Di Indonesia keberadaan Grab cukup diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat. Sebagaimana Grab berekspedisi ke Indonesia sejak tahun 2014 yang lalu dengan menyediakan taksi online. Setelah itu, layanan Grab memperlebarkan sayapnya dan berkembang menjadi penghantar manusia, makanan dan barang lainnya menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Sedini Indonesia menjadi mesin pertumbuhan terbesar ke-2 Grab setelah Singapura. Tinggi potensi market Indonesia dan baiknya penerimaan masyarakat membuat Grab akan membangun kantor pusatnya di Indonesia.
Grab sendiri sudah beroperasi hampir satu periode alias lima tahun di Negara kita. Layanan berbasis transportasi ini sudah hampir menjalar dan menggurita di beberapa kota-kota besar di Indonesia, seperti di Pulau Jawa, Bali dan Makasar. Tapi terkhusus di Indonesia Timur, sejauh pantauan saya belum dimasuki layanan transportasi berbasis online layaknya Grab, dan masih mengandalkan tranpostasi konvensional.
Tepatnya sebulan yang lalu (23 Oktober 2019), perwakilan Grab melawat ke kota saya, ke Labuan bajo, Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur. Tujuan dari kunjungan pihak Grab ini ke Labuan Bajo ialah masih sebatas untuk mensurvei lokasi dan melakukan pemetaan reksa wilayah.
Tapi sesekini, rupanya kehadiran Grab ke Labuan Bajo kurang disambut dengan kepala dingin oleh sekelompok orang (masyarakat) yang menamai dirinya sebagai pengemudi lokal. Saya sengaja menyebutnya sekelompok orang karena lebih dari pada itu mayoritas masyarakat Labuan Bajo bersepakat untuk menerima Grap beroperasi disini.
Alasan Menolak Grab
Mereka yang menamai dirinya sebagai pegemudi lokal ini memang secara terang-terangan menolak kehadiran Grab di Labuan Bajo.
"Secara mendasar kami menolak. Kehadiran Grab tidak mendistribusikan keadilan bagi kami, khsususnya pelaku (Pengemudi) lokal" begitu kata mereka seperti dilansir dari Floresa.co, disini.
Penolakan mereka terhadap kehadiran Grab di Labuan Bajo memang tidak main-main. Geliat penolakan mereka dipertebal dengan melakukan semacam demonstrasi dan atau orasi kecil-kecilan dihalaman Kantor Bupati, hingga bertemu langung dan berdiskusi dengan Bupati Gusti Dula di ruang kerjanya.
Hingga saat ini memang, pihak pemerintah Manggarai Barat sendiri sedang mempertimbangkan masuknya Grab di Labuan Bajo. Serta berusaha untuk mengedepankan aspek dialogis antara pihak-pihak yang bersitegang akibat berbeda kepentingan.
Tetapi memang, tidak semua masyarakat di Labuan Bajo menolak kehadiran Grab ini, termasuk saya sendiri. Jika menimang esensi dari pada Grab, seperti yang bisa dilihat bagaimana eksistensinya dibeberapa kota besar di Indonesia, sebenarnya Grab ini alat transportasi yang lebih 'santuy', lebih efesien dan tidak ribet serta tarifnya bisa terjangkaulah pokoknya.
Kebetulan penulis sendiri pernah menggunakan jasa Grab dan juga jasa transportasi online lainnya(Gojek) seketika dulu kuliah di Bali. Dan bila dibandingkan dengan transportasi lokal/ konvensional di Labuan Bajo, justru sangat berbeda dan bagusan layanan Grablah.
Saya juga tidak menyebut layanan transportasi konvensional/ lokal Yang sudah ada ini tidak baik. Hanya saja saya berpikiran bahwa, jika beralih ke jasa transportasi berbasis online seperti halnya Grab ini, toh saling mempermudah pelayanan. Baiknya pula, para pemudi lokal dan Grab secara bersama bersinergi untuk mempermudah pelayanan di dalam kota Labuan Bajo, kan enak tuh, iya gak?
Grab Sangat di Perlukan di Labuan Bajo
Sejauh ini memang pro dan kontra terkait beroperasinya Grab di Labuan Bajo masih sengit. Tapi saya pikir mayoritas masyarakat Labuan Bajo bersepakat untuk menyambut Grab. Wong mayoritas pelaku usaha hingga pelaku pariwisata saja banyak yang mendukung.
Fakta lain juga menyuguhkan bahwa, diera digital dan arus globalisasi yang begitu dasyat ini kita diajak untuk lebih peka dan bersikap permisif terhadap perubahaan yang ada, termasuk dengan menerima Grab ini sebagai kosekuensi logis dari pada kemajuan teknologi transportasi yang ada.
Terlebih-lebih Labuan Bajo yang sekarang sudah menjadi destinasi pariwisata unggulan atau yang lebih akrab kita dikenal sebagai wisata premium. Sebisanya kita masyarakat asli disini, harus bisa menyambut secara positif dengan kemajuan teknologi seperti Grab ini.
Wong kebanyakan pengunjung atau turis-turis yang kesini nantinya melek akan teknologi, dan kita dituntut paling tidak modern juga dalam pelayanan. Masak untuk ngojek saja harus ke pangkalan ojek dulu sih, dengan Grab kan mudah langsung pesen lewat aplikasinya dah kelar dan tunggu jumput aja.
Yang tak kalah pentingnya juga ialah, jangan sampai daerah kita tertinggal jauh dari daerah lainnya, hanya karena kakak-kakak sopir tidak mau belajar pakai teknologi baru. Kita semua diajak untuk berpikir dan bertindak maju, jangan malah menghambat. Salam!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI