Budi: "Saya marah ke staf saya, karena saya tadi dimarahin Pak Chandra. Kalau Pak Chandra tadi negur baik-baik, saya juga tidak akan marah-marah ke staf saya."
Kejadian seperti ini, sering terjadi. Kita bisa melihat kekurangan orang lain, tapi kita tidak bisa melihat kekurangan diri sendiri. Kita tidak mau menerima perlakuan orang lain yang menurut kita tidak baik, tapi kita juga melakukan hal yang sama kepada orang lain. Kita sering lupa bercermin.
Cobalah setiap malam hari, menjelang tidur, kita merenung sejenak. Mengingat kembali apa yang sudah kita lakukan hari ini, sejak pagi sampai malam hari. Analisa, berapa banyak hal baik, dan berapa banyak hal buruk yang sudah kita lakukan.
Jika ada hal buruk, akuilah itu sebagai perbuatan yang buruk. Tidak perlu malu mengakuinya, karena kita hanya mengaku pada diri sendiri. Lihatlah apa yang tidak baik, sebagai tidak baik. Jangan melakukan pembelaan: "Tadi saya marah, karena boss yang marah duluan."
Akuilah kalau kita sudah marah-marah, dan itu kurang baik. Dengan mengakui ketidakbaikan sebagai ketidakbaikan, kita telah melakukan hal yang baik. Mengapa demikian? Kalau kita menyadari itu sebagai hal yang tidak baik, kita akan membangkitkan keinginan untuk tidak melakukannya lagi. Tapi kalau kita menganggap marah-marah tadi itu sebagai hal yang benar (karena kita sudah dimarahi duluan oleh orang lain), maka tertutuplah pintu bagi kita untuk menuju perbaikan sikap.
Bercerminlah, lihatlah perbuatan kita sendiri.
**
Jakarta, 23 Juni 2022
Penulis: Silakumaro Tonny Coason
Jadikan Hidup Lebih Bermakna
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H