Tidur merupakan suatu bentuk mekanisme tubuh untuk beristirahat. Tidur adalah salah satu istirahat terbaik bagi tubuh yang dapat mengembalikan energi, sehingga seseorang siap menjalankan aktivitas pada keesokan harinya (Kemenkes, 2020).
Menurut The American Sleep Disorder Association (1990), Sleep Paralysis adalah keadaan transisi yang terjadi ketika seseorang mengalami kelumpuhan sementara untuk bereaksi, bergerak atau berbicara ketika tertidur (hypnagogic) atau saat bangun dari tidur (hypnopompic).Â
Sleep paralysis ditandai dengan ketidakmampuan orang tersebut untuk menggerakan otot saat tidur. Tidur didefinisikan berdasarkan kriteria perilaku dan fisiologis yang membaginya menjadi dua keadaan: tidur non rapid eye movement (NREM) yang dibagi menjadi tiga tahap (N1, N2, N3); dan rapid eye movement (REM) yang ditandai dengan gerakan mata cepat
Tidur REM biasanya terjadi sekitar 90 hingga 120 menit setelah onset tidur pada orang dewasa. Periode REM pertama biasanya singkat kemudian diikuti dengan periode REM berikutnya yang menjadi progresif, lebih lama dan lebih kuat. Tidur REM biasanya menempati 20% hingga 25% dari periode tidur utama.Â
Pada orang dewasa normal, tidur REM merupakan sepertiga dari waktu tidur dan dapat meningkat pada malam hari. Sepanjang tidur malam yang normal, tidur REM berlangsung 5 sampai 30 menit. Bila seseorang sangat mengantuk, tidur REM berlangsung singkat dan bahkan mungkin tak ada. Tidur REM merupakan bentuk tidur aktif yang biasanya disertai mimpi dan aktivitas otak menjadi aktif. Seseorang lebih sukar dibangunkan oleh rangsangan sensorik selama tidur NREM, namun orang-orang terbangun secara spontan di pagi hari saat episode tidur REM.
Gejala saat mengalami Sleep Paralysis, yaitu:
- Sulit bernapas karena dada terasa sesak
- Berhalusinasi seolah-olah seperti ada sesuatu di dekatnya
- Merasa ketakutan
Fenomena Sleep Paralysis sering dikaitkan dengan peristiwa mistis karena adanya halusinasi yang muncul. Padahal Sleep Paralysis sebenarnya terjadi karena mekanisme otak dan tubuh sedang tumpang tindih dan tidak berjalan selaras saat kita tertidur, sehingga bisa menyebabkan kita terbangun di tengah-tengah fase REM. Fase REM ini adalah fase ketika kita sedang asik bermimpi, pada fase ini juga otak kita sedang mengistirahatkan otot-otot tubuh kita. Jadi, ketika kita terbangun tiba-tiba sebelum fase REM selesai, otak belum siap untuk mengirimkan sinyal bangun sehingga tubuh masih dalam kondisi setengah tidur dan setengah sadar. Itulah sebabnya kita akan mengalami 'kelumpuhan' sementara.
Beberapa tips untuk mengurai resiko Sleep Paralysis, yaitu:
- Menjalankan pola hidup sehat seperti tidur yang cukup, berolahraga secara teratur, berhenti merokok atau minum alkohol.
- Melakukan latihan pernapasan sebelum tidur untuk mencegah sleep paralysis muncul kembali.
- Mengatur pola tidur 7-8 jam sehari.
- Pengobatan dengan penggunaan antidepresan untuk memperbaiki siklus tidur.
- Mengobati kesehatan mental yang mungkin berkaitan dengan sleep paralysis
- Mengobati gangguan tidur.
- Mencegah paparan sinar biru saat kamu ingin tidur.
- Memastikan temperatur ruangan tetap rendah.
Saat mengalami Sleep Paralysis berusahalah untuk tetap tenang, jangan panik, tarik napas dalam-dalam dan hembuskan sebanyak beberapa kali. Kemudian, cobalah paksa tubuhmu untuk bergerak, mulai dari ujung jari tangan atau kaki sebagai bentuk perlawanan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H