Ada yang mengatakan bahwa saudara terdekat kita adalah tetangga. Membangun hubungan yang baik dengan mereka sangatlah utama. Salah satu cara berbagi kebahagiaan dengan mereka pada bulan Ramadan yaitu berbagi makanan.
Prioritas terakhir yaitu membeli kue lebaran. Suasana pandemi dan himbauan untuk tidak mudik atau mengadakan kumpulan demi memutuskan rantai penyebaran Covid-19, mungkin akan membuat kita mempersiapkan kue lebaran yang tidak terlalu banyak seperti situasi normal sebelumnya.Â
Pertimbangan, tamu yang datang akan berkurang atau mungkin tidak ada. Walau secara pribadi, saya lebih suka jika rumah didatangi tamu. Semakin banyak tamu yang datang ke rumah, semakin banyak keberkahan yang didapat oleh penghuninya.
Namun, sebagian orang mungkin memiliki pendapat yang berbeda. Salah satunya saya. Dalam hal ini, saya lebih memilih tidak mengurangi kue lebaran sekalipun tanpa kehadiran tamu karena dua alasan.
Pertama, perayaan Lebaran di rumah saja akan terasa tetap menyenangkan jika ditemani dengan kue lebaran yang beragam. Khususnya bagi keluarga yang memiliki anak-anak. Sehingga, mereka tidak perlu keluar rumah hanya untuk mencari camilan.
Alasan kedua, kue lebaran dapat kita jadikan sebagai sarana silaturrahim dengan keluarga dalam satu kota (domisili dekat rumah) walaupun kita harus berada di rumah. Mengirimkan parcel kue lebaran melalui jasa pengiriman barang secara online bisa dijadikan solusi yang membantu kita dalam pendistribusian.
Saya sengaja tidak meletakkan pakaian lebaran ke dalam daftar prioritas untuk menyambut hari Raya Idul Fitri besok. Dalam hal ini, saya ingin mendidik anak bahwa bukan itu sebenarnya esensi yang diharapkan dalam perayaan Lebaran.Â
Situasi pandemi setidaknya telah mengajari kita untuk lebih bersikap prihatin dan mampu menahan diri dari berbagai sikap konsumtif yang berlebihan.Â
Beberapa hari yang lalu, anak perempuan saya bertanya, "Ma, kapan beli baju barunya?" Maklum, dia partner saya ketika berbelanja. Harapannya, saya akan menyetujui permintaan anak saya tadi.Â
Namun saya mencoba bersikap tegas dengan mengatakan,"Lebaran kan tidak selalu pakai baju baru, Dik. Apalagi sekarang kita harus di rumah saja. "
"Ihhh....mama tidak asyik," seru anak saya dengan muka cemberut dan ngeloyor pergi meninggalkan saya. Dalam hati, saya merasa tidak tega juga.Â