Apakah mungkin, bila pohon yang dianggap keramat ditebang untuk antisipasi pohon tumbang?
TULISAN ini didasari kekhawatiran teman saya di Cilegon, Banten, yang hendak mudik ke Banjarnegara melalui exit tol Pemalang-Purbalingga. Yang mendasari adalah musibah mobil tertimpa pohon, Sabtu (6/3/2021) kemarin.
Empat dari delapan penumpang mobil asal Cilongok, Banyumas meninggal dunia di lokasi, Desa Semingkir, Kecamatan Randudongkal, Pemalang.
Sungguh malang para korban. Tentunya ikut berduka cita mendalam kepada keluarga korban, dan mendoakan semoga korban luka-luka, yang di antaranya masih anak-anak segera sembuh.
Kembali ke rasa khawatir teman saya yang hendak mudik tadi. Dia merasa cemas, musibah serupa bisa terulang. Pasalnya, ada pohon peneduh jalan besar di rute Pemalang-Randudongkal-Belik-Purbalingga.
Sejak dibangun jalan tol Pantura, jalur Pemalang-Purwokerto melalui Purbalingga dan Randudongkal ini menjadi ramai. Tentunya, potensi peristiwa pohon tumbang tersebut perlu diantisipasi.
Dua Pohon Randu Jajar
Tapi mungkinkah? Mengingat di jalur tersebut khususnya di Desa Sikasur, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang terdapat pohon randu jajar. Disebut jajar karena dua pohon randu besar dan tua ini saling berseberangan. Persis mengapit jalan raya yang ramai tadi. Sejak kapan pohon itu tumbuh, diperkirakan usianya sudah ratusan tahun. Pohon tersebut berada di bulak, jauh dari permukiman, dan berada di jalur menikung.
"Kalau ditebang, sepertinya tidak ada yang berani. Sudah dianggap keramat," kata teman main saya itu.Â
Dari penelusuran daring yang saya lakukan, pohon tua dan keramat rata-rata dibiarkan sampai tumbang sendirinya. Misalnya seperti asal nama Randudongkal (nama kecamatan di Pemalang). Nama itu muncul karena adanya pohon randu keramat di wilayah setempat yang hendak ditebang namun tidak ada yang berani. Kemudian pohon tua itu roboh 'dongkal' dengan sendirinya. Di lokasi lain, di Situbondo, Jawa Timur juga kurang lebih demikian. Pohon tua dan dianggap keramat tumbang ke jalan karena tidak ada yang berani menebang. Beruntung tidak ada yang menjadi korban.
Mitigasi Pohon Rawan Tumbang
Menebang pohon dikandung maksud sebagai langkah preventif mengantisipasi musibah pohon tumbang mengenai pengguna jalan. Atau mungkin ada mitigasi lain tanpa menebang kedua pohon tersebut?
Peristiwa pohon tumbang mengakibatkan empat pengguna jalan meninggal di atas patut menjadi warning pemangku kepentingan. Jangan sampai, peristiwa nahas berulang.Â
Salah satu cara yang memungkinkan dilakukan adalah mitigasi menghitung jumlah pohon peneduh jalan besar / rawan tumbang di jalur Pemalang-Purbalingga-Purwokerto. Pohon-pohon peneduh jalan yang sudah tua atau rawan tumbang untuk dihitung. Bila ada yang darurat tebang, segera pangkas.
Kemudian diberi tanda peringatan bagi pengguna jalan. Misalnya : "hati-hati saat melintas", "Rawan Pohon Tumbang", dan lainnya. Sepengamatan saya, di  lokasi jalan Pemalang-Purwokerto belum terdapat papan peringatan serupa. Bila tidak memungkinkan ditebang karena faktor kearifan lokal hingga spiritual, ya di lokasi jalan diberi tanda agar saat terjadi angin dan hujan untuk sementara lalu lintas dialihkan (bila memungkinkan) atau berhenti sementara. Tidak kalah penting, bacalah doa dan hati-hati selalu saat bepergian.
Semoga dengan upaya preventif, potensi bahaya pohon tumbang bisa dicegah. (*)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI