Bulan baru saja naik ke atas langit melewati atap-atap rumah yang lesu dan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Wajahmu muram tubuhmu meringkuk menggigil, rupamu seperti sabit.
Engkau sendiri, melamun dan menyepi tanpa pernah memejamkan mata, kau sandarkan tubuhmu pada angin namun tak pernah kau luput apa yang telah di takdirkan kepadamu.Â
Tubuhmu tenggelam dalam dingin, keteguhan menyelimuti batinmu. Terbuka dan telanjang.
Kesetiaan selalu ada di dalam hidupmu meski untuk malam-malam penuh luka dan kelabu semoga Tuhan menyertai perjalananmu.
Puisi ini aku ciptakan untukmu saat bintang-bintang terpisah dalam rentang jarak yang jauh.Â
Cahayamu jatuh di atas meja, menerangi kata-kata yang hampir rampung ku tata. Hampir dan selalu begitu.
Aku ingin mengabadikanmu sebelum sempat kau tenggelam ke dalam pagi yang buta.Â
Sebelum kabut menelanjangi ihwal perjumpaan yang hampa serta percakapan yang sia-sia.
Maka kokok ayam jantan pertama terdengar itu berarti tandanya jam dua malam, seorang pemabuk, ringkih dan kikuk terus menuliskan kata-kata untukmu.
Lalu, ujung tubuhmu yang bagai tanduk di ikat tali dan ia berusaha naik ke atas pundakmu. Seperti ia memanjat tebing-tebing sunyi di hatinya.
Di kantung celananya terselip botol minuman cap tikus sambil melayang-layang di udara, ia berucap.
"Wahai Bulan sabit engkau bagai kalung yang pantas untuk leherku. Maka sabitlah aku, sabitlah jangan kau ragu agar aku bisa terlelap menemanimu di setiap malam-malammu."
Bulan diam tak bersuara di lihatnya pemabuk itu seorang diri, wajahnya berwarna merah, matanya merah. Di hatinya penuh darah.
Dan sekali lagi terdengar ia meracau sambil tangannya meninju udara malam tanpa kesadaran.Â
Lalu bulan menghilang di balik awan, pemabuk jatuh terlentang.
Handy Pranowo
18112021
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI