Langit sore Jakarta tak begitu bersahabat, gerimis mulai turun. Perlahan air hujan menetes ke jendela taxi, Rena menikmati setiap bulir hujan. Matanya berbinar-binar, seakan-akan hujan menjadi pengobat dukanya.
Supir taxi sedikit mengernyitkan dahinya, tatkala melihat perubahan pada ekspresi wajah penumpangnya yang dapat berubah drastis hanya dalam hitungan menit.
"Pak, jangan ke rumah dulu yaa. Saya masih ingin muter-muter dulu. Nanti saya tambahin deh, uang lelahnya." perintah gadis berambut sebahu itu. Ia masih menatap pada bulir hujan di jendela mobil. Lama kelamaan tatapannya berubah menjadi kosong, bagaikan tak berjiwa.
"Neng, jangan melamun aja! Nanti kesurupan!" tegur supir berusia empat puluh itu membuat Rena tersentak--jiwanya telah bersatu kembali dengan raganya.
"Jangan melamun, Neng. Mending makan dulu, atuh."
"Boleh, tuh, Mang. Tolong ke Mall terdekat ya."
***
      Rena menghentikan sejenak gerakan mengunyah, tiba-tiba pikirannya tertuju pada ulah teman-teman sekelasnya. Biarpun kejadian itu telah hampir satu bulan berlalu, tetap saja membekas di dalam ingatan.
      "Ihh, ga usah deket-deket Rena, wey! Nanti ketularan cacar loh!"
      "Harusnya lo tuh ga usah sekolah."
      "Gw udah sembuh kok. Ini Cuma tinggal bekasnya aja."