Mohon tunggu...
Hadenn
Hadenn Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Football and Others

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Bukan Cuma Kemelaratan, Tetapi Juga "Badai Kelelahan" Dialami Gen-Z (1/2)

23 Juni 2024   19:48 Diperbarui: 26 Juni 2024   13:24 150
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kemiskinan, salah satu problem belum terselesaikan di negeri ini, bukti ketika Tapera menjadi satu fenomena bisa dibilang realitas harus diterima oleh semua, terlebih gen z. Benar, karena ketidakmampuan generasi satu ini dalam membeli rumah pemerintah menerbitkan Tapera, berdasarkan logika ini secara tulus bisa dikatakan gen z miskin.

Kesejahteraan memang ada di mana-mana dalam gadget, tetapi sangat jauh dalam kehidupan sehari-hari generasi satu ini. Bukan cuma kesulitan membeli rumah, tetapi juga kesulitan persaingan mendapatkan pekerjaan menenggelamkan mereka. 

Dari sini kita akan mencoba mengupas masalah rumit ini secara detail, kita akan dengan senang berusaha mengerti kesulitan dialami gen z, mengapa mereka begitu terjerembap dalam lubang kemiskinan, lantas kenapa dialami kemiskinan begitu melelahkan.

Lebih jauh lagi, kami akan memberikan contoh bermacam hal lebih baik untuk dihindari dalam mencapai kesejahteraan. Memang benar tidak menjamin keberhasilan, tetapi bisa dipastikan memperbesar peluang menuju ke sana.

Perfectionism

Kita semua mengerti semua terlihat sempurna dalam sosial media, bahkan gen z dalam sosial media bisa dibilang berhasil mengalahkan realitas kemiskinan secara keseluruhan. Kesempurnaan dalam berpenampilan, berkeluarga, bersekolah, semua aspek terlihat begitu sempurna selama berada dalam sosial media. 

Kesempurnaan semacam ini mendorong problem baru bagi generasi ini, mereka merasa kesulitan puas atau kegagalan dalam mengejar sesuatu ketika dipertontonkan dengan kesempurnaan semacam ini di mana-mana, atau lebih tepat lagi dalam gadget mereka.

Mengejar kesempurnaan semacam ini cuma akan mendorong kemalasan akan mengejar semua impian sudah direncanakan. Bagaimanapun, perubahan konsep kesempurnaan akan selalu lebih cepat ketimbang semua hal sudah teraih, dan mengejar semua ini juga tidak akan pernah menimbulkan kesenangan.

Kelelahan digital

Dikelilingi oleh paparan sinar digital secara konstan tak terbantahkan sering membuat kita merasa kelelahan, terlebih ketika iklan berubah menjadi lebih singkat dan sering, sebagai penonton secara tidak langsung kita dipaksa untuk tetap berada di sana menunggu iklan selesai.

Selain itu, kita juga mengerti tentang bagaimana orang-orang di luar sana mem-posting momen mereka dalam sosial media, mengonsumsi konten semacam ini bisa dibilang melelahkan, terlebih ketika pengguna memberi perhatian lebih.

Belum lagi, narasi berita-berita di media massa, terutama sejumlah media yang mulai berpikir lebih mementingkan jumlah klik ketimbang isi konten. Fakta di mana kita bisa memberi perhatian terhadap sesuatu tidak dikenal saja sudah melelahkan. 

Sindrom impostor

Kita semua tahu orang-orang memalsukan realitas dalam sosial media, kemudian kita sendiri mencoba mengikuti hal semacam ini dengan memposting sesuatu, tetapi entah bagaimana kegiatan ini justru terasa tidak bisa dibenarkan.

Kamu mengetahui dirimu berbeda, antara dirimu di luar kamar ketika bersama teman dan keluarga dengan dirimu dalam ruangan di mana tidak ada seorang pun melihat, di mana cuma gadget tersisa dalam genggaman. 

Meskipun sindrom impostor ini bisa dibilang lumrah, tetapi dalam sebagian kasus sindrom ini menimbulkan kelelahan luar biasa. Benar, karena ini juga kutipan "berpura-pura kuat melelahkan" pernah menjadi satu fenomenal.

Stres finansial

Ketika berada di antara 20 dan 35 tahun, sebagian besar dari kalian boleh jadi mengalami kesulitan dalam mengatur keuangan, atau lebih tepat lagi berhenti mengejar pembelian dalam nominal fantastis semacam membeli rumah.

Tidak ada kesalahan dari generasi ini, tetapi cara manusia dalam menjalani hidup sekarang sudah berubah, beberapa produk dengan harga terjangkau justru dirancang untuk membuat ketersenjangan semakin tinggi. 

Meskipun, kita semua tahu akan hal ini, tetapi tidak menghentikan gen-z untuk membeli kopi setiap pagi, mereka mengerti produk semacam ini mahal dan tidak sehat secara finansial, tetapi entah bagaimana tetap terus berada dalam lingkaran ini. Benar, ini bukan sebatas tentang kopi.

Majelis Lucu/Youtube.com
Majelis Lucu/Youtube.com

Flex culture

Kita semua mengenal "flexing", di mana tidak ada orang mengalami kebahagiaan atau kepuasan dalam bersosial media. Mereka mengerti sudah terjerembap dalam lubang semacam ini, tetapi tetap tidak mau keluar karena kebutuhan ego mereka untuk terus terlihat lebih baik dari orang lain. 

Selain itu, iklan dan media di sekeliling kita juga turut membombardir keberlanjutan "flexing", mereka berganti dengan begitu cepat, tanpa perlu memikirkan kecepatan konsumen dalam mengonsumsi. 

Hal menarik di sini adalah karena mereka tidak memikirkan kecepatan konsumen, kemudian muncul fenomena "FOMO", konsumen ini bukan kelelahan karena ketinggalan, tetapi justru merasa tertantang untuk terus berubah.

Secara keseluruhan, semua masalah ini memang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia, tetapi justru karena masalah semacam ini baru, sebagai bagian dari gen-z kita harus merasa tertantang untuk mematahkan semua kemelaratan dan "badai kelelahan" ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun