Bahasa Inggris sudah menjadi mata pelajaran yang dipelajari sejak SD sampai SMA. Berbeda dengan waktu saya sekolah dulu yang mana saya mendapat pelajaran bahasa Inggris hanya di SMP dan SMA.Â
Seharusnya kualitas berbahasa Inggris generasi muda saat ini lebih baik. Karena wajib belajar 12 tahun, seharusnya calon lulusan SMA/SMK bisa berbahasa Inggris dengan baik, karena selain sudah 12 tahun belajar bahasa Inggris, juga karena bahasa Inggris sudah bertahun-tahun sejak zaman ORBA sampai masa reformasi selalu menjadi mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional (UN) di tingkat SMP dan SMA/SMK.
Seharusnya mereka lancar casciscus dalam bahasa Inggris.Â
Kenyataannya?Â
Kebanyakan dari murid-murid saya, siswa-siswi SMA/SMK kelas tiga atau XII yang sebentar lagi lulus (sebagai gambaran kecil), jangankan lancar casciscus. Untuk menjawab pertanyaan sederhana seperti "Where do you live?" saja perlu mikir panjang kali lebar.
Pengalaman sebagai guru bahasa Inggris selama 20 tahun lebih membuat saya bertanya dalam hati. Dalam benak, ada pertanyaan, "Mengapa kebanyakan orang Indonesia tidak bisa berbahasa Inggris (dengan baik)?"
Kenapa "dengan baik" saya masukkan dalam kurung?Â
Karena sebenarnya orang Indonesia bisa berbahasa Inggris, namun tingkat kemampuannya masih belum begitu baik. Masih belum menggembirakan.Â
Setelah saya mengamati, saya menyimpulkan bahwa ada tiga penyebab kenapa kebanyakan orang Indonesia tidak bisa berbahasa Inggris (dengan baik).
1. Tidak mengetahui (secara mendalam) kalau struktur tata bahasa (Grammar) Inggris sangat berbeda dengan struktur tata bahasa Indonesia
Misalnya, dulu waktu kuliah, teman saya, sebut saja Pak Doni, pernah mengatakan "sonfruit" yang dia artikan sebagai "anak buah"; "foothand" yang dia maknai sebagai "kaki tangan"; dan " car red" yang dia maksudkan sebagai "mobil merah".
Ini baru satu hal. Belum lagi dalam hal lain semisal bentuk waktu (dalam bahasa Inggris disebut "Tenses").
Dalam bahasa Indonesia, tidak ada perbedaan dalam menerangkan kejadian di masa lampau, sekarang, dan yang akan datang.Â
Sebagai contoh :
Saya pergi ke Jakarta kemarin.
Saya sedang pergi ke Jakarta sekarang.Â
Saya akan pergi ke Jakarta besok.Â
Yang berbeda adalah penambahan kata keterangan waktu (kemarin, sekarang, dan besok) dan kata kerja bantu seperti "sedang" dan "akan".
Tidak terlalu berbeda jauh.Â
Namun dalam bahasa Inggris, perbedaan ketiga kalimat dalam bentuk waktu lampau, sekarang, dan akan datang sangatlah jauh berbeda.Â
Dalam bahasa Inggris, ketiga kalimat sebelumnya menjadi:
I went to Jakarta yesterday.Â
I am going to Jakarta now.Â
I will go to Jakarta tomorrow.Â
Anda lihat? Ketiga kalimat dalam bahasa Inggris di atas sangat berbeda jauh dalam bentuk struktur kalimatnya. Ini baru tiga tenses, yaitu Simple Past Tense, Present Continuous Tense, Dan Simple Future Tense (sesuai dengan urutan kalimat di atas).
Padahal, ada 16 tenses dalam bahasa Inggris!
