Mohon tunggu...
Pak STO
Pak STO Mohon Tunggu... -

Salesman | penikmat dan pencinta bola | menyukai pariwisata | suka nulis

Selanjutnya

Tutup

Travel Story

Haul ke-13 Guru Sekumpul, Sebuah Perspektif Pariwisata

16 Maret 2018   17:33 Diperbarui: 17 Maret 2018   15:33 3567
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gusdur dan Guru Sekumpul pada sebuah kesempatan di Martapura (Mei 2000) Sumber : nu.or.id

Beberapa hari kedepan, Kabupaten Banjar, khususnya Kota Martapura akan menjadi tuan rumah hajatan besar yaitu Haul Ke-13 Guru Sekumpul. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau dikenal dengan sebutan Guru Sekumpul, sering juga dipanggil  Guru Ijai  adalah ulama besar dari Banjar dan tokoh yang sangat kharismatik bumi Kalimantan. Tak hanya di Kalimantan Selatan, ketokohan dan kepopulerannya diakui hingga ke seluruh pelosok Kalimantan serta beberapa wilayah di Indonesia, bahkan melewati batas negara hingga Brunei Darussalam, Singapura dan Malaysia.

Muhammad Zaini Abdul Ghani yang bernama kecil Qusyairi, lahir di Martapura, 11 Februari 1942. Beliau merupakan anak sulung dari 2 bersaudara, adiknya bernama Hj. Rahmah. Lahir dari pasangan suami-istri Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman dengan Hj. Masliah binti H. Mulia bin Muhyiddin.Beliau wafat di Martapura, 10 Agustus 2005 pada usia 63 tahun setelah menjalani perawatan selama 10 hari di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura akibat penyakit gagal ginjal yang dideritanya.

Guru Sekumpul meninggalkan 2 orang putra yaitu Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali. Makam Guru Sekumpul berada di komplek pemakaman keluarga di dekat Mushola Ar Raudhah,  Sekumpul Martapura, tempat beliau memberikan ilmunya kepada jamaah dalam majelis taklim yang digelar setiap pekan.

Dikutip dari wikipedia, Guru Sekumpul merupakan keturunan ke-8 dari ulama besar Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari. Ulama besar Kesultanan Banjar yang hidup tahun 1710 - 1812 dan dianugerahi gelar Datu Kelampaian.

Salah satu karya besar Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang paling terkenal ialah Kitab Sabilal Muhtadin, atau selengkap adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin, yang artinya dalam terjemahan bebas adalah "Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama."

Kitab Sabilal Muhtadin ini bahkan menjadi rujukan bagi banyak pemeluk Islam di wilayah Asia Tenggara. Nama Sabilal Muhtadin sendiri sejak tahun 1981 diabadikan sebagai nama masjid terbesar di Kalimantan Selatan yang berada di Kota Banjarmasin.

Suasana Haul ke-12 Guru Sekumpul, Sumber : banjarmasinpost.co.id
Suasana Haul ke-12 Guru Sekumpul, Sumber : banjarmasinpost.co.id
Hari Ahad tanggal 25 Maret 2018 mendatang merupakan hari dimana akan diadakan peringatan ke - 13 wafatnya Guru Sekumpul. Persiapan telah dilakukan sejak jauh hari, tidak hanya oleh panitia haul, melainkan oleh semua elemen masyarakat, tak terkecuali pemerintah daerah Kabupaten Banjar sebagai tuan rumah, bahkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Dinas Perhubungan dan instansi terkait lainnya mempersiapkan pengaturan arus lalu lintas untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan akibat volume kendaraan yang datang. Peta jalur keluar-masuk Sekumpul dan Martapura disosialisasikan kepada masyarakat luas. Himbauan untuk memperlancar pelaksanaan event ini pun disampaikan melalui semua media agar diketahui khalayak. PLN sibuk menyiapkan ketersediaan listrik agar tidak terjadi gangguan pada saat acara haul berlangsung. Selain pengaturan lalu lintas dan keamanan, bahkan Polresta Banjarmasin berpartisipasi dengan menyulap kendaraan Water Canon-nya menjadi tempat wudhu. Dan masih banyak lagi partisipasi aktif masyarakat dalam acara haul ini. Semua membuktikan kecintaannya terhadap Abah Guru, sebutan akrab jamaah kepada Guru Sekumpul.

Mobil Water Canon disulap menjadi tempat wudhu, sumber : banjarmasinpost.co.id
Mobil Water Canon disulap menjadi tempat wudhu, sumber : banjarmasinpost.co.id
Berdasarkan peringatan haul tahun-tahun sebelumnya, jumlah jamaah yang menghadiri acara ini mencapai ratusan ribu orang. Beberapa pihak bahkan meyakini bahwa jumlah jamaah yang hadir lebih dari 1 juta orang.  Kabarnya, tahun ini panitia menyiapkan 44 dapur umum untuk menyediakan 600 ribu bungkus (kotak) nasi samin untuk jamaah yang hadir. Panitia memperkirakan jumlah jamaah yang akan menghadiri acara haul ke-13 ini mencapai 1,5 juta orang, terdiri dari berbagai daerah di Kalsel dan bahkan dari mancanegara. Sungguh angka yang luar biasa, ini membuktikan begitu besar pengaruh ulama tersebut hingga sekarang. Masyarakat Banjar sangat menghormati dan mencintai beliau. Konon sebagai salah satu bentuk penghormatan dan kecintaannya, poster gambar Guru Sekumpul acap kali menghiasi dinding rumah dan tempat usaha masyarakat Banjar, dimanapun dia berada.

Wisata Religi

Dari perspektif pariwisata, tentu acara ini sangatlah istimewa. Tak banyak event di Indonesia yang bisa menyedot pengunjung dalam jumlah besar seperti acara ini. Kabupaten Banjar sebagai pengampu wilayah mendapatkan berkah yang luar biasa dengan adanya ratusan ribu bahkan jutaan jamaah (peziarah) yang datang.

Tidak bisa dipungkiri, dampak acaranya ini tentu sangat besar, baik itu secara sosial maupun ekonomi. Hotel, rumah makan, pedagang souvenir yang tersebar di sekitar Sekumpul dan Martapura akan kebanjiran pengunjung. Belum lagi dengan rencana kehadiran tokoh nasional, ulama, artis ibu kota, hal ini tentu akan menjadi sorotan media nasional. Dalam kaca mata marketing, ini akan menjadi promosi yang bagus bagi Martapura dan Kabupaten Banjar secara umum. Sorotan dan liputan media akan tertuju ke kota berjuluk Serambi Mekah ini. Namun begitu, panitia haul mewanti-wanti agar acara ini jangan dikomersilkan, apalagi dipolitisir. Panitia menghimbau masyarakat untuk lebih mengedepankan semangat kebersamaan, gotong royong dan keikhlasan untuk mensukseskan acara haul yang sakral ini.

Terlepas dari itu semua, menurut pandangan saya, Kabupaten Banjar wajib menyambut momentum haul ini. Kabupaten Banjar juga mempunyai potensi wisata religi yang cukup kuat. Selain Makam Guru Sekumpul dan Datu Kelampaian,  kabupaten ini juga memiliki Masjid Agung Al Karomah yang sarat dengan nilai sejarah.

Jadi bukan suatu hal yang berlebihan jika Kabupaten Banjar bisa "memanfaatkan" keberadaan situs wisata religi tersebut untuk mendatangkan wisatawan dalam hal ini peziarah. Seperti pernah disampaikan oleh Gubernur Kalsel, H. Sahbirin Noor, provinsi ini tidak mau selamanya tergantung pada sektor pertambangan, namun harus mulai melirik sektor pariwisata. Acara Haul ulama dan tokoh kharismatik Kalimantan Selatan Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari ini bisa menjadi agenda wisata religi. Saya setuju dengan apa yang disampaikan Paman Birin saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalimantan Selatan, di Bank Indonesia tahun 2016 waktu itu. (antaranews.com 15 Des 2016). Saat ini wisata ziarah menjadi andalan di beberapa daerah untuk mendapatkan pemasukan daerah. Ini adalah potensi cukup besar untuk sektor pariwisata, paparnya.

Masjid Agung Al Karomah Martapura, sumber : dokpri
Masjid Agung Al Karomah Martapura, sumber : dokpri
Tinggal, bagaimana dinas dan instansi terkait, bisa membaca peluang tersebut dan mengemasnya menjadi lebih baik, sehingga semakin banyak orang yang datang ke Kalsel. Dengan begitu, propinsi ini akan mendapat manfaat yang nyata.

Berkaca dari wisata religi Wali Songo misalnya, saya menyebutnya segmen wisata jenis ini cukup militan. Bagaimana tidak, untuk mengikuti tour ziarah Wali Songo, peziarah rela menghabiskan waktu minimal 5 hari, bahkan hingga 1 minggu.

Dari Cirebon (ziarah Makan Sunan Gunung Jati), lalu Demak (Sunan Kalijaga), Kudus (Sunan Kudus dan Sunan Muria), Tuban (Sunan Bonang), Lamongan (Sunan Drajat), Gresik (Sunan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri) hingga Surabaya (Sunan Ampel) dengan menggunakan bus akan memakan waktu sedikitnya 5 hari.

Jika kita bisa memanfaatkan militansi segmen ini untuk lebih meningkatkan kunjungan wisata ke Kalimantan Selatan, bukan tidak mungkin jumlah wisatawan nusantara yang datang ke Kalsel akan meningkat. Dengan jumlah wisatawan yang meningkat, tentu diharapkan multiplier effect di berbagai sektor.

Jadi, sepertinya pemerintah dan pihak berwenang lainnya wajib mempromosikan acara ini sebagai agenda tahunan wisata religi sehingga membawa berkah dan manfaat bagi masyarakat luas. Bagaimana membuat peziarah bisa lebih lama berada di Martapura dan Kalimantan Selatan dengan mengelola destinasi yang ada serta membuat destinasi tambahan. Hal ini tentu akan berdampak positif bagi perkembangan wisata Kalimantan Selatan.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun