Di akhir jaman ini kita lebih sering melihat senjata udara beterbangan di bandingkan dengan kunang-kunang.
Mereka hinggap di mana saja, meledak, menimbulkan kematian dan luka-luka.
Perang adalah perbincangan tanpa kata-kata yang seringkali menyeret nama Tuhan di dalamnya.
Dan perdamaian adalah kata kunci yang sulit di cari di antara dendam dan permusuhan.
Dunia telah banyak di kecewakan oleh manusia sebab kejahilan dan pengkhianatan.
Berapa banyakkah manusia yang berpikir tentang keselamatan bagi sesama?
Betapa mereka lebih menginginkan kematian saudara-saudaranya.
Mereka menciptakan neraka di dunia namun mendambakan surga di akhir hayatnya.
Kita yang tak pernah bisa menahan diri, angkuh dan sombong menampakkan wajah-wajah keji.
Senapan mesin dan bom yang jatuh bagai paduan suara mengisi telinga dan ruang hati.
Sementara Tuhan menangis di antara gedung-gedung yang runtuh, di tengah kobaran api.
Dan anak-anak menjadi yatim, orang tua kehilangan akalnya, wanita-wanita menjerit putus asa putra-putrinya mati sia-sia.
Para pemimpin negara terus berpidato teriakkan perdamaian namun tak pernah berani menghentikan pembuatan senjata mematikan.
Apakah ada perdamaian di tengah-tengah perlombaan pembuatan pabrik senjata? selain perang, perang dan perang.
Lalu para tokoh agama berkhotbah di mimbar, khotbah yang sama tentang perdamaian sambil di selingi caci maki kepada mereka yang tak sepaham, yang tak seiman.
Apakah ada di ajarkan untuk mencaci maki kepada mereka yang tidak seiman, sedangkan inti semua agama adalah berbuat kebajikan, menciptakan kedamaian.
Semua umat mengaku yang paling maju dan paling baik serta yang paling dekat dengan Tuhannya.
Namun pada kenyataannya mereka lebih sering membunuh dan menaruh dendam antar sesama.
Dunia sebentar lagi hancur, akibat ulah manusia yang tak pernah mau menciptakan kedamaian bagi dirinya sendiri.
Dan Tuhan masih menangis hingga meleleh air matanya menjadi hujan yang paling gersang bagi bumi.
Handy Pranowo
26052021
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI