Mohon tunggu...
hendra
hendra Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Business Law

Mahasiwa Business Law Binus berorganisasi di ILSA BINUS sebagai kepala kajian dan publikasi

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan

Negara Kecil Oseania Bisa Apa?

13 Oktober 2020   14:48 Diperbarui: 13 Oktober 2020   14:51 554
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Selain masalah perekonomian, Jumlah penduduk yang berpendidikan rendah yang belum mampu membawa Negara-negaranya kearah yang lebih baik. 

Ketersediaan lahan yang terbatas, tidak adanya rute atau bandara yang tersedia,sehingga kegiatan pariwisata yang menjadi sumber pendapatan terbedar negara tersebut menjadi terhambat.

Mungkin para pemberi komentar dari Indonesia mungkin tidak menyadari bahwa mereka sudah bersikap diskriminatif, dan berbuat rasis. Hujatan-hujatan macam itu umumnya datang dari sikap primodialisme atau bisa disebut nasionalisme berlebihan.Masalah rasisme memang telah mengakar kuat di Indonesia. Semua orang menyadari dan mengetahuinya. 

Namun, banyak dari kita memilih untuk mengacuhkan atau bahkan membantahnya apalagi jika rasisme itu ditujukan terhadap kelompok yang lebih lemah.

Bahkan juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah yang menanggapi fenomena ini dengan pernyataan bahwa mayoritas bangsa Indonesia memegang teguh antirasialisme sebuah pernyataan yang berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada bahkan Teuku Faizasyah juga mengatakan vanuatu tidak tahu apa-apa dan dilarang untuk campur tangan terhadap masalah papua.

Sebenarnya negara-negara kecil yang terletak di Kawasan Pasifik Barat Daya berada diantara tiga benua yaitu Asia dan Australia di bagian timur serta Amerika sebelah barat sebenarnya memiliki banyak potensial dan kekuatan yang tidak diketahui banyak orang.

Posisinya yang strategus diantara beberapa benua otomatis menjadikannya sebagai jalur perdagangann yang ramai. Kenyataan ini ditunjang oleh pesatnya perkembangaan industri dan tingkat konsumsi masyarakat Asia, Australia dan Amerika. 

Potensi lainnya adalah ada sekitar 25.000 pulau yang terbesar dangan berbagai ukuran mulai dari pulau berukuran besar, berukuran kecil, pulau-pulau pulcano, atol yang dikelilingi karang hingga limestone yang bermaanfaat sebagai sumber air dan memiliki sumber mineral. 

Kondisi ini secara geopolitik dan geostrategis dikategorikan ke dalam wilayah terbuka yang menyerupai teater. Dari titik inilah, kawasan ini mendapat julukan "Teater Pasifik"

Bahkan china pun mulai melobi negara-negara di oseania karena banyak pulau di Pasifik Selatan kaya dengan sumber daya seperti kayu, mineral, dan ikan. Sejak tahun 2011, China telah berinvestasi lebih banyak di Papua Nugini, yang merupakan tempat asal bagi sumber daya alam emas, tambang nikel, gas alam cair, dan hutan kayu daripada tempat lainnya di Kepulauan Pasifik.

Kekuatan diplomatik yang dimiliki negara oseania juga mulai dimanfaatkan China untuk dijadika "teman" dalam menghadapi masalah Taiwan, yang diklaim pemerintah China sebagai wilayah kedaulatannya. Hanya 16 negara dan Takhta Suci Vatikan yang secara resmi mengakui Taiwan sebagai negara merdeka, sementara enam negara di antaranya berada di Pasifik Selatan. Selama bertahun-tahun, China telah berusaha untuk memenangkan aliansi dari para sekutu Taiwan yang tersisa dan mendorong mereka untuk menerima prinsip "Satu China."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun