Satu hal lagi dalam konteks kemajemukan bangsa Indonesia, toleransi dalam berbudaya juga menjadi hal yang tak boleh dilupakan. Toleransi dalam berbudaya juga bisa menjadi kunci kerukunan. Artinya, tidak menganggap superior budaya yang satu dengan yang lainnya. Semuanya setara dan seimbang.
Teori vs Kenyataan
Sebenarnya, mengelola perbedaan dari ketiga hal di atas bukan hanya terjadi pada masa kini semata. Sudah lama terjadi, dan bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Perbedaan pandangan politik, misalnya, ingatan jangka pendek adalah saat republik ini berdiri dan kemudian munculnya era multipartai dalam pemilu dan parleman. Ragam perbedaan pilihan atas hak berpolitik juga bisa menjadi rawan jika tak ada "toleransi" di dalamnya.
Konflik muncul karena tak ada "toleransi". Bisa jadi dan sangat mungkin. Terkait dengan faktor keagamaan dan budaya yang berbeda, sudah terlalu sering berita ini berseliweran di media. Hingga akhirnya memunculkan sikap sinisme terhadap solusi yang diberikan.
Misalnya, penolakan atau aksi massa terhadap kegiatan keagamaan atau pelaksanaan ritual budaya di suatu tempat. Pihak keamanan atau pemangku kepentingan (stakeholder) justru memiliki kecenderungan mengalah pada unjuk kekuatan massa itu. Bukan lagi berpedoman pada prisip hukum dan keadilan.
Pentingnya ber-Toleransi
Membangun cita-cita bangsa yang "... melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,..." tentunya bisa diraih jika ada pemahaman yang sama mengenai makna dari "toleransi".
Toleransi ini penting dan perlu ditanamkan sejak dini dalam merawat kebhinnekaan yang memang sudah ada sejak mulanya. Bukan hanya dalam keluarga, tapi juga di sekolah; tempat berkumpulnya peserta didik yang punya latar belakang beraneka rupa.
Miris rasanya membaca kabar harian seperti ini (baca Sumber Berita). Hanya karena perbedaan keyakinan, 3 peserta didik kakak beradik di SDN Tarakan tidak bisa naik kelas. Kejadian yang beruntun hingga 3 kali tahun pelajaran. Bukan karena persoalan kemampuan akademis yang membuatnya demikian.Â
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!