Mohon tunggu...
Hameeda Fuad
Hameeda Fuad Mohon Tunggu... Guru - Creative Teacher Trainer

Saya Hameeda, seorang istri dan ibu dari 4 orang anak. Saya membantu guru agar memiliki cara berpikir kreatif dan inovatif, membantu lembaga untuk memiliki SDM unggul, kreatif dan inovatif melalui kegiatan pelatihan, mentoring dan coaching. Saya menulis modul untuk guru dengan judul 'Make Creativity a Habit'. Modul ini telah diaplikasikan pada pelatihan-pelatihan di pelbagai forum pelatihan lembaga pendidikan di sejumlah daerah diantaranya Aceh, DKI Jakarta, Tangerang, Sukabumi, Kuningan, Tegal, Purwidadi, dll

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Berapa Jumlah Guru yang Tersisa?

29 Desember 2022   16:00 Diperbarui: 29 Desember 2022   16:01 400
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

BERAPA JUMLAH GURU YANG TERSISA?

By: Hameeda Fuad

Kita tahu sejarah ini: Dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, dijatuhi bom atom Amerika Serikat. Akibatnya, pada 15 Agustus 1945 Kaisar Hirohito mengumumkan Jepang menerima kekalahan dari tentara sekutu. 

Tapi tak banyak yang tahu persitiwa seputarnya: Saat Jepang terpaksa menyerah kepada sekutu, Kaisar Hirohito mengumpulkan semua jenderalnya dan bertanya, "Berapa jumlah guru yang tersisa?" Para jenderal pun bingung dan menegaskan bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi Kaisar walau tanpa guru. 

Namun, Kaisar Hirohito menegaskan, "Kita telah jatuh karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang, tetapi kita tidak tahu bagaimana membuat bom sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak belajar, bagaimana kita akan mengejar mereka? Kumpulkan guru-guru yang masih tersisa di seluruh pelosok negeri ini. Sekarang kepada merekalah kita akan bertumpu, bukan pada kekuatan pasukan."

Kita juga tahu bahkan mengalami ini: Virus Covid-19 pertama kali ditemukan di Wuhan China pada Desember 2019. Setelah itu terjadi penularan mendunia dan pada 11 Maret 2020 WHO mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi.

Tapi tak banyak yang tahu bagaimana guru dapat membantu mengatasinya: Saat korban sakit dan meninggal akibat Covid-19 terus bertambah kita ajukan pertanyaan serupa, "Berapa jumlah great teacher yang tersisa?" Semua yang mendengar mungkin bertanya-tanya mengapa yang ditanyakan great teacher. Apa bedanya guru dengan great teacher? Kita bisa ajukan jawaban serupa "Menghadapi Covid-19 tidak cukup hanya dengan mencari obat untuk mengatasinya. Kita harus belajar bahwa untuk bangkit kita membutuhkan mental untuk mengalahkan virus ini. Kepada Great Teacher lah kita bertumpu". 

Semua guru mengajar. Semua siswa belajar. Apa yang guru ajarkan menentukan apa yang siswa pelajari. Beda jenis guru, beda karakter siswa yang dihasilkan. Bagaimana respon siswa terhadap Covid-19 dipengaruhi oleh jenis guru yang mengajarkan kepada mereka.

Mediocre Teacher hanya bercerita di kelas tentang sejarah Covid-19, tentang bagaimana virus ini menelan begitu banyak korban jiwa dan tentang pemerintah menerapkan kebijakan. Dengan cerita ini, dirinya dan para siswa bertambah pengetahuan tapi boleh jadi malah menambah hidup makin was-was dan cemas.

Good Teacher menjelaskan bahwa Covid-19 bukan satu-satunya virus mematikan dalam sejarah umat manusia. Ia terangkan bahwa menjaga prokes dapat mencegah tertular virus. Ia uraikan perbedaan varian Covid-19; Alpha, Beta, Delta hingga Omicron. Penjelasan ini bisa menambah wawasan dan sekaligus bisa menyebabkan siswa menganggap wajar jika ia tidak berdaya.  

The Superior Teacher mendemonstrasikan hubungan antara Covid-19 dengan masalah politik. Ia tampilkan data dampak virus ini terhadap ekonomi masyarakat. Ia tunjukkan perbandingan data kematian akibat Covid-19 dan akibat virus lain dalam sejarah manusia. Ia tunjukkan bagimana covid menimbulkan kecemasan, ketegangan dan konflik di  masyarakat. Dengan ini siswa bisa semakin cerdas tapi mungkin miskin empati.

The Great Teacher memberikan pengetahuan seputar virus ini, mengajarkan keterampilan bagaimana melakukan prokes, memberikan motivasi agar tidak terpuruk. Lebih dari itu, ia menginsipirasi siswa agar menjadi relawan meski ia sendiri terpuruk. Mendorong mereka untuk memberdayakan para korban meski keluarganya sendiri terdampak. Menyemangati kolega guru untuk tetap melayani siswa meski ia sendiri harus membenahi rumah tangganya.

The Great Teacher menjadikan Pandemi Covid-19 justru untuk menginspirasi siswa bahwa manusia adalah perwakilan Allah di muka bumi. Dengan akalnya ia harus mampu menggunakan ilmu dan teknologi untuk menaklukan virus itu. Covid-19 hadir bukan untuk melemahkan, tapi justru harusnya membuat kita lebih kuat dan tangguh.

Karena Great Teacher, siswa memutuskan:

Aku bisa bersikap untuk hidup lebih sehat, bukan meratapi taqdir jadi korban Covid-19.

Aku bisa putuskan bertobat, bukan mengeluh betapa susahnya hidup karena virus ini.

Aku bisa lebih kreatif dalam pembelajaran, bukan menunjukkan ketidakberdayaan.

Aku bisa angkuh terhadp Covid-19 sambil tunduk kepada Allah agar diberi kekuatan.

Kita adalah petarung, tidak tunduk pada apapun yang jadi masalah, sambil tunduk kepada Allah SWT. "Aku bukan produk dari lingkungan. Tapi aku adalah produk dari keputusanku sendiri". Begitu kata Stephen Covey.

Terima kasih William Arthur Ward yang mengajarkan perbedaan jenis guru:

The mediocre teacher tells.

The good teacher explains.

The superior teacher demonstrates.

The great teacher inspires.

Bekasi, 29 Desember 2022.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun