Ada perasaan kurang nyaman ketika harus memaksa anak saya bergabung dengan anak-anak lain hingga akhirnya kami putuskan untuk jalan-jalan keliling kampung sembari melihat beberapa rombongan takbir keliling. Tren takbir keliling saat ini didominasi dengan lantunan takbir remix dj tiktok sehingga beberapa peserta takbir keliling terlihat nyaman bergoyang. Wkwkwk.
#Hari keempat, Sabtu 22 April 2023
Sabtu pagi, Sebagian besar warga di kampung melaksanakan shalat Id. Saya memutuskan untuk bersih-bersih rumah serta menata toples toples untuk distandbykan di ruang tamu dengan konsep lesehan. Dayu anak pertama saya ingin sekali melihat penerbangan balon udara. Tapi ditunggu-tunggu informasinya ternyata tidak jadi ada penerbangan balon. Sebagai gantinya kami hanya bisa melihat balon balon terbang dari arah desa sebelah. Pasti membawa rentengan petasan sehingga menimbulkan suara ledakan yang sangat khas dan ngangeni.
Suasana kampung saya saat ini telah jauh berbeda. Banyak orang-orang tua yang dulu jadi jujugan ujung/badan sekarang sudah meninggal sehingga agenda ujung ke tetangga menjadi sangat sedikit. Sebut saja diantaranya Wo Mi, Mbah Suhab, Wo Dah, Wo Rah, Mbah Zakiyah, Mbah Samsuddin. Semua sudah meninggal. Akhirnya kami hanya ujung di tempat dekat-dekat saja. Saya dapatkan informasi dari Mas Ririt tetangga saya bahwa saat ini pemuda setempat disurati dari Polsek untuk tidak bermain petasan dan balon udara pada hari raya Idul Fitri. Surat tersebut tampaknya manjur juga dan permainan balon udara baru diterbangkan pada H+2.
Sore hari masih di hari pertama Idul Fitri (versi pemerintah) saya melajukan motuba bersama keluarga saya menuju ke tempat budhe saya di Tempuran atau yang lebih familier dipanggil mbah Ibu. Perjalanan melewati Mendut, Kalinegoro, Tanjung dan bablas ke Tempuran. Sudah menjadi agenda tahunan, setiap lebaran saya pasti selalu ke rumah budhe.
Sampai di rumah mbah Ibu hari sudah malam dan tak disangka malam itu Sebagian besar saudara saya pada datang berkumpul padahal tidak janjian sebelumnya. Alhamdulillah senang rasanya bisa berkumpul bersama sembari bercerita-cerita.Â
Salah satu cucunya pakdhe saya yang bernama Ikarina Dewi tanggal lahirnya hanya terpaut sedikit dengan istri saya dan kami kenal juga sudah agak lama ditambah lagi hari perkawinan kami yang tidak terpaut jauh sehingga kami bisa segera akrab. Salah satu hal yang diajarkan dia yaitu makan tape ketan pakai emping mlinjo. Jadi emping mlinjo dijadikan sendok untuk mengambil tape ketan. Katanya setelah mencoba kita akan ketagihan. Namun setelah dicoba menurut saya biasa saja.