Rumah tersebut ternyata ditempati oleh seorang warga bernama Jamilah beserta keluarganya. Ia membeli rumah ini sekitar 1990 lalu seharga Rp 16 juta. Ia sendiri tak menyangka, jika rumah yang ditempatinya adalah rumah kelahiran Proklamator RI.
Temuan berharga itu kemudian ditindaklanjuti baik oleh Pemerintah Kota Surabaya. Rumah dengan luasan 5 x 14 meter tersebut dijadikan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) sejak 2013 oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
Selain penyematan status, Pemkot juga berencana untuk membeli rumah yang kondisinya masih cukup bagus itu. Tentu saja, harapannya ke depan bisa dijadikan museum seperti rumah HOS Cokroaminoto di kawasan tak jauh dari situ. Atau rumah tinggal terakhir WR Supratman di Jalan Mangga.
Jalan panjang nan berliku selama 7 tahun terakhir, akhirnya membuahkan hasil hasil manis. Berita media (sumber) pada awal tahun 2021 menyebutkan, rumah bersejarah itu bisa dibeli oleh Pemkot Surabaya dengan harga 1,2 milyar. Jauh dari taksiran awal ketika ahli waris meminta 4 milyar.
Ada empat orang pemegang sertifkaf tanah dan rumah tersebut. Satu dari mereka sudah meninggal dunia sehingga perlu balik nama sertifikat kepada para ahli warisnya. Total ada 14 ahli waris.
Pada 23 Desember 2020, Pemkot menawarkan harga ganti rugi sebesar Rp 1.251.941.000. Nilai ini sesuai apraisal tanah dan bangunan yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Hingga kemudiaan ahli waris menyetujuinya.
Telusur Lokasi
Bagaimana bentuk rumah itu, berikut sebagai gambarannya.
Di atas pintu rumah itu terpasang plakat berwarna kuning keemasan disertai tulisan: "Rumah Kelahiran Bung Karno' Jalan Pandean IV nomor 40, rumah tempat kelahiran dan masa kanak-kanak Bung Karno (Presiden pertama RI). Bangunan Cagar Budaya sesuai SK Walikota Surabaya nomor 188.45/321/436.1.2/2013. Tertanda Pemerintah Kota Surabaya tahun 2013."