Mohon tunggu...
Dr. Herie Purwanto
Dr. Herie Purwanto Mohon Tunggu... Penegak Hukum - PNYD di KPK (2016 sd. Sekarang)

Bismilah, Menulis Tentang Korupsi

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Sepenggal Kisah dari Pantai Oetune Kupang

3 Februari 2023   11:49 Diperbarui: 4 Februari 2023   03:41 372
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: Dokumen Pribadi

Hamparan pasir dipantai Oetune yang menyerupai gurun pasir, menjadi pemandangan yang menakjubkan. Betapa tidak, begitu elok Tuhan menciptakan "gurun pasir dan ombak biru " bersebelahan. Di sepanjang cakrawala, Nampak hijau oleh geraian pepohonan. Pantai gurun tersebut terletak di Desa Tuafanu dan Oebelo, Kabupaten Timur Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Konon, hamparan pasir yang indah tersebut terbentang hingga 100 meter.

Pada saat siang hari, ketika terkena sinar matahari, pasir-pasir tersebut bagai menari dan berbisik, membentuk gelombang yang indah. Membuat mata tidak bosan memandang dan mengagumiya. Paduan alam sekitar dengan bentangan maha luas laut nan biru dengan ombak saling berkejaran, membuat siapapun yang berkunjung, ingin mengabadikan dalam frame foto.

Peluang seperti itu, dimanfaatkan oleh, Andri, Ipy, Nea dan puluhan bocah-bocah pantai yang bersahaja tersebut. " Biar beta kasih momen yang Bagus, Bapak. " Begitu tawarnya. Sepertinya sangat memahami dan mengerti keinginan saya. Saya mencoba selfi, namun view yang didapat kurang pencahayaan, jadi hasilnya kurang maksimal.

index-63dc917adfb6a13b6c490282.jpg
index-63dc917adfb6a13b6c490282.jpg

Foto: Dokumen Pribadi

" Ada titik pencahayaan yang bagus Bapak, di sana. " Begitu tunjuknya. Saya serahkan handphone saya, kemudian tangan mungilnya mulai mengarahkan berbagai gaya dan posisi. Saya menuruti saja. Beberapa pengunjung yang lainnya juga melakukan yang sama. Seperti seorang fotografer profesional, Andri dan teman-temannya mengambil posisi.

Berbarengan dengan itu, deburan ombak saling berkejaran. Menampar bibir pantai dan akhirnya pecah menjadi buih-buih. Angin berkesiuran, membuat tubuh serasa berdamai dalam pelukan alam. Beberapa adegan foto sudah saya lakukan, menuruti arahan Andri.

" Setiap hari di sini? "

" Iya Bapak. "

" Sekolah?"

Andri, bocah sepuluh tahun itu menggeleng. " Kenapa ndak sekolah? ", Andri hanya diam. Saya tidak melanjutkan pertanyaan. Mengalihkan perhatian dengan melihat hasil jepretan Andri. " Bagus sekali, titik spotnya bagus ya. "

" Sehari dari pagi hingga sore, dapat uang berapa? " Pancing saya. Saya tahu, dengan memberi jasa "jepritan dan mengarahkan spot foto", Andri dan teman-temannya akan mendapat tips dari pengunjung. " Saya dapat lima puluh ribu sampai seratus ribu Bapak. "

Kalau Andri tidak sekolah, lain dengan Nea, ia mengaku uang hasil "bekerja" di pantai tersebut untuk membeli peralatan sekolah. Tempat sekolahpun jauh, harus jalan kali lebih dari 1 Km. Ada pancaran semangat untuk menempuh cita-cita, di tengah kehidupan pantai di salah satu sudut Nusa Tenggara Timur yang memang masyhur dengan keindahan alamnya.

Melihat bagaimana Andry, Nea dan puluhan teman sejawatnya tersebut, begitu bersemangat, untuk "mencari rejeki", saya hanya melenguh nafas dalam-dalam. " Masih kecil, semangat yang luar biasa dalam mencari rejeki.

Semoga kelak ketika sudah besar, dan dalam proses menjalani kehidupan bisa menemukan secercah harapan, yang bisa membawanya sebuah kesuksesas.. Ada sebaik doa untuk mereka dan ada juga perasaan tertahan, ketika mereka tertawa lepas dan begitu bahagia, selesai memberikan jasa mengarahkan titik berfoto, sejumlah uang mereka terima. Sungguh, seperti tanpa beban. Mereka berlarian dan mampir ke sebuah warung jajanan yang ada di dalam lokasi pantai. Ada dari mereka membeli jajanan tersebut dan memakannya rame-rame.

Dari balik kaca mobil, yang siap kembali membawa saya ke Kupang, transit untuk kembali ke Jakarta, esok harinya.  Sempat saya buka kaca jendela mobil dan melambaikan tangan pada Andri dan Nea. Merekapun membalas dan berteriak : " Terima Kasih Bapak, datang ke sini lagi ya? "

Dalam hati saya tidak mengiyakan, takut sebagai sebuah janji yang sebaiknya saya tepati. Bila datang bersama keluarga untuk menikmati indahnya pasir gurun di pantai ini, oke-oke saja. Namun kalau datang lagi dalam rangka memberangus koruptor, muncul pertanyaan : sampai kapan KAU JERA WAHAI KORUPTOR? Biarlah uang negara bisa digunakan untuk membiayai pembangunan dan memfasilitasi pendidikan anak-anak semacam Andri, Nea maupun Ipy serta anak-anak bangsa lainnya yang butuh sentuhan dan perhatian kita semua. Semoga.

Salam Anti Korupsi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun