Pantai-pantai berpasir putih. Air laut biru berkilau diterpa sinar matahari. Nyiur melambai seturut angin. Kota kecil dengan museum yang besar tentang sebuah episode di Perang Dunia II. Semua terdapat di Pulau Morotai. Pulau kecil di utara Halmahera ini adalah destinasi wisata yang ciamik. Ada pantai, ada perbukitan, dan ada sejarah.
Saya tinggal sekitar dua minggu di Pulau Morotai pertengahan November kemarin. Di sebuah pemukiman yang terbilang baru di pesisir tenggara pulau cantik ini. Dalam rangka memasang alat deteksi longsor. Bersama empat rekan setim, saya juga sempat mendatangi beberapa tempat turisme di sana.
Pusat keramaian Morotai ada di Daruba di bagian selatan pulau. Terdapat sebuah bandara yang melayani penumpang dengan penerbangan rutin sekali sehari dari dan ke Ternate. Ada pelabuhan speedboat yang bisa disewa untuk rekreasi ke pulau-pulau kecil di sekitar Morotai. Ada pula pelabuhan feri tempat kapal dari Tobelo dan Ternate sandar.
Meski terpencil jauh dari kota besar, Morotai adalah sebuah nama yang tertulis dalam sejarah. Pada suatu fase di Perang Pasifik, Morotai menjadi basis kekuatan sekutu dalam pertempuran melawan Jepang. Jenderal Douglas McArthur, panglima pasukan sekutu di front Pasifik, memimpin 40.000 pasukannya menduduki Morotai yang sebelumnya dikuasai Jepang. Di Daruba ia membangun tujuh landasan pacu. Menerapkan strategi lompatan katak sebelum merangsek ke medan pertempuran yang lebih besar di Mindanao.Â
Momen dramatis itu terjadi di suatu hari Jumat di bulan September 1944. Hanya sekitar 500 orang serdadu Jepang yang menjaga Pulau Morotai. Tak bertahan lama sebelum kemudian mundur ke belantara, sembari masih memberikan serangan-serangan kejutan sampai perang berakhir di Agustus 1945. Bantuan datang dari Halmahera dan Kalimantan. Pesawat Jepang menyerang sekutu dari udara dan dari meriam-meriam di seberang laut Halmahera. Tapi Jepang tak bisa mengubah keadaan. Banyak pesawatnya berakhir karam dan kini nasibnya menjadi salah satu pertunjukan menarik alam bawah laut Morotai.
Di dekat lokasi pendaratan kapal-kapal perang sekutu di Red Beach, kini dibangun Museum Pertempuran Morotai itu. Bangunannya megah dan artistik. Memuat berbagai macam sisa peralatan perang dan foto-foto peperangan dalam empat ruang yang tertata rapi. Setiap bagian dilengkapi keterangan, menceritakan kronologi pertempuran. Museum ini tutup terkunci waktu kami mampir di suatu siang. Namun ada penjaga yang kemudian membukakan pintu dan memandu kami berkeliling. Pak Muhris Eso namanya. Menjelaskan hal-hal seputar perang dan isi museum secara mendetail dan bertenaga. Rupanya ia bukan sekedar penjaga, melainkan juga salah seorang pelopor pelestarian benda-benda sisa perang dan telah menjadi pengelola museum sejak masih berupa bangunan kecil di samping perusda. Rasa pedulinya yang awet berasal dari penemuan granat, peluru, senapan, di kampung asalnya di Morotai Selatan.
Menyibak lautan ke arah barat, melalui pulau-pulau yang sebagian berpenghuni dan sebagian tidak, tujuan utama adalah ke Pulau Dodola, titik wisata yang paling banyak dikunjungi. Pulau kecil ini terpisah menjadi dua pulau setiap laut pasang. Saat surut, Dodola Kecil dan Dodola Besar terhubung oleh tubuh pasir putih yang memanjang serupa jembatan. Bagian terbaik dari Pulau Dodola adalah gradasi warna laut dari biru tipis dan bening menjadi biru tua.
Pulau Zum-zum juga terkenal. Tak berpenghuni, namun bersejarah. Konon Jenderal Douglas McArthur banyak menghabiskan waktu di sana. Menenangkan diri dan merenungkan strategi untuk melumpuhkan Jepang. Di Pulau Zum-zum juga terdapat sisa-sisa kapal yang tinggal besi-besi berkarat teronggok di pantai. Di sana kini dibangun patung sang panglima pasukan sekutu dan dalam ukuran besar dibuat tulisan: Zumzum McArthur Island.
Sejarah yang dicatat dengan baik dan keasrian pulau tropis menyusun kombinasi rasa yang unik. Sekali waktu hembusan angin membawa damai. Tenang datang membayangkan diri menjadi perahu-perahu kecil yang bergoyang di atas ombak. Istirahat di bawah langit yang memerah saat senja, menanti sang pemilik kembali membutuhkannya untuk mengail esok hari. Tapi gejolak terasa di lain waktu.
Membayangkan kenangan akan ketegangan yang terjadi jauh sebelum kita lahir, di tahun-tahun penting seputar pendirian republik dan perubahan tata kekuasaan dunia. Granat dan basoka berkarat terpajang bercerita betapa  manusia bisa sangat bernafsu untuk saling membinasakan, sementara hamparan pasir putih dan ombak kecil yang pecah di tubuhnya seakan membelai menenangkan, membisikkan sisi damai dari dunia.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H