Tapi tetap kita tidak bergeming. Kita tidak mengambil hikmah untuk berubah kepada hal-hal yang diamanatkan oleh Tuhan dalam kitab-kitabnya. Sehingga Tuhan memberi ujian atau cobaan lagi berupa Covid-19. Nikmat mana lagi yang manusia ingin dustakan.
Baca Juga: Virus Corona dan Larangan Islam Mengonsumsi Binatang yang Menjijikkan Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa 24 April dan Idul Fitri 24 Mei 2020
Perubahan Paradigma Hindari Mudik
Semua aspek hidup kehidupan seharusnya mengambil  atau memetik manfaat adanya tamu kehormatan yang bernama Covid-19 tersebut.Â
Minimal satu rumahtangga diberi pelajaran agar jangan terlalu jauh dengan keluarga. Ingat selalu keluarga yang berdoa dan menunggu di rumah. Pulanglah pada keluargamu. Jangan dzalimi keluarga dan orang lain.
Misalnya, kondisi darurat berkepanjangan sampai pada ahir Ramadhan 2020. Berarti akan ada larangan mudik. Hal ini pula merupakan "pemaksaan perubahan sikap" oleh Allah melalui Covid-19 untuk merubah paradigma tentang tidak perlunya tradisi mudik lebaran dilestarikan.Â
Memang tradisi mudik itu lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya. Maka dengan Covid-19 manusia juga dipaksa berhalangan untuk tidak melakukan mudik.Â
Begitupun, Allah Swt memberi peringatan bahwa sesungguhnya manusia tidak punya kuasa selain Kuasa-Nya, manusia janganlah sombong dan pula jangan ikut menikmati makanan haram atau janganlah serakah dengan mengambil hak orang lain.
Sebagaimana di negeri kita ini, korupsi dianggap seperti biasa saja atau seperti dianggap sebuah gaya kepemimpinan atau gaya kekuasaan. Sudah tidak punya malu untuk berbohong dan membodohi rakyat dengan melakukan hal tercelah itu.
Baca Juga: Perubahan Paradigma Mudik Lebaran Menyiapkan Lebaran Tanpa Kampung Halaman
Wabah Covid-19 sesungguhnya berhadapan pada masalah kebersihan dari segala bentuk kehidupan, bersih jiwa dan raga. Artinya manusia diberi peringatan keras agar jangan memakan bangkai atau sampah.Â