Bali itu Indonesia banget. Tetapi konon oleh sebagian orang luar negeri, nama Bali justru lebih dikenal ketimbang nama Indonesia. “Oh, jadi Bali itu ada di Indonesia.”
Busyet, bagi orang-orang yang cinta tanah air, rasanya pengin nampol buat bule yang mengatakan begitu. Enak saja bilang Bali dan Indonesia itu berbeda.

Ya, soal budaya dan agama masyarakat Hindu Bali, terasa kental dan menjiwai budaya bangsa. Ya, maklum saja, karena Hindu (dan juga Budha) dulunya menjadi agama paling tua yang masuk ke Indonesia. Jadinya secara kultur juga mewarnai perjalanan bangsa.
Secara kasat mata yang bisa terlihat adalah misalnya cara berpakaian, utamanya kaum wanita. Ada kemiripan dengan kebaya Jawa. Ya, karena memang sejarahnya juga serumpun. Runtuhnya Majapahit, membuat sebagian di antaranya pergi dan menetap di Bali.
Surabaya Rasa Bali
Tempat tinggal saya tak jauh dari asrama dan pura bernama Tirta Gangga. Secara luasan, tempatnya tidaklah besar sekali. Bahkan terkesan sederhana. Melihat papan nama, tempat ini tertera Pemerintah Provinsi Bali.
Pada hari-hari tertentu, di sini dilakukan upacara keagamaan. Tentunya orang di luar komunitas hanya bisa mendengar dan melihat dari sisi luar pagar alias di bagian jalan raya. Tidak hendak mengikuti prosesinya.
Ada 11 Pura yang ada di kota Surabaya. Namun yang terbesar berada di Jalan Lumba-Lumba No. 1; dekat dengan Museum Loka Jala Srana. Jadi kalau ada kegiatan akbar (Melasti misalnya, biasanya umat akan berombongan menuju ke sana.

Bentuknya amat kental dengan nuansa Bali. Pura dengan luas sekitar 7.703 meter ini diresmikan pada 29 November 1969. Tanggal ini bertepatan dengan hari Sarasvati (Saraswati).
Makanya, pada area depan gerbang, terdapat patung Dewi Saraswati. Sosok wanita cantik yang juga menjadi ibu dari ilmu pengetahuan.
Dua kali mengalami renovasi (1987 dan 2003), tempat ibadah ini sekarang sudah tertata menjadi tiga bagian. Dari yang umum hingga khusus, disebut dengan Mandala Nista atau Jaba Luar, Mandala Madya atau Jaba Tengah, dan Mandala Utama atau Jeroan.
Mandala Utama memiliki area yang berisikan Padamasana, Pepelik, Penglurah, Patung Ganesha, Bale Pawedan, Bale Pesantian, Kori Agung dan Penyengker. Lalu di Mandala Madya terdapat berbagai keperluan sembahyang berupa Beji, Bale Gong, Bale Sebaguna, Bale Pewaregan, Candi Bentar, Bale Pesanekan, Penyengker serta sekretariat PHDI Jawa Timur. Sedangkan di Mandala Nista, terdapat Bale Manusa Yadnya, Pasraman, Patung Dewi Saraswati.
Buat non-umat, yang tidak akan melakukan peribadatan, tidak diperkenankan masuk. Jadi cukup berada di daerah luar, untuk umum.
Lokasi ini memang jauh dari keramaian. Termasuk dalam wilayah pengelolaan Angkatan Laut. Jadi tak heran, sewaktu peresmian awal dilaksanakan oleh Kepala Staf Kodamar V Komodor Laut R. Sahiran. Bukan oleh pejabat pemerintah kota seperti Walikota.
Bersama dalam Keberbedaan
Saat lampau pernah ikut rombongan tour wisata ke Bali, beberapa tahun pasca peledakan bom Bali, pemandu wisata pernah bercerita kalau orang Bali itu percaya pada tiga kesatuan cinta. Kepada Tuhan, sesama manusia, dan alam ciptaan (semesta).
Kalau wisatawan melihat lokasi bekas tempat terjadinya bom tadi, atau tempat apapun yang lain bekas musibah misalnya, biasanya tempat itu akan “distrerilkan” dulu. Caranya dengan melakukan penanaman pohon atau “dihijaukan”. Tujuannya supaya kembali menciptakan keharmonisan atau keseimbangan dengan alam.
Hmm, bagus sekali konsep seperti ini. Makanya, di tempat pemujaan seperti ini, banyak juga ditemui tumbuhan peneduh dan berbagai jenis tanaman. Jadi terasa asri, adem dan hijau.
Selain menjadi jujugan wisatawan, Pura Agung juga menjadi salah satu tujuan pembelajaran lintas iman. Belajar mengenal tata cara peribadatan dan beragam sarana dan bangunan yang dipergunakan.
Ah, betapa indah dan damainya bisa hidup bersama seperti ini. Bisa saling belajar nila-nilai kebaikan dan bermitra bersama.
Buat penutup, (klik) video yang dibuat oleh akun pemerintah kota Surabaya melalui dinas terkait atau humas ini semoga bisa memberikan gambarannya dari Pura dan prosesi sekitar perayaan Nyepi.

Om Santi Santi Om...
Semoga damai selalu di bumi dan di hati
14 Maret 2021, Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1943
Hendra Setiawan
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI