Mohon tunggu...
AKIHensa
AKIHensa Mohon Tunggu... Penulis - Pensiunan sejak tahun 2011 dan pada 4 Mei 2012 menjadi Kompasianer.

Kakek yang hobi menulis hanya sekedar mengisi hari-hari pensiun bersama cucu sambil melawan pikun.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Djanur Mundur Solusi Persib

8 Juni 2017   13:40 Diperbarui: 9 Juni 2017   09:36 447
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Apakah Djanur Mundur, Solusi Bagi Persib ?

Sebuah pertanyaan yang akan menghasilkan jawaban yang beragam dilihat dari sudut mana kita memandang. Untuk sementara mari kita kesampingkan jawaban dari pertanyaan di atas.

Sebenarnya performa Persib sudah mulai terasa menurun sejak Persib ditahan 2-2 oleh Pusamania Borneo FC pada laga Sabtu 20 Mei 2017 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Saat itu Borneo FC unggul lebih dulu pada menit ke-17 lewat tendangan Riswan Yusman namun Gian Zola membalas empat menit kemudian melalui tendangan first time kaki kirinya. Vladimir Vujovic membawa Persib unggul pada menit 28 menjadi 2-1,  lewat sontekannya di mulut gawang hasil umpan tendangan tumit dari Sergio.

Skor 2-1 bertahan sampai turun minum. Sebenarnya Persib bisa unggul 3-1 jika tendangan penalti Essien pada menit ke-70 masuk namun ternyata tendangan itu melambung tinggi di atas mistar. Pada saat Persib di ambang kemenangan, Persib malah kecolongan pada menit ke 89 oleh gol balasan Pesut Etam lewat Mathieus Henrique.  

Ada yang menarik dengan pola bermain Persib malam itu. Setelah unggul dari lawannya, lalu cara bermain mereka terkesan hanya sekedar ingin mengamankan skor 2-1. Djanur rupanya memainkan sepakbola pragmatis. Ciri khas Persib yang berpola menyerang sudah hilang. Terlebih lagi faktor kehilangan fokus pemain belakang Persib adalah salah satu sebab terjadinya gol pada menit menit akhir sehingga lawan bisa menyamakan kedudukan. Bermain seri di kandang bagi Maung Bandung bisa dianggap sebagai kerugian bahkan sebagian supporter menganggapnya adalah kekalahan.

Saat itu sebenarnya Persib bermain saja seperti pada babak pertama dengan pola normal menyerang. Materi pemain Persib cukup mumpuni untuk itu. Dengan pola menyerang normal tanpa memperhatikan sedang unggul atau tidak maka hal ini cukup efektif untuk mempertahankan kemenangan.Kejadian serupa terjadi pula saat mereka bermain tandang melawan PS TNI. Unggul 2-0 dan berhasil disamakan menjadi 2-2 oleh PS TNI.

Paling tidak pola ini ketika bermain di Stadion GBLA menghasilkan 2 kali seri melawan Arema dan Borneo FC dan 2  kali menang dengan Persipura dan Sriwijaya FC. Padahal target logis bermain kandang adalah menang. Satu kali menang saat bertandang ke Gresik dan dua kali seri melawan PS TNI di Bogor dan Semen Padang FC di Tanah Minang.

Setelah itu klimaksnya adalah dua kekalahan dari Bali United dan Bhayangkara FC masing-masing dengan skor 0-1 dan 0-2.  Hasil tersebut membuat Persib terlempar ke posisi 11 dengan 13 poin dari 9 kali bertanding. Tiga kali menang yaitu atas Persipura, Sriwijaya FC dan Gresik United. Bermain seri melawan Arema, Borneo FC, PS TNI dan Semen Padang. Dua kekalahan dari Bali United dan Bhayangkara FC.

Apakah perubahan filosofi bermain yang diterapkan pelatih Djanur menjadi pragmatis merupakan kegagalan Persib terutama dalam dua laga terakhir? Hal ini masih bisa diperdebatkan.

Menurut penulis, permainan Persib baik saat melawan Bali United maupun Bhayangkara FC sudah memberikan permainan yang menunjukkan jati diri Persib. Bermain dengan bola-bola pendek. Penguasaan lapangan tengah melalui pemain-pemain mereka seperti Haryono, Zola, Maitimo, Dedi Kusnandar dan Michel Essien. Pemain-pemain sayap mereka seperti Atep, Febri Haryadi, Tantan, Matsunaga juga bermain seperti biasanya. Hanya satu hal yang tidak mereka punyai pada dua pertandingan tersebut adalah seorang “Finisher” yang seharusnya menjadi predator di depan gawang lawan. Seorang Sergio Van Dijk masih belum menunjukkan performa terbaiknya.

Beberapa kali serangan yang dibangun melalui sayap selalu berakhir dengan kegagalan karena tidak berhasilnya sentuhan akhir dari para pemain Persib di kotak penalti. Hal-hal tersebut sebenarnya yang harus dievaluasi oleh Tim Pelatih dan Manajemen dari pada membahas pengunduran diri seorang Djanur.

Harus menjadi catatan penting untuk Tim Pelatih Persib terutama saat bermain di kandang, kembalikan Persib dengan pola bermain alaminya. Hal tersebut pernah dikemukan oleh Yusuf Bachtiar, legenda Persib di era Galatama. Memang sebenarnya Persib dengan materi pemain seperti ini layak menang jika Tim Pelatih bisa mengoptimalkan kemampuan pemain-pemainnya.

Djanur boleh mengajukan pengunduran dirinya kepada manajemen namun jika manajemen mengabulkannya maka Persib harus memulainya lagi dari awal dengan pelatih yang baru yang pasti membawa filosofi baru. Saat ini lebih baik melakukan evaluasi menyeluruh lalu kembali konsolidasi mempersiapkan fisik dan teknik untuk menyongsong laga berikutnya.

Sempat terdengar rumor bahwa manajemen sering melakukan intervensi dalam soal-soal teknis yang menjadi wewenang Pelatih. Semoga saja hal tersebut hanya rumor namun jika hal tersebut benar maka siapapun pelatihnya tidak akan mampu mengembalikan kejayaan Persib. Seorang Pelatih professional harus diberikan wewenang penuh dalam menentukan siapa yang bermain dan strategi yang bagaimana di lapangan. Siapapun tidak boleh melakukan campur tangan termasuk manajemen.  

Ayo Maung Bandung bangkit.   

#hensa17 Bandung 7 Juni 2017

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun