Buku. Sebuah sebutan untuk helaian kertas yang digores tinta hitam, kemudian disatukan dengan benang atau lem dan ditutup dengan sampul. Dari cara pembuatannya yang rumit saja sudah membosankan dan menghabiskan banyak uang, apalagi membacanya. Kau harus memaksa matamu untuk menemukan ekor dari sebuah kalimat untuk mengerti apa yang akan disampaikan penulis. Itu membuatku sangat membenci buku, serta kegiatan yang  berkaitan seperti membaca buku.
Orang tuaku selalu memaksaku untuk membaca buku, begitu juga guru-guruku. Mereka menekanku bahwa membaca buku akan menambah wawasanku, dan aku menolaknya mentah-mentah. Untuk apa kita membaca buku yang harganya bisa mencapai ratusan ribu jika kita bisa menonton rangkumannya di YouTube secara gratis?
Namun, suatu kejadian membuatku mulai mencintai buku secara perlahan. Di siang itu, aku dihampiri seorang gadis berkacamata dan selusin buku yang dibawanya saat aku makan siang sendirian.
"Permisi" Ucapnya tersenyum, ia membenahi kacamatanya, "Bisakah aku duduk disampingmu?"
Gadis itu terlihat canggung sambil terus membenahi kacamatanya. Aku benci hal yang dibawa di tangannya, tapi sosoknya yang manis membuatku mempersilahkan ia duduk disampingku.
Gadis itu meletakkan setumpuk buku itu disampingnya, dan mulai mengambil dan membuka halamannya satu persatu. Anehnya, aku terhipnotis pada setiap gerakannya. Sembari makan, aku menatapnya dengan rasa penasaran. Entahlah, rasa benciku pada hal yang ia bawa itu hilang entah kemana, digantikan dengan rasa penasaran.
Gadis itu menyadari pandangan mataku, ia menoleh cepat. Aku gugup, segera memfokuskan pandangan mataku pada makan siang yang kulahap. Gadis itu terkekeh kecil, ia menggeser kursinya dan menyodorkan sebuah buku,
"Mau baca?" Tawarnya, sembari memiringkan kepala dan menyuguhkan senyum manis.
Aku tertegun, mau tak mau aku mengulurkan tangan dan menerima buku itu. "Bumi -- Tere Liye", begitulah yang terpapar pada sampul berwarna hijau gelap tersebut. Aku tak tahu harus melakukan apa, sampai suara gadis itu merusak lamunanku,
"Aku tahu kamu tidak tertarik pada buku. Tapi cobalah," Gadis itu membantuku membuka sampulnya dan menyuguhkanku halaman prolog, "Amati tiap kata-katanya dan bacalah, kau akan mendapatkan sesuatu yang berbeda"
Aku menegak ludah, ini pertama kalinya aku membaca sebuah buku fiksi. Aku tak tahu harus apa lagi dan aku secara blak-blakan menurutinya.
Jujur saja, ini hal yang tidak bisa dipercaya. Saat aku larut dalam buku, seaakan-akan aku ikut larut dalam dunia imajinasi sang pembaca. Mengamati tiap huruf-huruf yang diukir tiap halaman memberikan sensasi, seakan-akan aku menyentuh dunia fiksi itu sendiri.
Aku mulai menikmati kegiatan ini. Setiap kata-kata cermat dipilih dengan hati-hati untuk memekarkan imajinasi pembaca di ladang rahasia. Aku seakan ditarik didalam ilusi imajinasi sang penulis dari sentuhan lembutnya, dan membuat jantungku berdegup kencang.
Dengan wajah cerah, aku mulai melupakan makan siangku dan memilih untuk membaca buku bersama gadis itu. Gadis itu juga senang melihatku menikmati buku itu, dan ikut membaca bersamaku sembari berbincang.
Kini, aku dapat merasakan keasikan dan manfaat dalam membaca. Selain memperluas imajinasi, buku dapat membuka pandangan dan membuka pintu menuju pemahaman yang lebih dalam. Dengan setiap halaman yang dibaca, aku merasa diriku menjadi lebih kaya dengan pengalaman dan pemahaman yang baru. Aku mencintai kegiatan ini, membaca buku.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI