Dan yang menjadi permasalahan adalah sejumlah bahan pakaian itu tidak mudah terurai secara alami seperti misalnya polyster dan nilon yang membutuhkan waktu 20 hingga 200 tahun untuk bisa terurai. Meski begitu ada juga pakaian yang bisa terurai secara alami yaitu bahan katun yang bisa terurai dalam hitungan Minggu hingga 5 bulan dan juga linen yang bisa terurai dalam waktu 2 minggu.
Lalu mengapa industri fashion berkembang dengan sangat pesat dan menjadi salah satu sektor yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan di bumi?. Mari kita bahas...
Yang melatarbelakangi hal tersebut sebenarnya yaitu peningkatan sifat konsumtif manusia terhadap pakaian dari waktu ke waktu. Hal tersebut semakin didukung oleh sangat murahnya harga baju di pasaran dan frekuensi masyarakat dalam membeli baju yang sebenarnya mirip-mirip dengan baju yang telah mereka miliki.
Berbagai fenomena tersebut ternyata memunculkan banyak merek fast fashion atau fashion cepat dan semakin banyaknya industri fashion di Indonesia yang secara perlahan-lahan sangat mempengaruhi gaya pakaian, terlebih lagi bagi para wanita.Â
Berbagai fenomena tersebutlah yang mendorong perilaku konsumtif dapat lahir dan berkembang dengan sangat subur tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Namun, mirisnya adalah terdapat banyak negara berkembang di Afrika dan Asia yang terpaksa membeli baju-baju second hand dari negara maju.
Indonesia sendiri termasuk ke dalam salah satu negara pengekspor tekstil ke berbagai negara. Tidak hanya perusahaan lokal, tetapi ekspor produk fashion tersebut juga disokong oleh banyaknya pabrik dari berbagai merek ternama di dunia yang menempatkan Indonesia sebagai penghasil produk yang mereka jual karena biaya produksi yang lebih rendah.Â
Produksi yang lebih rendah tersebut disebabkan oleh bonus demografi Indonesia yang menghasilkan lonjakan penduduk usia produktif yang sayangnya sebagian besar termasuk ke dalam tenaga kerja tidak terdidik maupun terlatih.Â
Penting untuk diketahui bahwa Industri fashion telah menjadi salah satu sektor yang memberikan dampak besar terhadap lingkungan dan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan tuntutan akan pakaian murah dan tren terbaru kerapkali mengabaikan dampak negatif yang dihasilkan, seperti polusi air dan udara, eksploitasi buruh, serta limbah tekstil yang tak terelakkan.Â
Namun, terdapat perusahaan yang memiliki tekad dan komitmen yang tinggi untuk mengubah paradigma negatif industri fashion. Salah satunya yaitu Royal Golden Eagle (RGE) yang merupakan sebuah perusahaan konglomerat yang memiliki portofolio bisnis yang mencakup berbagai industri seperti pulp dan kertas, energi, dan juga, fashion.Â