Mari kita menyimak ulang pidato Ketua Umum PP PBSI, Wiranto di momen HUT PBSI ke-69 pada 5 Mei lalu. Dalam pidatonya seperti dikutip dari badmintonindonesia.org, Pak Wir menyampaikan beberapa hal. Salah satunya, mengimbau dan mengajak keluarga besar PBSI untuk terus bersama-sama berjuang melawan Covid-19.
Tidak lupa, meski semua turnamen bulutangkis BWF diliburkan akibat wabah Covid-19, termasuk Olimpiade yang ditunda, Pak Wir tetap menyinggung soal prestasi. Dia berujar begini:
"PBSI berulang tahun ke-69, 69 adalah angka yang istimewa, angka 69 dibolak-balik tetap 69. Artinya dalam kondisi apapun, dalam kesulitan apapun, PBSI akan tetap menghadirkan prestasi yang membanggakan seluruh bangsa indonesia," ujar Wiranto seperti dikutip dari badmintonindonesia.org.
Foto kejayaan masa lalu dan potret pebulutangkis Indonesia masa kini
Nah, bicara prestasi bulutangkis Indonesia, sorotan paling tajam tertuju pada sektor putri. Utamanya pada tunggal putri. Ketika sektor tunggal putra, ganda putra, ganda campuran, mulai rajin meraih gelar turnamen BWF, sektor tunggal putri kita masih seperti 'jalan di tempat'.
Faktanya, selain pencapaian yang belum maksimal di lapangan, rangking BWF tunggal putri Indonesia terus melorot. Pada rangking BWF sebelum dibekukan pada 17 Mei lalu, posisi tertinggi tunggal putri Indonesia ada di rangking 21 atas nama Gregoria Mariska Tunjung. Lalu Fitriani ada di rangking 33 dan Ruselli Hartawan di rangking 35.
Andai Olimpiade tetap digelar tahun ini, dengan penampilan yang angin-anginan, rasanya akan sulit melihat salah satu apalagi dua tunggal putri Indonesia bisa tampil di Olimpiade Tokyo 2020.Â
Maklum, 'tiket' menuju Olimpiade memang berdasarkan rangking BWF yang poinnya berdasarkan penampilan sang atlet di serangkaian turnamen BWF. Di mana satu negara maksimal hanya bisa mengirimkan dua atlet di setiap sektor.
PP PBSI sebenarnya tidak tinggal diam. Mereka paham, sektor tunggal putri memang yang paling harus digenjot. Bahkan mungkin dicambuk. Itu demi untuk bisa mengejar prestasi sektor-sektor lainnya.
Salah satu upaya, PBSI sudah mendatangkan pelatih Rionny Mainaky. Pelatih yang sebelumnya sukses mengasah tunggal putri Jepang ke level elit dunia seperti Nozomi Okuhara (juara dunia 2017) dan Akane Yamaguchi ini diharapkan bisa memoles Gregoria Mariska dkk.
Tetapi memang, perubahan itu tidak mudah. Terkadang, perubahan butuh waktu panjang. Apalagi di olahraga. Perubahan tidak hanya bergantung pada sang atlet. Tapi juga dipengaruhi bagaimana level persaingan di sektor mereka bermain. Karenanya, kita pun harus sangat sabar demi menunggu hasil akhir yang manis.