Saya juga kaget waktu mendengar beberapa murid les saya yang saya baru ajar saat mereka di kelas 3 SMA/SMK atau kelas XII dan sebentar lagi ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.Â
Hal yang membuat saya kaget adalah jangankan 16 tenses, tiga tenses dasar seperti yang di atas barusan juga mereka tidak tahu kapan mengunakannya!Â
"Apa perbedaan Simple Past Tense, Present Continuous Tense, dan Simple Future Tense, Pak?" tanya Dodi (nama samaran), salah seorang murid les saya yang sekarang duduk di kelas XII SMA.Â
Saya cuma bisa geleng-geleng kepala (dalam hati) dan tepok jidat (juga dalam hati).
Saya pikir, setelah melihat dari sisi sekarang, seharusnya generasi milenial dan now lebih menguasai bahasa Inggris dibanding generasi zaman saya dan era sebelumnya. Kenapa bisa begitu?Â
Karena saya dulu setengah mati mencari sumber-sumber, referensi-referensi, buku-buku dalam bahasa Inggris dan yang berhubungan dengan metode pengajaran bahasa Inggris.Â
Sekarang kan sudah mudah mendapatkan materi bagaimana belajar bahasa Inggris. Caranya dengan membaca blog-blog yang mengajarkan tentang bagaimana menguasai bahasa Inggris dan juga menonton video-video pembelajaran bahasa Inggris di YouTube.Â
Apa yang dilakukan oleh kebanyakan generasi milenial dan now? Mayoritas dari mereka gemarnya menonton video hiburan seperti nge-prank atau hedonisme beberapa artis; dan main game online, apalagi di masa "libur sekolah" saat ini.Â
Saya sangat menyayangkan kebiasaan-kebiasaan tidak produktif seperti nonton video hiburan dan main game online yang tidak berhubungan sama sekali dengan peningkatan keterampilan berbahasa Inggris.Â
Kan lebih baik menggunakan gawai untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris (dan juga untuk belajar hal-hal positif lainnya) daripada melakukan kedua kegiatan unfaedah dan meratapi nasib kenapa tidak bisa berbahasa Inggris.Â
2. Ada stigma "pamer" kebisaan berbahasa Inggris di mayoritas pola pikir orang Indonesia
Dulu, waktu saya masih kuliah, kebanyakan orang yang saya temui menganggap saya "aneh" sewaktu berbahasa Inggris. Padahal saya berbahasa Inggris dengan teman yang juga bisa berbahasa Inggris. Saya tidak berbahasa Inggris dengan mereka yang menganggap saya "aneh" dan "pamer" kebisaan berbahasa Inggris.Â
"Wih, bahasa dari planet mana tuh?"Â
"Udah. Pake bahasa Indonesia aja. Cintai produk dalam negeri."
Komentar Rini dan Gunawan (keduanya bukan nama sebenarnya) adalah salah dua di antara banyaknya komentar miring yang saya dapat.Â
Herannya, komentar-komentar sejenis juga berasal dari beberapa mahasiswa-mahasiswi yang kuliah di prodi yang sama, yaitu pendidikan bahasa Inggris di mana saya kuliah!Â
Yah, menjadi berbeda memang sulit. Mau maju tidaklah mudah.Â
Saya pribadi tidak memusingkan dan tidak memedulikan apa kata orang lain. Kita mau maju. Sejauh halal dan tidak merugikan orang lain, kita tidak usah peduli nyinyiran orang lain.Â
3. Kurangnya dukungan pemerintah terkait keberadaan komunitas dan ekskul bahasa Inggris di sekolah, lembaga pendidikan, dan masyarakat; serta kurikulum-kurikulum yang terlalu berpusat pada hasil "nilai" daripada hasil "keterampilan"
Saya punya beberapa murid les yang menceritakan kalau di sekolah-sekolah mereka, SMP dan SMA/SMK, ekskul English Club kurang diminati siswa-siswi.Â
Membosankan. Begitu kata mereka. Guru pembina ekskul juga tidak memberikan inovasi dan terobosan baru selain hanya berkumpul di satu hari tertentu dan berdiskusi. Tidak ada program yang lain selain berdiskusi.Â
Malah ada murid-murid les saya yang mengatakan kalau ekskul english club di sekolah-sekolah mereka sudah tidak ada lagi. Hilang, karena tidak ada peminatnya.Â
Kalau seandainya ada stimulus dari pemerintah daerah untuk kemajuan penguasaan bahasa Inggris para pelajar, niscaya para pelajar akan mahir berbahasa Inggris.
