklusif. Hal itu Paulus lakukan agar ada perubahan yang terjadi di antar jemaat. Sehingga mereka tidak lagi terikat dengan kebudayaannya tetapi mereka berusaha mengikuti apa yang dianjurkan oleh kebenaran firman Tuhan dan perintah dari Tuhan Yesus. Sehingga ada kesatuan diantara jemaat meskipun mereka dari berbagai golongan. Hal itulah yang hendak Paulus maksudkan ketika dia tidak eklusif dalam pelayanannya terhadap orang-orang Korintus.
Â
Â
Tidak Menjadi Egois (1 Kor 9:21)Â
Â
Paulus dalam ayat 21, mengatakan, "bagi orang yang hidup diluar hukum Taurat, sekalipun aku hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus." Paulus ingin mengatakan bahwa ia sedang melayani Yunani (kafir). Karena orang Yunani tidak mau mempercayai hukum Taurat dan mereka juga bukan orang Yahudi.[17] Paulus mengabaikan wewenangnya sebagai seorang rasul dan orang Yahudi30 dan mau bergaul hidup dengan orang-orang Kafir. Bahwa hal itu sangat berlawanan sekali dengan sifat yang dianut oleh orang-orang Yahudi pada umumnya. Namun Paulus menyesuaikan diri dengan orang kafir. Supaya dengan begitu prasangka dan cara berpikir orang-orang tersebut. Bisa diubahkan dan konsep mereka yang suka memandang semua orang sama. Meskipun setiap orang berasal dari suku yang sama sebenarnya pola pikir dan moral setiap pribadi orang berbeda-beda. Meskipun ada juga kesamaannya. Sepanjang Paulus melakukan kebiasaan mereka tanpa melanggar sesuatu yang dapat membuahkan dosa. Paulus akan mengikuti kebiasaan mereka itu. Jika kebudayaan mereka berhubungan dengan hal mistis maka ia berhenti untuk mengikuti kebiasaan mereka.Â
Â
Karena tolok ukur pelayanannya ialah firman Allah.[18] Paulus tidak menjadi egois, karena Paulus sendiri diselamatkan oleh kasih karunia Allah. Bahkan Paulus sendiri mengatakan sebagai berikut: "celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil (1 Kor. 19:16), karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani (Rm. 1:16)." Karena Injil sangat berharga bagi Paulus sehingga ia rela dan siap menjadi apa pun jika itu demi Injil dan hal itu tidak bertentangan dengan firman Allah. Selain Injil sangat berharga bagi Paulus oleh karena itu bertanggung jawab untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang lain (belum percaya kepada Yesus).
Â
Â
Tidak Membeda-bedakan Orang Berdasarkan Latar Belakang Maupun Status Sosial (1 Kor. 9:22)
Â
      Dalam ayat 22, berbunyi "bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah." Rasul Paulus menjadi seperti orang yang lemah, supaya dapat menyelamatkan orang-orang yang lemah (1 Kor. 9:22). Paulus melakukan hal tersebut agar di jemaat Korintus tidak terjadi kesenjangan antar jemaat. Paulus tidak memandang rendah atau menghakimi orang-orang tersebut. Justru Paulus menjadi seperti salah seorang dari orang-orang tersebut. Dengan sabar Paulus menggunakan kebebasan untuk kepentingan orang-orang tersebut.
Â
Dan berhati-hati supaya jangan sampai meletakkan batu sandungan di jalan orang-orang tersebut.[19] Paulus tidak membeda-bedakan orang berdasar latar belakang dan status, meskipun jemaat-jemaat Korintus melakukan hal itu. Selain Paulus memberikan nasihat dan teguran kepada jemaat di Korintus. Karena jemaat di Korintus terdiri dari berbagai suku bangsa. Agar jemaat-jemaat yang ada di Korintus tidak lagi berkelompok-kelompok sesuai dengan suku dan bangsanya. Seharusnya orang Kristen itu tidak memandang suku dan bangsa karena semua orang sama dimata Tuhan.Â
Â
Dan hal itulah yang ingin Paulus tekan kepada jemaat di Korintus.
Â
Salah tujuan dari misi dalam pelayanan Paulus dengan pendekatan secara kontekstualisasi ini adalah supaya ia dapat memenangkan sebanyak mungkin orang kepada Kristus. Yang tidak boleh dilupakan dalam pendekatan secara kontekstualisasi adalah tolok ukurnya ialah firman Allah. Walaupun pendekatan Paulus luwes sekali, namun ia memiliki suatu tolok ukur. Ia peka terhadap kebudayaan, tetapi tunduk kepada firman Allah. Sekalipun ia menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat, ia tetap hidup di bawah hukum Kristus. Hukum Kristus, firman Allah, merupakan tolok ukur baginya.
Â
Firman Allah adalah wewenang tertingginya. Meskipun ia harus menyesuaikan diri, ia juga menguji segala sesuatu dengan firman Allah supaya Injil yang disampaikan itu tetap murni. Untuk itu, diperlukan akan pengajaran firman Allah yang lebih matang kepada jiwa-jiwa yang sudah dijangkau itu, supaya dapat bertumbuh dan berakar, yang akhirnya menghasilkan buah. Dalam pelayanan misi, mau tidak mau, pemberitaan firman (khotbah) atau pengajaran itu sangat penting, khususnya bagi petobat-petobat baru.
Â
Â
KesimpulanÂ
Â
Dalam pelayanannya kepada orang Yahudi, rasul Paulus belajar untuk patuh pada tata cara dan kebiasaan, dan adat istiadat orang Yahudi sejauh ia dapat melakukannya dengan hati nurani yang murni dan damai dalam hati (Rm. 9:3; 10:1). Kerinduan dan doanya untuk keselamatan mereka (Kis. 16:3; 18:8; 21:21;-27; 23:1-6). Staregi misi kontekstual yang dilakukan oleh Paulus ada tiga hal yaitu:Â
Â
pertama, Paulus tidak menjadi ekslusif dan menutup diri. Dalam pelayanan perlu seorang pelayan terbuka serta menerima kebudayaan setempat, sejauh hal itu tidak bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan. Sifat terbuka dalam pelayanan lintas budaya seperti mengikuti bahasa, belajar kebudayaan dan memahami pandangan dunia setempat.Â
Â
Hal itu sangatlah perlu dilakukan oleh seorang pelayan (hamba Tuhan) dalam pelayanan lintas budaya. Selain ia diterima oleh masyarakat setempat. Ia juga dapat memberitakan Injil sesuai dengan situasi dan pola pandangan masyarakat yang ada ditempat tersebut. Sehingga kebenaran Injil dikontekskan menurut pemahaman dan pola pikir masyarakat setempat.Â
Â
Kedua, Paulus tidak menjadi egois, meskipun Paulus seorang rasul. Justru ketika ia menjadi seorang rasul, kehidupannya benar-benar berubah. Tentu hal itu karena Tuhan yang memampukannya sehingga ia bisa menjadi teladan dan berkat bagi orang lain. Selain itu memberitakan Injil adalah tugas dan tanggung jawab yang sudah Tuhan berikan dan percayakan kepadanya. Sehingga bagi Paulus kemana pun ia berada atau pergi maka ia selalu memberitakan Injil. Karena Injil sangat berharga dan mulia baginya. Bahkan hal itu menjadi komitmennya Paulus mengatakan celakanlah aku jika aku tidak memberitakan Injil (1 Kor. 9:16).Â
Â
Ketiga, Paulus tidak membeda-bedakan orang berdasarkan latar belakang maupun status sosial dalam pelayannya. Karena bagi Paulus Injil itu untuk semua orang bukan sifatnya pribadi atupun kelompok atau hanya satu bangsa saja. Oleh karena itu Paulus memberitakan Injil kepada siapa saja tanpa memandanga suku, ras, agama dan kebudayaan. Meskipun dalam pemberitaannya ia sering kali ditolak dan dianiaya. Tetapi ia tetap melakukan hal itu karena untuk itulah ia dipanggil menjadi seorang rasul (2 Tim. 1:11).Â
Â
Bahwa dalam pelayanan seorang hamba Tuhan perlu memperhatikan ketiga hal di atas. Sehingga hal itu menjadi dasar dalam pelayanannya. Karena ia memandang kepada Injil yang menyelamat semua orang (Rm. 1:16). Dan Injil tersebut harus disampaikan kepada seluruh bangsa (Mat. 28:18-20). Agar Injil bisa disampaikan kepada segala bangsa, hal itu harus dari orang-orang percaya yang akan memberitakan Injil tersebut. Sehingga mempercepat kedatangan Kristus kedua kalinya (Mat. 24:14).
DAFTAR PUSTAKA
[1] R.L. Budiman, Pelayanan Lintas Budaya Dan Kontekstualisasi, n.d., 5.
[1] Hasan Sutanto, Hermeneutik: Prinsip Dan Metode Penafsiran Alkitab (Malang: Literatur SAAT, 2001), 10.
[1] 15Bartholomeus Diaz Nainggolan, "Penafsiran Kisah Para Rasul 1:8 Dan Implementasi Misi Pemberitaan Injil Lintas Budaya," Jurnal Koinonia 6, no. 2 (2013): 1--24.
[1] Harianto GP, 1
[1] Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika,(Malang: Gandum Mas, 1992) 2.
[1] B.F. Drewes & Julianus Mojau, Ap aitu Teologi? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010) 17.
[1] William A. Dyncess, Agar Bumi Bersukacita. (Jakarta: Gunung Mulia, 2001), 15.
[1] Harianto GP, Teologi Misi Dari Mission Dei Menuji Missi Ecclesia, (Yogyakarta: Andi, 2017), 11.
[1] Charles Van Engen, Mission on The Way. Issue In Mision Theology (Grand Rapids: Baker Book, 1996), 35
[1] . Verkuyl, Contemporary Missiology An Introducation (Grand Rapids: Publishing Company, 1978) 5.
[1] Simon Jenkins, Peta Alkitab, (Jakarta: YKBK, 1994), 116-117
[1] Hassan Susanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan konkordansi Perjanjian Baru (PBIK) Jilid II (Jakarta: LAI, 2003), 56.
[1] Phill Parshall, Penginjilan Musilim: Pendekatan-pendekatan kontemporer pada kontekstualisasi, 2nded, n.n., 44.
[1] Norman Hillyer, "1 & 2 Korintus," in Tafsiran Alkitab Masa Kini Matius-Wahyu, 3 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2001), 497; Parshall, Penginjlan Muslim: Pendekatan-Pendekatan Kontemporer Pada Kontekstualisasi, 43.
[1] Tomatala, Teologi Kontekstualisasi (Suatu Pengantar), 28.
[1] 24Donald Guthrie, "Surat-Surat Para Rasul," in Handbook To The Bible Pedoman Lengkap Pemahaman Alkitab (Bandung: Kalam Hidup, 2002), 663.
[1] Pfeiffer and Everett F. Harrison, The Wyclife Bible Commentary, 3:817.
[1] Budiman, Pelayanan Lintas Budaya Dan Kontekstualisasi, 6.
[1] Tim Sabda, Tafsiran Mattew Henry.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI