(Jakarta)
Aku berlari menuju lift yang pintunya hampir tertutup.
Uhhhh, lega. Pintu terbuka kembali, seorang lelaki caucasian telah menahannya dari dalam.
"Thank you, " kataku sambil tersenyum kepadanya.
Ada tiga orang di dalam lift, si lelaki tadi, seorang wanita dan aku. Aku tak kenal mereka berdua. Gedung tempatku bekerja di Kawasan Antar Bangsa ini memang banyak sekali perusahaan asing.
Tiba-tiba lelaki itu memberikan ponselnya kepadaku, tanpa berkata-kata.Â
Aku bingung, dan melihat ke arah si wanita, tetapi dia diam saja.
"Oh, ternyata mereka tak saling mengenal," batinku.
Kuterima ponsel itu dan menggenggamnya, tanpa aku tahu apa maksud lelaki tersebut.
"Aku harus ke luar, di lantai ini, " kataku.
"Oh, aku ikut."
Laki-laki itu seperti tersadar dari lamunannya.Â
"Apa maksudmu dengan memberi ponsel ini?" tanyaku kemudian, setelah kami berdua berada di luar lift.
"Hmm, aku sebenarnya ingin tahu nomor teleponmu, maaf. " Salah tingkah dan tersenyum malu ia berucap.Â
"Lucas," ia mengulurkan tangannya, menyebutkan namanya.
"Itu tempat kerjaku," lanjutku sambil menunjuk kantor berpintu kaca di seberang kami.Â
Lantas aku ketik  nomor teleponku dan mengembalikan ponselnya.
"Oh, thank you very much. I'll call you soon." Lucas berkata sambil tersenyum lebar dan pamit. Kantornya berada di lantai lain di gedung itu.
***
(Germany)
Ada satu bingkisan di kotak surat, tertera namaku.
Oh, satu CD Queen dan selembar surat.
"Enjoy the music, my princess, the second most beautiful Indonesian woman.
Love from Normandie."
Aku tahu, Lucas, kamu pasti senyum-senyum di sana ya.
Terimakasih untuk hadiahnya.
-------
HennieTriana Oberst
DE 14032020
(Untuk Lucas di Normandie, terima kasih untuk cinta dan persahabatannya)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H