Lelah ! penat menghantuiku saat ini. Ketika baru saja aku selesai dari kelas X AP 1 dan kini harus mengajar kembali materi yang hampir sama di kelas X AK2. Akhirnya ku buka laptop mungil ini dan kucurahkan apa-apa saja yang mengganjal fikiranku terkait dengan keinginan melebarkan sayap ke cakrawala yang lebih luas.
Menulis ! yah, itulah salah satu cita-cita lama yang selalu terjegal oleh minimnya waktu dan sibuknya aktivitasku sebagai seorang guru. Menumpuknya administrasi guru seakan menjadi tembok raksasa yang menghambat cita-cita menjadi nyata.
Berbagai event menarik dari berbagai ikatan guru maupun ikatan menulis kadang hanya berlalu begitu saja. Aku haus, haus akan peningkatan kemampuan menulis yang bagiku menjadi sebuah hiburan kecil di tengah kesibukan membosankan selama ini. Betapa tidak, menjadi seorang wanita karir sekaligus ibu rumah tangga bukanlah perkara mudah. Ada hal yang kadang terlewat dalam fase kehidupanku yakni fase menghibur diri sendiri alias "me time".
Me time bagiku adalah menulis di sebuah tempat yang sunyi, dimana hanya ada diriku dan laptop yang menemani. Tapi mana mungkin? Ibu rumah tangga adalah pelayan bagi suami dan anak-anak. Profesi guru adalah pelayan bagi anak-anak bangsa dan menjadi seorang pemikir adalah keinginan untuk mengembangkan pemikiran ini jauh melebihi yang ada sekarang.
Mungkikah aku yang sudah setua ini masih bisa berfikir cepat? berfikir ilmiah dan berfikir dunia tanpa batas seperti era yang terjadi saat ini? Aku masih berfikir mungkin. Namun kadang border agama dan keterbatasan fisik lagi-lagi menjadi bumerang manakala aku ingin maju.
Terkadang wanita ditakdirkan harus berada di bawah pria. O, ya? Masihkah hal itu berlaku? Lalu jika aku ragu, bukankah dogma agama yang selalu mengatakan itu? Ternyata pemikiran negara maju masih melekat di kepalaku manakala "kesetaraan gender" menjadi sebuah keinginan yang ingin sekali aku implementasikan dalam keluarga.
Bisakah suamiku memahami bahwasanya kemarahanku selama ini terkadang muncul salahsatunya karena ketidakadilan fungsi-fungsi kerja teknis dalam rumah tangga?
Aku terkadang merasa bersalah, tapi terkadang merasa bersyukur memiliki suami yang tidak terlalu berfikiran kolot. Kami masih sama-sama idealis. Kami terkadang egois dengan kenyamanan diri kami masing-masing. Namun karena cinta kami terhadap anak-anak, kadang kami harus menunjukkan bahwa kami berdua sudah sama-sama dewasa.
Oh Tuhan, sungguh bersyukur hidup sebagai manusia yang segala pemikirannya tidak terlalu melenceng dari panduan hidup yang telah Engkau gariskan. Apapun namanya konsep Tuhan, aku yakin jika kita mengambil pesan-pesan baik di dalamnya maka hidup kita akan bahagia.
Aku merasa bahagia sebagai seorang muslim, dan aku yakin banyak diantara mereka yang juga bahagia sebagai kristiani, sebagai budgist, sebagai penganut-penganut ajaran tertentu, meskipun aku yakni bahwa Islam-lah yang terbaik. Pasti mereka juga mengklaim bahwa pilihan mereka yang terbaik, tapi sudahlah " Lakum Dinukum Waliyadiin".
Aku berada di tengah-tengah siswaku saat ini. Manakala mereka sedang berdiskusi kelompok, aku bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan di dalam benakku hanya untuk sekedar bertanya " kapan kemampuan menulisku akan berkembang?"
Apakah salah jika aktifitas ini kujadikan sebagai ajang hiburan kecil ketika sudah tidak ada individu lain yang mau menjadi pendengar pasif?
Oh laptop, engkau bagaikan seseorang yang begitu sabar mendengar keluhanku. Tanpa protes kau terima semua uneg-unegku tanpa komplain yang berarti. Paling-paling engkau hanya komplain batrei lemah, mouse ngaco atau keyboard error. Namun selebihnya engkau adalah sahabat terbaik bagiku.
Laptop, mungkin engkau harus tahu bahwa aku begitu suka mencurahkan perasaan,,pemikiranku lewat tuts-tuts yang ada di badanmu. Aku ingin maju duhai laptop. Aku lelah dengan komunikasi verbal yang selama ini tidak terlihat jelas rekam jejaknya. Aku ingin menuliskan semua rekam jejak perjalanan hidupku sebelum aku tutup usia.
Menulis, menulis dan menulislah terus hingga kau menemukan nikmatnya menulis karena itu menghibur dirimu. Meregangkan semua masalah di kepalamu dan membuatmu tahu sampai dimana kualitas pemikiran seseorang lewat kemampuan menulisnya.
Tidak peduli masuk aliran apa jenis tulisanmu, menulislah terus. Karena setiap jenis tulisan memiliki pembaca tersendiri.
Cikarang Barat, akhir Juni 2017
Ibu Verawati- Guru Akuntansi SMKN 2 Cikarang
Oleh : Verawati, M.Pd
(Guru SMKN 2 Cikarang Barat)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H