Hingar bingar kemeriahan Olimpiade Rio 2016 sudah berakhir. Begitu juga pada cabang olahraga bulutangkis telah banyak menghadirkan cerita menarik selama penyelenggaraannya. Dalam klasemen perolehan mendali, Tiongkok memang tetap merajai dengan perolehan (2 – 0 – 1 = 3 , 2 emas, 0 perak, 1 perunggu total meraih 3 medali). Pencapaian Tiongkok ini jelas turun drastis dari olimpiade sebelumnya di London 2012 dimana Tiongkok berhasil menyapu bersih medali emas di lima nomor.
Sebaran medali di cabang Bulutangkis selain Tiongkok adalah: Jepang (1-0-1), Spanyol dan Indonesia (1-0-0), Malaysia (0-3-0), Denmark ( 0-1-1), India ( 0-1-0), Inggris dan Korea Selatan (0-0-1). Dan yang menarik untuk kita bahas saat ini adalah tim bulutangkis Malaysia yang memperoleh 3 perak.
Memang tim bulutangkis Malaysia gagal meraih mendali emas di cabang olahraga bulutangkis. Tetapi dengan melihat hasil pencapaian mereka kita harus angkat topi. Keberadaan tim bulutangkis Malaysia selama ini selalu dipandang berada dibawah bayang – bayang kebesaran tim Indonesia, khususnya di Olimpiade.
Walaupun di nomor tunggal putra mereka memiliki salah serorang “dewa” dalam diri Lee Chong Wei tetapi secara prestasi Malaysia masih dibawah Indonesia. Paling gampang adalah melihat emas yang didapat di olimpiade, Malaysia sampai sekarang belum mampu membawa medali emas bulutangkis ke negara mereka.
Tetapi hasil olimpiade 2016 walaupun kembali mereka tidak bisa membawa medali emas, patut mendapatkan apresiasi. Turun dengan kekuatan yang biasa- biasa saja, kecuali di nomor tunggal putra. Tim Malaysia menjadi tim yang paling banyak meloloskan wakilnya di Final. Dari 10 finalis yang ada, Malaysia menyumbangkan 3 finalis, yakni : Tunggal Putra (Lee Chong Wei), Ganda Putra (Goh V Shem / Tan Wee Kiong), Ganda Campuran (Chan Peng soon/ Goh Liu Ying). Bandingkan dengan Tiongkok yang rajanya bulutangkis yang hanya menyumbangkan 2 finalis, selebihnya hanya satu wakil dari tiap negara. Mari sedikit kita analisa kiprah tim Malaysia di Olimpiade Rio 2016 lalu.
Nama besar Lee Chong Wei memang jaminan mutu untuk meraih medali, sempat diskorsing akibat kasus doping, perlahan namun pasti Lee yang didampingi oleh Hedrawan (Indonesia) berhasil menembus peringkat 1 dunia sesaat sebelum olimpiade digelar, satu kata : luar biasa. Dengan kondisi umur yang sudah tidak muda lagi.
Lee berhasil menunjukkan kerja keras yang luar biasa. Ambisinya untuk meraih emas sepertinya akan segera didapat setelah pada semifinal berhasil mengalahkan “dewa” lainnya yaitu Lin Dan. Tetapi bagaimanapun dia berusaha diatas langirt masih ada langit , Lee akhirnya takluk ditangan Chen Long, 21-18 21- 18. Memang Lee gagal meraih emas tetpi melihat apa yang telah diperlihatkan dari masa lepas skorsing sampai final Olimpiade kita harus angkat topi bagi dia.
Keberhasilan ganda putra Malaysia (Goh V Shem / Tan Wee Kiong) menembus final adalah hal yang sangat fantastis. Datang bukan sebagai unggulan mereka sudah membuat kejutan sejak babak penyisihan dengan mengalahkan Fu Hai Feng / Zhang N. yang adalah ganda nomor dua terkuat didunia. Masuk ke babak selanjutnya lebih hebat lagi pasangan nomor satu dunia Lee Y. D/ Yoo.Y.S dari Korea Selatan mereka libas. Disemifinal mereka kembali menghadapi salah satu ganda terkuat dunia asal Tiongkok Chai B. / Hong W.
Dan sampailah mereka di partai puncak bertemu lagi dengan pasangan TIongkok yang mereka kalahkan di penyisihan grup FU HF/ Zhang N. Rasa optimis untuk menang sebenarnya memang sangat besar bagi pasangan Malaysia. Hanya saja faktor keberuntungan kalau penulis boleh tulis belum berpihak kepada mereka. Lewat pertarunga 3 set yang ketat mereka kalah 21-16 , 11-21, 21-23. Pencapaian yang sangat luar biasa. Bayangkan mereka datang ke Olimpiade sebagai peringkat ke 12 dunia, tetapi berhasil mengalahkan tiga pasangan terbaik dunia dalam waktu seminggu.
Ganda campuran Malaysia datang juga dari peringkat diluar 10 besar dunia pada saat olimpiade dimulai. Mereka berada diperingkat 11. Walaupun pada babak penyisihan mereka kalah dari pasangan kita yang akhirnya meraih emas Liliyana Natsir/Tantowi Ahmad. Mereka kemudian menunjukkan grafik permainan yang terus meningkat.
Milestonenya terjadi pada semifinal dimana mereka berhasil mengalahkan salah satu pasangan ganda campuran terbaik di dunia asal TIongkok Xu Chen / Ma jin. Hebatnya lewat dua set langsung. Walaupun akhirnya kalah kembali oleh pasangan Indonesia di partai puncak tetapi apa yang telah mereka raih adalah sesuatu yang sangat luar biasa.
Bagaimana dengan Tunggal dan Ganda Putri? Untuk tunggal putri Tee Ying Ji memang gagal untuk lolos dari babak penyisihan tetapi setidaknya dia berhasil menang dalam pertandingan pertamanya. Sebelum dikalahkan wakil jepang Akane G. Peringkat tunggal dari pemain Malaysia ini sebelum olimpiade digelar adalah 29. Bandingkan dengan tuggal kita yakni Lindaweni yang berperingkat 25 tetapi tidak meraih kemenangan satupun. Untuk ganda putri Malaysia diwakili oleh Vivian Kho / Woon Khe Wei.
Pada babak penyisihan mereka kalah dari pasangan kita Nitya/Greysa. Namun mereka berhasil lolos kebabak selanjutnya sebagai runner up sebelum ditaklukan pasangan jepang yang kemudian menjadi juara Misaki M. /Ayaka T. pasangan Malaysia ini datang sebagai peringkat ke 15 dunia.
Berkaca dari apa yang telah Malaysia capai, kita harus banyak belajar. Memang tim tersebut belum mendapatkan emas. Satu emas memang tidak bisa dibandingkan dengan 1000 perak sekalipun. Tetapi kita bisa lihat bahwa dengan latihan, metode, starategi, ditambah dengan kemauan dan kemampuan atletnya sendiri, prestasi tinggi bukan mustahil untuk didapat. Walaupun sebenarnya kita tidak diungggulkan bahkan sama sekali tidak diperhitungkan. Seharusnya para pemain Indonesia sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya dapat melangkah lebih jauh.
Di tunggal putra Tommy S. seharusnya di atas kertas dapat melewati hadangan Rajiv Ousep. Untuk minimal melangkah ke semifinal. Di sektor ganda putra apalagi Hendra / Aksan bahkan tidak bisa lolos dari penyisihan group karena menelan dua kali kekalahan. Sungguh sangat disayangkan. Padahal beban emas sebenarnya berada dipundak mereka. Karena mereka datang dengan status pemain ganda nomor 2 dunia.
Ganda putri kita memang sedikit tidak beruntung karena pada babak delapan besar harus berhdapan dengan pasangan nomor dua dunia Tang Y./Yu Yang. Dimana seharusnya mereka tidak bertemu. Hal ini dikarenakan pasanngan Tiongkok tersebut pada penyisihan group tidak berhsil meraih hasil sempurna, jadi mereka lolos sebagai runner – up.
Dan akhirnya bertemu pasangan kita yang menjadi juara group. Pasangan kita kalah telak 21-11 21-14. Yang paling memperihatinkan tentunya adalah perjalanan dari seorang Lindaweni yang tidak meraih kemenangan, bahkan meraih satu set kemenangan pun tidak bisa dari lawan yang berperingkat 42 dunia, dari Vietnam Thi Trang (bandingkan dengan LIndaweni yang ada di 25).
Malaysia sudah menunjukkan indikasi untuk bengkit menjadi pesaing hebat di kancah perbulutangkisan dunia. Memang mungkin sinar seorang Lee Chong Wei bakal meredup, tetapi hasil yang didapat di Rio2016 adalah indikator terbaik untuk melihat bagaimana Malaysia benar – benar akan menjadi momok yang menakutkan untuk persaingan di cabang bulutangkis kedepannya.
Kalau Malaysia tetap konsisten dan secara serius mempersiapkan regenerasi atletnya, maka niscaya pada olimpiade Tokyo 2020 3 perak yang didapat sekarang tidak tertutup kemungkinan akan berubah menjadi 3 Emas. Dan negara – negara yang langganan emas bulutangkis seperti Indonesia mau tidak mau harus juga mempersiapkan diri sebaik – baiknya. Jangan sampai seperti Tiongkok yang turun drastis dari 5 Emas menjadi hanya 2 Emas.
Salam.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI