Ketegangan, tingkat stress tinggi bisa diturunkan karena membaca hal-hal lucu dari artikel-artikel humor tadi.Â
Saya pikir, "Luar biasa sekali orang-orang ini. Mereka bisa menulis seperti ini. Padahal latar belakang mereka bukanlah dari kalangan jurnalis. Mereka hanyalah masyarakat awam biasa yang pekerjaan sehari-hari sangatlah jauh dari dunia tulis menulis, namun mereka bisa merangkai kata demi kata dengan begitu apiknya."
"Andai aku bisa menulis seperti mereka."
Waktu itu saya belum pede untuk ikut andil menulis di kompasiana. Saya ini siapa! Nanti malah diketawain kalau hasil tulisan jelek.Â
Mungkin sekitar dua tahun, saya cuma jadi silent reader. Cuma sekedar membaca, tanpa pernah andil menyumbangkan tulisan.Â
Namun pada akhirnya, saya jadi bosan cuma jadi penggembira, penonton, yang tidak memberikan sumbangsih dalam bentuk pemikiran.
Kira-kira pertengahan tahun 2016 (kalau tidak salah), saya registrasi menjadi anggota dari Kompasiana tercinta ini. Namun waktu itu, saya tidak langsung menulis, karena selain kesibukan mengajar, juga masih belum yakin memposting artikel.Â
"Apakah ada yang baca nanti?"
Itu pemikiran saya dulu. Rasa minder yang seharusnya tidak perlu ada. Penulis besar saat ini pasti dulunya memulai dari nobody.Â
Sampai pada suatu titik, saya memberanikan diri memublikasikan karya saya di Kompasiana. "Biarin aja apa kata orang." Saya sih berprinsip 'hajar bleh' aja hehehe ^_^.
Judul artikel perdana saya itu adalah Belajar dari Ironman. Saya sih nothing to lose aja waktu mosting. Ada yang baca ya syukur. Kalau gak ada ya sudah.Â