Batam. Kota yang termasuk bagian dari kawasan khusus perdagangan bebas Batam-Bintan-Karimun (BBK). Kota yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia.
Kota Batam begitu dekat dengan Singapura dan Malaysia. Biaya perjalanan dari Batam ke Singapura lebih murah daripada ke Pulau Jawa. Apalagi dalam suasana lebaran seperti sekarang.
Bagi yang lebaran tidak berkantung tebal mana bisa mudik ke Jawa. Lebih baik jalan-jalan ke Singapura. Lebih murah.
Memang benar. Faktanya demikian. Secara saya pernah tinggal di Batam. Jadi kalau ada kerabat yang tinggal di Batam terus lebaran tidak mudik melainkan jalan-jalan ke Singapura. Itu bukan sombong tapi sedang bokek.
Tapi saya tidak akan bercerita tentang suasana lebaran di sana. Melainkan pengalaman pertama saya waktu tinggal di Batam. Yaitu saat nongkrong di kedai kopi.Â
Di Batam itu kedai kopi bertebaran dimana-mana alias banyak. Dan buka sejak pagi, tidak hanya sore hari sampai malam hari saja. Umumnya orang sana kalau ngopi dan sarapan ya di kedai kopi.
Suatu hari saya ngopi di kedai kopi. Dengan PD-nya saya memesan secangkir kopi. Lalu menikmati jajanan yang tersedia di meja. Begitu kopi pesanan saya datang, kaget saya. Kok es kopi yang disuguhkan. Padahal saya kan pesannya kopi saja enggak pakai es.
Begitu saya protes baru dijelaskan. Kalau saya pesan kopi, itu artinya es kopi. Tapi kalau saya pesannya kopi O itu artinya kopi panas. Jadi itu bedanya. Kalau mau kopi panas bilangnya kopi O. Pakai O.
Oooh, begitu ternyata cara memesan kopi di sana. Baru tahu saya. Biasanyakan begitu pesan kopi ya bilang saja kopi satu. Maka yang datang kopi panas. Kecuali mintanya es kopi. Baru yang datang es kopi.
Mau marah bagaimana. Secara ini kesalahan saya. Akibat tidak cari tahu dulu tradisi di sana. Malu bertanya, pesannya apa yang datang apa.Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H