Stimulus itu bisa berupa dana khusus untuk pengembangan english club di sekolah-sekolah supaya kegiatannya tidak berdiskusi melulu.Â
Selain itu, ada pelatihan untuk guru-guru bahasa Inggris supaya mereka bisa mendapat "ilmu baru" yang mereka dapat terapkan di dalam proses belajar mengajar di sekolah dan di ekskul english club.Â
Kurikulum juga alangkah baiknya "dirombak total".Â
Bagi saya pribadi, dari sejak SMP sampai jadi guru saat ini, kurikulum-kurikulum yang ada dulu sampai dengan sekarang hanya berpusat pada hasil "nilai" daripada hasil "keterampilan".
Di dalam kurikulum, memang ada tertuang dengan indah tentang penerapan "kemampuan berbahasa Inggris" dari segi Speaking dan Writing.Â
Tapi dalam kenyataannya, ujian hanya sebatas pilihan ganda dan juga proses belajar mengajar yang menjemukan menjadi realita yang tak terbantahkan.Â
Janganlah hanya wow di tampilan tertulis sampai berlembar-lembar, tapi memble dalam penerapan.Â
Mudah-mudahan Pak Nadiem Makarim selaku Mendikbud bisa mengejawantahkan kurikulum yang ramah anak dan berbasis keterampilan yang mumpuni. Bukan sekadar mengejar nilai memuaskan semata.Â
Demikianlah sekadar menuangkan uneg-uneg yang sekiranya bisa bermanfaat bagi Anda semua (syukur-syukur kalau Pak Nadiem membacanya ^_^).
Intinya, menguasai bahasa Inggris atau berbahasa Inggris dengan baik sebenarnya tidak sulit.Â
Perlu adanya kemantapan hati untuk mau berbahasa Inggris dengan baik, lalu lakukan tindakan nyata untuk menguasainya. Bukan hanya retorika atau angan-angan belaka. Belajar bisa lewat apa saja saat ini; tanpa batas waktu, tempat, dan biaya. Internet memungkinkan itu.Â
Hendaknya tidak ada lagi stigma miring tentang orang lain, teman sekelas, teman kuliah, rekan, atau teman sekerja, saat mereka berbicara dalam bahasa Inggris. Sebagai negara yang statusnya "negara maju" (tidak ber-flower lagi ^_^), sudah seharusnya kita bisa berbahasa Inggris dengan baik.
Untuk para pelajar, kalau ada, ikutlah ekskul english club di sekolah-sekolah kalian. Talking time kalian akan lebih banyak tersedia di english club dibanding di dalam proses belajar mengajar di ruang kelas. Aktif dalam ekskul tersebut. Beri saran kegiatan-kegiatan apa yang menarik untuk dilakukan.Â
Bagi para guru bahasa Inggris, jangan berpuas diri dengan ilmu yang kalian punya sekarang. Tetaplah belajar, mencari "ilmu" baru seputar pembelajaran bahasa Inggris.Â
Jangan juga pesimis dengan kondisi saat ini. Jadilah kreatif. Ciptakan suasana belajar menjadi menarik dan menyenangkan untuk peserta didik.Â
Semoga saja kurikulum yang Pak Mendikbud utarakan kelak akan mencerminkan impian kita semua yaitu belajar yang menyenangkan, tanpa paksaan, sehingga bahasa Inggris bisa menjadi mata pelajaran favorit yang mudah untuk dikuasai, bukan seperti sekarang yang seakan berada di "menara gading". Tidak dimengerti dan menjadi sekadar teori, plus nulis terus tanpa henti.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI