Mohon tunggu...
G Tersiandini
G Tersiandini Mohon Tunggu... Lainnya - Mantan guru di sekolah internasional

Mantan guru, penikmat kuliner dan senang bepergian.

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Menyusuri Delta Mekong

12 Januari 2015   00:28 Diperbarui: 17 Juni 2015   13:21 73
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hari kedua di HCMC kami harus bangun pagi karena hari itu kami akan mengikuti “tour” menyusuri sungai Mekong. Bus akan menjemput pada jam 8 pagi, jadi kami harus selesai sarapan sebelum jam tersebut. Kami sarapan di sebuah restoran di dekat hotel yang sudah buka sejak jam 6:30. Setelah selesai sarapan, kami kembali ke hotel untuk menunggu bus yang akan menjemput kami.

Tepat pukul 8 pagi, jemputan datang dan kami segera berangkat menuju My Tho. Pada waktu itu jalanan yang harus kami lalui beberapa bagian masih jelek danada yang sedang dalam perbaikan sehingga perjalanan menuju My Tho terasa agak lama. Sesampai di My Tho kami harus menunggu perahu kayu yang akan membawa kami menyusuri sungai Mekong. Banyak juga wisatawan dari mancanegara yang mengambil paket “tour” menyusuri sungai Mekong melalui agen perjalanan yang berbeda-beda. Setelah sekitar seperempat jam menunggu, kami pun dipersilakan menaiki perahu kayu yang akan membawa kami menyusuri sungai.

[caption id="attachment_390104" align="aligncenter" width="300" caption="Perahu kayu yang digunakan untuk menyusuri sungai Mekong"][/caption]

[caption id="attachment_390105" align="aligncenter" width="300" caption="Kapal nelayan"]

14209694221004728392
14209694221004728392
[/caption]

Begitu semua penumpang dalam rombongan kami naik, kapal pun mulai bergerak menyusuri sungai Mekong. Tempat pertama yang kami tuju adalah Unicorn Island. Di sepanjang tepi sungai, kami dapat melihat pelabuhan nelayan dan jajaran rumah panggung milik penduduk lokal. Bagian dari rumah-rumah tersebut separuhnya berdiri di daratan dan separuhnya lagi berdiri di atas air. Tidak lama kemudian perahu kami mulai merapat di sebuah tempat dan kami harus turun karena kami akan dibawa ke peternakan lebah. Aduh, penulis tidak suka melihat lebah bergerombol karena saat kecil pernah disengat lebah jadi agak trauma. Namun, saat tiba di tempat peternakan lebah, kami tidak harus melihatnya. Penulis memilih untuk duduk saja di luar dan menikmati minuman yang disediakan. Di tempat itu ternyata juga terdapat minuman keras yang sudah dicampur dengan ular. Jadi kita dapat melihat ular-ular yang direndam dalam minuman keras di dalam botol. Geli juga melihatnya, tapi penulis ingin sekali untuk mencobanya. Namun, rasa geli yang penulis rasakan masih lebih besar dibanding dengan keinginan untuk mencoba, sehingga penulis batal mencobanya.

Dari sana, kami kemudian harus berjalan menuju sebuah desa. Di desa tersebut kami disuguhi berbagai macam buah-buahan tropis seperti rambutan, jambu air, manggis, nanas, dll. Hebat ya, mereka bisa mengemas hal-hal yang sederhana ini untuk menarik wisatawan. Tentu saja para wisatawan yang tidak berasal dari daerah tropis banyak yang belum pernah merasakan buah-buahan yang mereka suguhkan, namun buah-buahan tersebut dengan mudah dapat kita dapatkan di Indonesia (kalau sedang musim tentunya). Seandainya saja kita bisa meniru mereka, betapa banyak paket wisata yang bisa kita tawarkan pada wisatawan mancanegara. Negara kita lebih cantik dan kaya lho dibandingkan dengan mereka jadi banyak sekali hal yang dapat ditawarkan dan membuat wisawatan mancanegara berdecak kagum.

Saat menikmati buah-buahan tersebut, kami juga disuguhi musik tradisional Vietnam Selatan. Selesai menyantap buah-buahan, kami kemudian diminta untuk berjalan ke arah sungai. Rupanya kami akan menaiki perahu-perahu kecil menyusuri delta Mekong. Rombongan kami dibagi dalam beberapa kelompok. Satu perahu dapat dinaiki oleh 4 wisatawan. Sebelum perahu mulai didayung kami tidak diperbolehkan untuk memegang tepi/bibir perahu. Agak aneh juga peringatan tersebut. Setelah tahu mengapa, barulah kami paham kenapa kami tidak boleh memegang bagian tepi/bibir perahu. Rupanya perahu-perahu ini jalannya memang cepat dan setiap kali berpapasan dengan perahu lain mereka bersenggolan. Jadi jelaslah jika kita berpegangan pada bibir/tepi perahu saat perahu yang kita tumpangi bersenggolan dengan perahu lain tentu jari tangan kita akan terluka atau bahkan mungkin bisa patah.

[caption id="attachment_390106" align="aligncenter" width="300" caption="Perahu kecil"]

1420969480262455491
1420969480262455491
[/caption]

[caption id="attachment_390107" align="aligncenter" width="300" caption="Mengantri untuk merapat"]

14209695232065113872
14209695232065113872
[/caption]

Di sepanjang jalan kita dapat melihat pohon-pohon kelapa. Namun pohon-pohon kelapa ini berbeda dengan pohon-pohon kelapa yang biasa kita lihat di tepi pantai di Indonesia. Pohonnya lebih pendek dan daunnya banyak, lebih mirip pohon palem dengan daun yang besar-besar. Buahnya pun berbeda. Selain itu kita juga melewati rumah-rumah penduduk. Perahu melaju di delta sungai dan membawa kami menuju sungai yang besar dimana kami harus kembali naik ke perahu kayu yang lebih besar. Saat perahu kecil merapat di perahu besar, pengemudi perahu mengatakan sesuatu dalam bahasa Vietnam yang tidak kami mengerti. Namun, saat dia menadahkan tangan, tahulah kami kalau dia mengharapkan bayaran. Kami pun memberinya uang sekedarnya.

[caption id="attachment_390109" align="aligncenter" width="300" caption="Kanal di delta Mekong"]

1420969715889701942
1420969715889701942
[/caption]

[caption id="attachment_390110" align="aligncenter" width="300" caption="Pohon kelapa"]

14209697621364847792
14209697621364847792
[/caption]

Perahu besar ini kemudian membawa kami melewati kanal yang akan membawa kami menuju sebuah pabrik permen. Permen ini terbuat dari kelapa. Kami disuguhi permen kelapa tersebut, tapi penulis tidak tertarik karena penulis tidak suka kelapa atau santan. Di tempat itu juga dijual permen-permen yang sudah dikemas.

Setelah melihat proses pembuatan permen dari kelapa tersebut, kami melanjutakan perjalanan menyusuri delta. Kami akan menuju sebuah restoran untuk makan siang. Restoran yang kami singgahi berada di sebuah desa yang hjau dan teduh. Wisatawan dapat berjalan kaki atau naik sepeda yang disediakan untk mengelilingi desa. Sesampai di restoran, kami segera disuguhi makanan khas Vietnam Selatan. Selesai menyantap makan siang, beberapa wisatawan mengendarai sepeda serta ada juga yang berjalan kaki untuk melihat-lihat desa tersebut. Ada juga wisatawan yang tiduran di hammock sambil menikmati semilirnya angin.

[caption id="attachment_390111" align="aligncenter" width="300" caption="Menyusuri delta Mekong"]

14209698571497780154
14209698571497780154
[/caption]

Sekitar jam 3 sore kami diminta untuk berkumpul di restoran. Rombongan kami dibagi lagi menjadi tiga kelompok, mereka yang akan kembali ke Ho Chi Minh City naik bus; mereka yang akan kembali ke Ho Chi Minh City naik kapal cepat dan mereka yang akan menginap di kawasan Mekong. Mengingat kami akan kembali ke HCMC mengedarai bus, kami diminta untuk kembali ke perahu kayu dan kembali ke My Tho.

Mendung cukup tebal saat kami kembali ke My Tho. Sesampai di My Tho kami harus menunggu kedatangan bus kami. Hujan pun mulai turun rintik-rintik. Saat bus kami tiba, hujan turun semakin deras. Bus membawa kami menuju Ho Chi Minh City. Tiba di HCMC hari sudah gelap, sekitar jam 7:30 malam. Perut sudah mulai bernyanyi. Kami memutuskan untuk pergi ke sebuah restoran Italia yang ada di perempatan jalan menuju hotel kami. Saat makanan tiba kami segera melahap makanan tersebut yang ternyata sangat enak.

Selesai makan kami kembali ke hotel untuk mebersihkan diri dan beristirahat karena keesokan harinya kami harus pergi ke Nha Trang, jadi kami harus mengumpulkan kembali tenaga kami untuk perjalanan selanjutnya.

Gmt11012015

Sumber foto: milik pribadi

Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun