Lets’s begin with philosophy. Ihwal, segala hal pasti bersentuhan dengan filsafat. Begitu pun halnya dunia pertanian. Sekecil apapun itu. Kendati ranah yang satu ini punya korelasi dengan hajat hidup banyak orang.
Demikian bila menghela narasi seputar webinar KTNA Pertanian Natural Hortikultura yang diselenggarakan secara daring via aplikasi zoom tadi siang, Rabu (19/08/2020). Peserta webinar ini tak hanya diikuti oleh petani saja, melainkan juga praktisi bisnis, akademikus, politikus hingga mahasiswa. Semua pihak ikut berpartisipatif.
Yang membuat webinar ini lebih ‘hidup’, menurut saya, karena salah satu pematerinya adalah Kompasianer kenthir, Prof Felix Tani. Tentu saja ini pandangan subjektif penulis. Tapi setidaknya menurut Prof Felix, subjektif itu merupakan ciri anarkhisme. Bukan begitu, Prof? hihihi
Menarik, ketika dalam mengawali pemaparan materinya itu, beliau mengawinkan konsep pertanian ekologis (tani alami) dengan filsafat. Hal ini menurut saya relevan dengan kapasitas beliau sebagai Peneliti Pertanian Ekologis.
Saya mengikuti pembicaraan beliau dari awal hingga akhir. Hanya saja, beberapa kali penjelasan Prof Felix yang saya dengar sepotong-sepotong. Bukan karena suara beliau yang terbata-bata. Bukan. Tetapi karena koneksi jaringan internet Hp saya yang nauzubillah lelet buaanget.
Meski demikian, semangat saya tidak surut. Justru membuat saya semakin militan untuk mencari posisi sinyal yang bagus. Lebih tepatnya, loncat dari satu bukit ke bukit lain. Tersebab di sini jaringan susah minta ampun mama e.
“Tani alami; filsafat yang hidup dan yang menghidupi. Dari yang menguasai ke melayani alam” begitu kata Prof Felix di awal pemaparannya
Dalam penjelasan selanjutnya, Prof Felix juga mengutip pemikiran Masanobu Fukuoka (petani sekaligus filsuf Jepang) yang mengatakan bahwa, pertanian bukan saja soal teknologi melainkan cara pandang.
Ada satu hal yang menurut saya tak kalah inspiratif bila mencontohkan filosofi bertani ala Fukuoka yang berbasis natural dan/atau alami. Yakni, memulihkan alam dari kerusakan yang ditimbulkan oleh pengetahuan dan kegiatan manusia hingga memulihkan kembali relasi yang baik antar manusia dengan Tuhan.
Hal ini menurut saya relevan dengan tradisi tani orang Manggarai, Flores. Di mana ada goe’t (seloka) yang mengajarkan bahwa ‘neka tapa satar, neka poka puar’ (jangan membakar lahan dan menebang hutan). Pesan ini untuk menghindari kegiatan manusia yang berlebihan seraya tidak bertanggung jawab dalam mengolah alam.