Mohon tunggu...
HENI PURWONO
HENI PURWONO Mohon Tunggu... -

guru sma negeri 1 sigaluh

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

KH As’ad Humam, Pahlawan Pemberantasan Buta Huruf Al Quran

6 November 2012   09:21 Diperbarui: 24 Juni 2015   21:53 2537
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Meskipun tidak bisa membaca, Ibu Lintang senang sekali melihat barisan huruf dan angka di dalam buku Lintang. Beliau tak peduli, atau tak tahu jika melihat sebuah buku secara terbalik. Di beranda rumahnya beliau merasa takjup mengamati rangkaian kata-kata dan terkagum-kagum, bagaimana tulis baca-baca tulis dapat mengubah masa depan seseorang. (Andrea Hirata, dalam Laskar Pelangi).

Fungsi aksara sangatlah penting di dunia ini, bahkan dalam pembelajaran sejarah, sejarah adalah zaman dimana sudah ada tulisan, sementara zaman sebelumnya disebut zaman nirleka, atau zaman prasejarah. Ada persoalan di Indonesia manakala manusia tidak mengenal tulisan, bukan karena ia berada pada zaman nirleka, namun hal itu terjadi karena tulisan yang ada berasal dari bahasa ibu lain bangsa. Parahnya, bahasa tersebut adalah bahasa kitab suci, Al Quran.

Munculnya metode Iqro

Pada awal masyarakat Indonesia terkena Islamisasi, ada yang menyebut pada abad 13 ada pula yang menyebut abad 7, pembelajaran membaca Al Quran sebagian besar menggunakan metode Qowaidul Baghdadiyah. Cara membacanya teramat rumit, untuk menghasilkan bunyi a, seorang harus memulai dari huruf alif yang bersandang atau kharokat fathah, baru dibaca a. Pun demikian jika kharokat itu kasroh, maka harus memulai dengan alif kasroh, barulah berbunyi i. Atau contoh yang biasanya terdengar di surau-surau masa lalu seperti ini: "alif fathah a, alif kasroh i, alif dhomah u, a-i-u". Sehingga untuk mampu membaca huruf hijaiyah atau huruf Arab secara keseluruhan, dengan cara seperti itu butuh waktu yang cukup lama. Belum lagi menggandengkan antar huruf, hingga merangkainya dalam ayat Al Quran.

Kesulitan tersebut berhasil dipecahkan oleh KH As'ad Humam. Nama ini tentu populer dikalangan umat Islam diseluruh Indonesia. Hal itu karena jutaan eksemplar buku Iqro karya KH As'ad Humam dipakai oleh sebagian besar umat Islam untuk belajar membaca Al Quran.

Saat itu KH As'ad Humam paling tidak merumuskan 3 faktor mengapa ia perlu menemukan metode baru dalam pembelajaran membaca Al Quran: 1) Salah satu masalah umat Islam yang dihadapi dan cukup mendasar adalah prosentase generasi muda Islam yang tak mampu membaca Al Quran menunjukan indikasi yang meningkat. Generasi muda nampak semakin menjauhi Al Quran dan rumah tangga keluarga muslim terasa semakin sepi dari alunan bacaan ayat-ayat suci Al Quran. Padahal kemampuan dan kecintaan membaca Al Quran adalah merupakan modal dasar bagi upaya pemahaman dan pengamalan Al Quran itu sendiri. 2) Nampak sekali bahwa lembaga-lembaga pengajian dan pengajaran Al Quran yang ada sekarang ini, belum mampu mengatasi masalah meningkatnya jumlah generasi muda yang tidak mampu membaca Al Quran. Pengajian anak-anak tradisional, yang dulunya berlangsung dengan semarak di kampung-kampungtiap ba'da Mahgrib sampai Isya, kini terlihat semakin kurang kuantitas dan kualitasnya. Hal ini disamping disebabkan oleh guru ngaji yang semakin langka, dana yang terbatas, sistem penyelenggaraan yang apa adanya, juga disebabkan oleh kalah bersaingnya dengan pengaruh-pengaruh dari luar seperti TV, film, video, radio, dan sebagainya. Sedangkan pengajaran membaca Al Quran lewat pendidikan agama di sekolah-sekolah formal, sangat terbatas waktu dan tenaga pengajarnya, sehingga sulit untuk bisa mengantarkan anak didiknya mampu membaca Al Quran. 3) Terasa sekali bahwa metodologi pengajaran membaca Al Quran yang selama ini diterapkan di Indonesia, khususnya metode Juz Amma (Qowaidul Baghdadiyah), sudah saatnya untuk ditinjau kembali dan disempurnakan (As'ad Humam, 2001: 2-3)

Tahun 1975, KH As'ad Humam menggunakan metode Qiroati yang disusun KH Dachlan Salim Zarkasyi dari Semarang. KH Dachlan Zarkasyi sendiri membukukan Qiroati sejak tahun 1963. Pada saat itu KH Dachlan Zarkasyi melihat pengajaran Al Quran yang tidak tartil, terutama tidak adanya ilmu tajwid (Suara Merdeka, Oktober 2007). Hubungan silaturahmi antara KH Dachlan Zarkasyi dengan KH As'ad Humam pada awalnya berlangsung dengan akrab. Muhammad Jazir mengisahkan bahwa pada tahun 1973 KH As'ad Humam bertemu dengan KH Dachlan Salim Zarkasyi, yang merupakan rekan bisnis KH Humam (Bapak dari KH As'ad Humam) dahulu. KH As'ad Humam gemar pijat, dan kebetulan KH Dachlan juga membuka praktik pijat sehingga berawal dari silaturahim ini kemudian KH As'ad Humam mengenal metode Qiroati.

Dari Qiroati ini pula kemudian muncul gagasan-gagasan KH As'ad Humam untuk mengembangkannya supaya lebih mempermudah penerimaan metode ini bagi santri yang belajar Al Quran. Mulailah KH As'ad Humam bereksperimen, dan hasilnya kemudian ia catat, dan ia usulkan kepada KH Dachlan Zarkasyi.

Namun gagasan-gagasan tersebut seringkali ditolak oleh KH Dachlan Salim Zarkasyi, terutama untuk dimasukkan dalam Qiroati, karena menurutnya Qiroati adalah inayah dari Allah sehingga tidak perlu ada perubahan. Hal inilah yang pada akhirnya menjadikan kedua tokoh "berkonflik". Sehingga pada akhirnya muncullah gagasan KH As'ad Humam dan Team Tadarus AMM untuk menyusun sendiri dengan pengembangan penggunaan cara cepat belajar membaca Al-Qur'an melalui metode Iqro.

Pengembangan penggunaan cara cepat belajar membaca Al-Qur'an dengan metode Iqro yang disusun oleh KH As'ad Humam ini pada awalnya hanya perantaraan dari mulut ke mulut atau getok tular, kemudian dengan ketekunan mampu dikembangkan secara luas dan diterima baik oleh masyarakat di Indonesia bahkan di dunia internasional, dengan dibantu aktivis yang tergabung dalam Team Tadrus AMM Yogyakarta.

Selain itu juga pengembangan jaringan dan kerjasama dengan berbagai pihak menjadikan sistem TKA-TPA mampu berkembang, bahkan digunakan oleh lembaga-lembaga lain dalam mensukseskan program mereka. Juga yang tak kalah pentingnya adalah senantiasa melakukan inovasi dalam mengembangkan dan menyebar luaskan sistem TKA-TPA dengan metode Iqro.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun